السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ

بِسْــــــــــــــــــمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ
Tampilkan postingan dengan label Ceritaku. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Ceritaku. Tampilkan semua postingan

Rabu, 27 Desember 2017

PEGAWAI KERAJAAN YANG BIJAKSANA

Alkisah ada seorang raja lalim yang sudah tua. Sang raja membangun sebuah gua di dalam istana untuk menghukum semua orang yang dianggap tidak setia. Segala binatang buas ditempatkan di sana. Siapa saja yang membuat sang raja murka, tiada lain akan ditimpakan hukuman, dimasukkan ke dalam gua tersebut.

Tersebutlah seorang yang pegawai yang bijaksana, adil dan cerdas. Ia telah lama mengabdi pada keluarga kerajaan. Walau selalu setia, mengabdi tanpa kenal lelah, toh ia selalu merasa was-was, khawatir kejadian buruk akan menimpa. Dengan kecerdasan yang mengagumkan, ia berpikir bagaimana mempertahankan hidupnya dari tindakan raja yang sewnang-wenang.

Akhirnya ia menemukan jawaban. Saat malam. Ketika semua orang telah terbua oleh mimpi masing-masing, sang pegawai pergi ke gua dengan membawa makanan-makanan dan memberikannya pada binatang-binatang yang ada di sana. Perbuatan itu, ia lakukan dengan hati-hati agar tidak seorang pun orang istana yang mengetahuinya. Setiap malam pekerjaan itu ia lakukan, hingga menjadi kebiasaan. Dan binatang-binatang di dalam gua itu selalu menunggu kedatangan si pegawai. Mereka merasa senang jika si pegawai datang dengan membawa makanan-makanan, mereka pun enggan menyakiti tubuh orang yang dermawan itu.

Kemudian suatu saat sang raja mengincar kematiannya. Dengan berbagai cara sang raja mencari kesalahan pegawai itu. Dan kemudian di hukum dimasukkan ke dalam gua bersama anjing-anjing dan binatang lainnya yang kelaparan.

Pagi berikutnya, tanpa merasa bersalah atas tindakan yang sewenang-wenang, raja mengirim utusan untuk melihat ke dalam gua. Sang raja berpikir pegawai itu pastilah telah dimakan anjing yang kelaparan.

Namun betapa takjub utusan raja, kala menemui pegawai kerajaan yang bijak itu masih dalam kadaan hidup, segar-bugar. Sang utusan segera bergegas meninggalkan gua utnuk melaporkan apa yang ia lihat. 

“Wahai paduka raja! Kebijakannya telah teruji, ia seperti malaikat yang diberkati, dan Allah melindungi hidupnya dari amarabahaya. Ia tidak disentuh oleh binatang-binatang, meskipun diikat kuat. Aku melihatnya bersama dengan anjing-anjing yang jinak disekelilingnya.”

Raja merasa heran dengan kejadian ajaib ini. Ia ingin melihat sendiri keanehan itu. Di dalam gua, ia melihat sang pegawai yang tidak bersalah itu terikat kuat, dalam keadaan sehat dan aman. Lalu raja bertanya,

“Mantra apa yang engkau rapalkan, hingga selamat dari cengkraman binatang-binatang buas itu?”

“Aku tidak mempunyai mantra untuk diucapkan. Aku hanya memberi makan anjing-anjing itu setiap hari. Untuk mengungkapkan rasa terima kasih, mereka membalas dengan menyelematkanku dari musuh-musuh yang kejam. Sementara aku telah mengabdi kepadamu selama bertahun-tahun, dan sebagai ganjarannya engakau mengirimku ke mari! Anjing saja punya perasaan, sedang engkau sama sekali tidak memiliki perasaan. Seekor anjing akan berterima kasih jika diberi sepotong tulang. Namun engkau dengan sepenuh darah, sama sekali tidak pernah berterima kasih.”

Sang raja merasa malu, dan menyadari kekejamannya dan berjanji akan mengubah perilaku buruknya.

Share:

Rabu, 08 November 2017

NENEK PEMUNGUT DAUN

Dahulu di sebuah kota di Madura, ada seorang nenek tua penjual bunga cempaka. Ia menjual bunganya di pasar, setelah berjalan kaki cukup jauh. Usai jualan, ia pergi ke masjid Agung di kota itu. Ia berwudhu, masuk masjid, dan melakukan salat Zhuhur.

Setelah membaca wirid sekedarnya, ia keluar masjid dan membungkuk-bungkuk di halaman masjid. Ia mengumpulkan dedaunan yang berceceran di halaman masjid. Selembar demi selembar dikaisnya. Tidak satu lembar pun ia lewatkan. Tentu saja agak lama ia membersihkan halaman masjid dengan cara itu. Padahal matahari Madura di siang hari sungguh menyengat. Keringatnya membasahi seluruh tubuhnya.

Banyak pengunjung masjid jatuh iba kepadanya. Pada suatu hari Takmir masjid memutuskan untuk membersihkan dedaunan itu sebelum perempuan tua itu datang. Pada hari itu, ia datang dan langsung masuk masjid. Usai salat, ketika ia ingin melakukan pekerjaan rutinnya, ia terkejut. Tidak ada satu pun daun terserak di situ. Ia kembali lagi ke masjid dan menangis dengan keras. Ia mempertanyakan mengapa daun-daun itu sudah disapukan sebelum kedatangannya. Orang-orang menjelaskan bahwa mereka kasihan kepadanya. "Jika kalian kasihan kepadaku," kata nenek itu, "Berikan kesempatan kepadaku untuk membersihkannya.

Singkat cerita, nenek itu dibiarkan mengumpulkan dedaunan itu seperti biasa. Seorang kiai terhormat diminta untuk menanyakan kepada perempuan itu mengapa ia begitu bersemangat membersihkan dedaunan itu. Perempuan tua itu mau menjelaskan sebabnya dengan dua syarat: pertama, hanya Kiai yang mendengarkan rahasianya; kedua, rahasia itu tidak boleh disebarkan ketika ia masih hidup.
Sekarang ia sudah meniggal dunia, dan Anda dapat mendengarkan rahasia itu. "Saya ini perempuan bodoh, pak Kiai," tuturnya. "Saya tahu amal-amal saya yang kecil itu mungkin juga tidak benar saya jalankan. Saya tidak mungkin selamat pada hari akhirat tanpa syafaat Kanjeng Nabi Muhammad. Setiap kali saya mengambil selembar daun, saya ucapkan satu salawat kepada Rasulullah. Kelak jika saya mati, saya ingin Kanjeng Nabi menjemput saya. Biarlah semua daun itu bersaksi bahwa saya membacakan salawat kepadanya."

Kisah ini saya dengar dari Kiai Madura, D. Zawawi Imran, membuat bulu kuduk saya merinding. Perempuan tua dari kampung itu bukan saja mengungkapkan cinta Rasul dalam bentuknya yang tulus. Ia juga menunjukkan kerendahan hati, kehinaan diri, dan keterbatasan amal dihadapan Alloh swt. Lebih dari itu, ia juga memiliki kesadaran spiritual yang luhur: Ia tidak dapat mengandalkan amalnya. Ia sangat bergantung pada rahmat Alloh. Dan siapa lagi yang menjadi rahmat semua alam selain Rasululloh saw?
Share:

JASA DAN KETULUSAN SEORANG IBU

seorang pemuda ingin melamar pekerjaan sebagai manajer di perusahaan besar.

~Interview dengan Direktur~

Direktur :"setelah saya lihat,kamu anak yang pintar"
Pemuda :"Terimakasih pak"
Direktur :"siapa yang membiayai mu sekolah?"
Pemuda :"Ibu saya,karna ayah saya sudah meninggal"
Direktur :"Dimana Ibumu bekerja?"
Pemuda :"Ibu saya bekerja sebagai tukang cuci"
Direktur :"Coba saya lihat tanganmu!"
Pemuda :"ini pak"(menunjukan tangannya yg lembut dan halus)
Direktur :"Apa kamu pernah membantu ibumu?"
Pemuda :"tidak,Ibu hanya ingin saya belajar dan membaca banyak buku"
Direktur :"saya memiliki permintaan.Ketika kamu pulang,kamu cuci tangan Ibumu,kemudian temui saya esok hari"

Si pemuda itu pulang,ketika di rumah dia meminta ibunya untuk membiarkan dirinya membersihkan tangan Ibunya.Berlahan air matanya tumpah,dia merasakan tangan ibunya yang kasar,berkerut,dan banyak luka.

Si pemuda sadar Luka di tangan ibunya merupakan harga yng harus dibayar ibunya untuk pendidikannya. Kemudian dia mencuci baju seperti yg dilakukan ibunya. Dia merasakan betapa susahnya pekerjaan yg dilakukan ibunya seorang diri,tanpa mau di bantu oleh dirinya.

~Ke esokan Hari~

Direktur :"Bagaimana?Apa sudah kamu penuhi permintaanku?"
Pemuda :"Sudah pak"
Direktur :"Coba ceritakan?"
Pemuda :"saya membersihkan tangan ibu saya,saya juga mencuci baju.Akhirnya saya mengerti pengorbanan ibu saya. tanpa ibu,saya tidak akan menjadi seperti ini.
Direktur :"Inilah yang saya cari dalam diri Manajer.Seseorang yang mengetahui penderitaan orang lain ketika mengerjakan sesuatu,dan seseorang yg tidak menempatkan uang sebagai tujuan utama dari hidup. Selamat kamu di terima"
Pemuda :"terima kasih pak"

Subhanallah,begitu besar perjuangan seorang ibu,dia mau melakukan apapun demi kebahagiaan anaknya.

Cerita ini disadur dari sebuah postingan Facebook.
Share:

Senin, 23 Oktober 2017

BELAJAR MEMAHAMI PADA SECANGKIR KOPI



Ayah : Nak, tolong buatkan kopi dua gelas untuk kita berdua, tapi gulanya jangan engkau tuang dulu, bawa saja ke mari beserta wadahnya.

Anak : Baik, ayah.

Tidak berapa lama, anaknya sudah membawa dua gelas kopi yang masih hangat dan gula di dalam wadahnya beserta sendok kecil.

Ayah : Cobalah kamu rasakan kopimu nak. Bagaimana rasanya?

Anak : Rasanya sangat pahit sekali ayah.

Ayah : Tuangkanlah sesendok gula, aduklah, bagaimana rasanya?

Anak : Rasa pahitnya sudah mulai berkurang, ayah.

Ayah : Tuangkanlah sesendok gula lagi, aduklah, bagaimana rasanya?

Anak : Rasa pahitnya sudah berkurang banyak, ayah.

Ayah : Tuangkanlah sesendok gula lagi, aduklah, bagaimana rasanya?

Anak : Rasa manis mulai terasa tapi rasa pahit juga masih sedikit terasa, ayah.

Ayah : Tuangkanlah sesendok gula lagi, aduklah, bagaimana rasanya?

Anak : Rasa pahit kopi sudah tidak terasa, yang ada rasa manis, yah.

Ayah : Tuangkanlah sesendok gula lagi, aduklah, bagaimana rasanya?

Anak : sangat manis sekali, ayah.

Ayah : Tuangkanlah sesendok gula lagi, aduklah, bagaimana rasanya?

Anak : Terlalu manis. Malah tidak enak, yah.

Ayah : Tuangkanlah sesendok gula lagi, aduklah, bagaimana rasanya?

Anak : Rasa kopinya jadi tidak enak, lebih enak saat ada rasa pahit kopi dan manis gulanya sama-sama terasa, ayah.

Ayah : Ketahuilah nak.. pelajaran yang dapat kita ambil dari contoh ini adalah.. jika rasa pahit kopi ibarat kemiskinan hidup kita, dan rasa manis gula ibarat kekayaan harta, lalu menurutmu kenikmatan hidup itu sebaiknya seperti apa nak?

Sejenak sang anak termenung, lalu menjawab.

Anak : Ya ayah, sekarang saya mulai mengerti, bahwa kenikmatan hidup dapat kita rasakan, jika kita dapat merasakan hidup secukupnya, tidak melampaui batas. Terimakasih atas pelajaran ini, ayah.

Ayah : Ayo anakku, kopi yg sudah kamu beri gula tadi, campurkan dengan kopi yang belum kamu beri gula, aduklah, lalu tuangkan dalam kedua gelas ini, lalu kita nikmati segelas kopi ini.

Sang anak lalu mengerjakan perintah ayahnya.

Ayah : Bagaimana rasanya?

Anak : Rasanya nikmat sekali, ayah.

    Begitu pula jika engkau memiliki kelebihan harta, akan terasa nikmat bila engkau mau membaginya dengan orang-orang yang kekurangan.
Share:

Selasa, 10 Oktober 2017

SANTRI DAN AQUARIUM


Seorang santri sedang membersihkan aquarium Kyainya, ia memandang ikan arwana agak kebiruan dengan takjub.
Tak sadar Kyainya sudah berada di belakangnya.. "Kamu tahu berapa harga ikan itu?". Tanya sang Kyai.

"Tidak tahu". Jawab si Santri..

"Coba tawarkan kepada tetangga sebelah!!". Perintah sang Kyai.

Ia memfoto ikan itu dan menawarkan ke tetangga..
Kemudian kembali menghadap sang Kyai. .
"Ditawar berapa nak?" tanya sang Kyai. .
"50.000 Rupiah Kyai". Jawab si Santri mantap..

"Coba tawarkan ke toko ikan hias!!". Perintah sang Kyai lagi..

"Baiklah Kyai". Jawab si santri. Kemudian ia beranjak ke toko ikan hias..

"Berapa ia menawar ikan itu?". Tanya sang kyai..

"800.000 Rupiah Kyai". Jawab si santri dengan gembira, ia mengira sang Kyai akan melepas ikan itu.

"Sekarang coba tawarkan ke Si Fulan, bawa ini sebagai bukti bahwa ikan itu sudah pernah ikut lomba". Perintah sang Kyai lagi..

"Baik Kyai". Jawab si Santri. Kemudian ia pergi menemui si Fulan yang dikatakan gurunya. Setelah selesai, ia pulang menghadap sang guru.

"Berapa ia menawar ikannya?".
.
"50 juta Rupiah Kyai".

Ia terkejut sendiri menyaksikan harga satu ikan  yang bisa berbed-beda..

"Nak, aku sedang mengajarkan kepadamu bahwa kamu hanya akan dihargai dengan benar ketika kamu berada di lingkungan yang tepat..". Kita semua adalah orang biasa dalam pandangan orang-orang yang tidak mengenal kita.

وَكُلُّنَا اَشْخَاصٌ رَائِعُوْنَ فِى نَظْرِ مَنْ يَفْهَمُنَا
Kita adalah orang yang menarik di mata orang yang memahami kita.

وَكُلُّنَا اَشْخَاصٌ مُمَيِّزُوْنَ فِى نَظْرِ مَنْ يُحِبُّنَا
Kita istimewa dalam penglihatan orang-orang yang mencintai kita.

وَكُلُّنَا اَشْخَاصٌ مَغْرُوْرُوْنَ فِى نَظْرِ مَنْ يَحْسُدُنَا

Kita adalah pribadi yang menjengkelkan bagi orang yang penuh kedengkian terhadap kita.

وَكُلُّنَا اَشْخَاصٌ سَيِّئُوْنَ فِى نَظْرِ مَنْ يَحْقِدُ عَلَيْنَا

Kita adalah orang-orang jahat di dalam tatapan orang-orang yang iri akan kita.

لِكُلِّ شَخْصٍ نَظْرَتُهُ، فَلاَ تَتْعَبْ نَفْسَكَ لِتُحْسِنَ عِنْدَ الآخَرِيْنَ

Pada akhirnya, setiap orang memiliki pandangannya masing masing, maka tak usah berlelah-lelah agar tampak baik...

Tapi berusahalah terus melakukan kebaikan dan menjalankan apapun dengan keikhlasan.

Share:

Selasa, 19 September 2017

HANDUK BASAH DI ATAS KASUR



Seorang isteri memiliki suami yang punya kebiasaan meletakan handuk basah begitu saja di atas kasur.

Si isteri sering ngomel-ngomel pada suaminya. Suaminya tak berubah.

Capek marah-marah, si istri mulai ganti cara dengan menyindirnya. “Bagus sekali ada handuk basah di tempat tidur!” ujarnya dengan suara sinis.  Atau, “Kapan handuk bisa jalan sendiri ke jemuran?”

Apakah suaminya berubah? Big No! Bahkan makin sebel sama si isteri.

Akhirnya si isteri merasa capek, marah sudah, nyindir sudah, tapi tak ada hasilnya.

Mengubah orang lain susah, apalagi untuk hal yang sudah jadi kebiasaan sejak kecil. akhirnya ia mengubah pikirannya sendiri.

“Baiklah, handuk basah ini akan menjadi permadani di surga nanti. Makin banyak aku memindahkan handuk basah ke jemuran, makin banyak permadani indahku di surga.”

Setiap melihat handuk basah di kasur si isteri tersenyum dan bergegas menjemurnya. Perasaannya bahagia.

Apakah handuknya berubah? Tidak! Handuk basah tetap ada di kasur. Yang berubah cara pandang dirinya terhadap handuk basah tersebut.

Waktu berlalu…

Si isteri kaget. Tak ada lagi handuk basah di kasurnya. Ia sudah lupa sejak kapan ia tak lagi melakukannya.

Rupanya melihat keikhlasan istrinya sang suami tergerak untuk melakukannya sendiri.
Kadang ada hal yang sulit kita ubah pada orang lain. Jika ingin hasil yang lebih baik, maka ubahlah diri kita lebih dulu.

Bahagia, sedih, syukur, mengeluh, semua adalah tergantung diri kita. Kitalah yang memilih.

Share:

Rabu, 13 September 2017

SEORANG DAN PELUKIS BIJAK

Ramai soal kafir dan dalih juga dalil yang berjubel di media sosial, mengingatkanku pada sebuah kisah tentang seorang Raja dengan kondisi mata ciri sebelah.

Suatu hari sang raja mengundang beberapa pelukis terkenal untuk membuatkan lukisan wajahnya dalam sebuah sayembara. Mereka akan mendapat hadiah jika lukisan yang dihasilka bagus, dan akan dimasukkan penjara jika dinilai gagal. Tak ayal banyak para pelukis yang mundur, hanya ada 3 orang tersisa yang menyanggupinya.

Majulah pelukis pertama, dengan sigap ia melukis wajah sang raja. Tak lama lukisan pun berhasil diselesaikan.

“Lukisan macam apa ini..!!” tegas sang raja, “bagaimana bisa melukiskan wajah rajamu dengan mata ciri begitu..!!

Rupanya sang pelukis dinyatakan gagal, karena melukis wajah raja apa adanya sehingga dianggap melakukan sikap tidak pantas terhadap raja. Maka dimasukkanlah ia jalam jeruji penjara.

Kemudian tiba giliran pelukis kedua. Dengan sedikit rasa tegang ia melukis wajah sang raja, dan tak lama akhirnya lukisan pun berhasil diselesaikan.

“Beraninya kau..!! pekik sang raja, “apa maksud melukis wajahku dengan keadaan mata sempurna..!?” tegasnya.

Pelukis kedua dianggap telah berlaku tidak jujur yang dengan berani memanipulasi wajah sang raja seolah sempurna tanpa cacat mata. Maka kurungan penjara yang lebih berat ditimpakan bagi pelukis kedua.

Tibalah giliran pelukis ketiga. Dengan tenang ia melukis wajah sang raja. Setelah selesai, lukisan itu pun dihadapkan sang raja.

“Ini adalah lukisan terbaik yang pernah ada.” puji sang raja kepada pelukis ketiga. “Kau berhak memperoleh hadiah besar dari raja!!” pungkasnya.

Sang pelukis ketiga berhasil melukis wajah sang raja, dan ia pun memperoleh hadiah yang besar. Rupanya sang pelukis dengan begitu brilian melukiskan wajah sang raja yang dengan gagah seolah sedang memincingkan mata sebelahnya saat memanah.

Begitulah akhlak dan kebijaksanaan.
Ketika jujur tidak cukup dan berbohong itu buruk, maka akhlak dan kebijaksanaan dibutuhkan. Begitupun dalam hidup bermasyarakat dan bernegara.


Tulisan ini diambil dari situs Islam.co
Share:

Selasa, 25 April 2017

KISAH SEORANG RAJA DAN DOA ISTIGHASAH

Di Arab Saudi, terdapat raja yang pernah mengundang para ulama. Ada satu hal yang ingin ia tanyakan kepada mereka, namun jawabannya diharapkan sesuai dengan keinginan paduka raja.

Hingga pada saat yang ditentukan, para ulama dihadapkan kepada raja, kemudian ditanya satu persatu.

“Bagaimana hukumnya istighotsah (meminta pertolongan) kepada mayit?” begitu pertanyaan raja.

Di antara ulama-ulama yang hadir, semua tahu bahwa yang dikehendaki raja adalah jawaban “syirik“. Dan para ulama juga menjawab dengan kalimat senada “syirik”. Namun dalam hati mereka menjawab lebih lanjut, “indaka“. Artinya ulama menjawab “Iya, meminta pertolongan kepada mayit itu syirik (menurut anda)”. Mereka menjawab demikian karena ada intimidasi akan dibunuh, dan ternyata ancaman itu berhasil membuat lisan dzahir ulama mengatakan sesuai harapan. Dengan jawaban tadi, raja menjadi gembira.

Sampai pada waktu giliran Syaikh Abdullah Asy Syinqithy dihadapkan pada baginda raja kemudian ditanya “Bagaimana pendapat anda tentang hukum istighatsah kepada mayit?”

Sembari mempersiapkan kain kafan yang telah dibawa oleh Asy Syinqithy dari rumah, ia kemudian menjawab “Hadza kafani” Ini adalah kafanku.

“Lho, kenapa kau menjawab seperti itu?”

“Iya raja, saya sudah persiapkan ini. Jika paduka ingin membunuh hamba, hamba persiapkan kafan hamba dari rumah”

“Tidak, tidak, maksud anda bagaimana?”

“Iya raja, aku yakin bahwa jawabanku akan menimbulkan hukuman mati kepadaku”

“Memang, jawaban apa yang ingin anda sampaikan?”

“Hukum istighatsah kepada mayit bahkan bisa menjadi wajib”

“Lho, kok bisa begitu, bagaimana?”

“Iya, saat kita shalat, kita disyari’atkan untuk menyampaikan shalawat kepada Rasulullah Muhammad SAW. Itu hukumnya wajib. Apa yang diharapkan oleh orang yang shalawat selain mengharap syafa’aat?. Nah, Rasulullah itu sudah wafat, tapi kita setiap shalat diharuskan bershalawat kepadanya. Bukankah itu tidak mengharap sesuatu kepada mayit?’

Rajapun kalah dengan argumentasi ini. Namun, Syaikh Asy Syinqithy tidak dibunuh. Ia hanya disuruh pergi dari negara Arab dengan diberi uang saku yang cukup.

Disarikan dari Mauidzah KH Thoifur Mawardi dalam acara Haul Masyayikh Pesantren Al Muayyad Mangkuyudan, Surakarta.

Share:

Rabu, 19 April 2017

ABU YAZID AL-BUSTHAMY DAN ANJING

Suatu malam, Abu Yazid Al-Busthomi sedang berjalan sendirian. Lantas ia melihat seekor anjing berjalan ke arahnya. Anjing itu cuek saja jalan, tidak menghiraukannya. Namun ketika jarak anjing itu makin dekat dan akan berpapasan dengannya, Al-Busthomi mengangkat gamisnya, khawatir tersentuh anjing yang najis itu.

Spontan anjing itu berhenti dan memandangnya. Entah bagaimana Abu Yazid seperti mendengar anjing itu berkata padanya,

“Tubuhku kering dan tidak akan menyebabkan najis padamu. Bila pun engkau merasa terkena najis, engkau tinggal basuh 7x dengan air dan tanah, maka najis di tubuhmu itu akan hilang. Namun jika engkau mengangkat gamismu karena menganggap dirimu yang berbaju badan manusia lebih mulia, dan menganggap diriku yg berbadan anjing ini najis dan hina, maka najis yang menempel di hatimu itu tidak akan bersih walau kau basuh dengan 7 samudera”.

Abu Yazid tersentak dan minta maaf. Lalu sebagai permohonan maafnya dia mengajak anjing itu untuk bersahabat dan berjalan bersama. Tapi si anjing itu menolaknya.

“Engkau tidak pantas berjalan denganku. Mereka yg memuliakanmu akan mencemoohmu dan melempari aku dengan batu. Aku tidak tahu mengapa orang-orang menganggapku begitu hina, padahal aku berserah diri pada Sang Pencipta wujud ini. Lihatlah, aku juga tidak menyimpan dan membawa sepotong tulang pun, sedangkan engkau masih menyimpan sekarung gandum.”

Lalu anjing itu pun berjalan meninggalkan Abu Yazid. Abu Yazid masih terdiam, “Duh Gusti, untuk berjalan dengan seekor anjing ciptaan-MU saja aku tak pantas. Bagaimana aku merasa pantas berjalan dengan-MU, ampuni aku dan sucikan hatiku dr najis, Ya Allah.”

Tulisan ini diambil sebagai koleksi lihat di sini
Share:

Rabu, 02 November 2016

MBAH JUM

Oleh : Irene Radjiman

Begitulah beliau dipanggil. Aku sempat bertemu dengannya 5 tahun yang lalu saat berlibur di Kasian Bantul Yogyakarta. Nama desanya saya lupa.

Mbah Jum seorang tuna netra yang berprofesi sebagai pedagang tempe. Setiap pagi beliau dibonceng cucunya ke pasar untuk berjualan tempe. Sesampainya dipasar tempe segera digelar. Sambil menunggu pembeli datang, disaat pedagang lain sibuk menghitung uang dan ngerumpi dengan sesama pedagang, mbah Jum selalu bersenandung sholawat. Cucunya meninggalkan mbah Jum sebentar, karena ia juga bekerja sebagai kuli panggul dipasar itu. Dua jam kemudian, cucunya datang kembali untuk mengantar simbahnya pulang kerumah. Tidak sampai 2 jam dagangan tempe mbah Jum sudah habis ludes. Mbah Jum selalu pulang paling awal dibanding pedagang lainnya. Sebelum pulang mbah Jum selalu meminta cucunya menghitung uang hasil dagangannya dulu. Bila cucunya menyebut angka lebih dari 50 ribu rupiah, mbah Jum selalu minta cucunya mampir ke masjid untuk memasukkan uang lebihnya itu ke kotak amal.

Saat kutanya : “kenapa begitu ?”

“karena kata simbah modal simbah bikin tempe Cuma 20 ribu. Harusnya simbah paling banyak dapetnya yaa 50 ribu. Kalau sampai lebih berarti itu punyanya gusti Allah, harus dikembalikan lagi. Lha rumahnya gusti Allah kan dimasjid mbak, makanya kalau dapet lebih dari 50 ribu, saya diminta simbah masukkin uang lebihnya kemasjid.”

“Lho, kalo sampai lebih dari 50 ribu, itukan hak simbah, kan artinya simbah saat itu bawa tempe lebih banyak to ?” Tanyaku lagi

“Nggak mbak. Simbah itu tiap hari bawa tempenya ga berubah-ubah jumlahnya sama.” Cucunya kembali menjelaskan padaku.
“Tapi kenapa hasil penjualan simbah bisa berbeda-beda ?” tanyaku lagi

“Begini mbak, kalau ada yang beli tempe sama simbah, karena simbah tidak bisa melihat, simbah selalu bilang, ambil sendiri kembaliannya. Tapi mereka para pembeli itu selalu bilang, uangnya pas kok mbah, ga ada kembalian. Padahal banyak dari mereka yang beli tempe 5 ribu, ngasih uang 20 ribu. Ada yang beli tempe 10 ribu ngasih uang 50 ribu. Dan mereka semua selalu bilang uangnya pas, ga ada kembalian. Pernah suatu hari simbah dapat uang 350 ribu. Yaaa 300 ribu nya saya taruh dikotak amal masjid.” Begitu penjelasan sang cucu.

Aku melongo terdiam mendengar penjelasan itu. Disaat semua orang ingin semuanya menjadi uang, bahkan kalau bisa kotorannya sendiripun disulap menjadi uang, tapi ini mbah Jum…?? Aahhh…. Logikaku yang hidup di era kemoderenan jahiliyah ini memang belum sampai.

Sampai rumah pukul 10:00 pagi beliau langsung masak untuk makan siang dan malam. Ternyata mbah Jum juga seorang tukang pijat bayi (begitulah orang dikampung itu menyebutnya). Jadi bila ada anak-anak yang dikeluhkan demam, batuk, pilek, rewel, kejang, diare, muntah-muntah dan lain-lain, biasanya orang tua mereka akan langsung mengantarkan ke rumah mbah Jum. Bahkan bukan hanya untuk pijat bayi dan anak-anak, mbah Jum juga bisa membantu pemulihan kesehatan bagi orang dewasa yang mengalami keseleo, memar, patah tulang, dan sejenisnya. Mbah Jum tidak pernah memberikan tarif untuk jasanya itu, padahal beliau bersedia diganggu 24 jam bila ada yang butuh pertolongannya. Bahkan bila ada yang memberikan imbalan untuk jasanya itu, ia selalu masukan lagi 100% ke kotak amal masjid. Ya ! 100% ! anda kaget ? sama, saya juga kaget.

Ketika aku kembali bertanya : “kenapa harus semuanya dimasukkan ke kotak amal ?”

mbah Jum memberi penjelasan sambil tersenyum :
“Kulo niki sakjane mboten pinter mijet. Nek wonten sing seger waras mergo dipijet kaleh kulo, niku sanes kulo seng ndamel seger waras, niku kersane gusti Allah. Lha dadose mbayare mboten kaleh kulo, tapi kaleh gusti Allah.” (Saya itu sebenarnya nggak pinter mijit. Kalau ada yang sembuh karena saya pijit, itu bukan karena saya, tapi karena gusti Allah. Jadi bayarnya bukan sama saya, tapi sama gusti Allah).

Lagi-lagi aku terdiam. Lurus menatap wajah keriputnya yang bersih. Ternyata manusia yang datang dari peradaban kapitalis akan terkaget-kaget saat dihadapkan oleh peradaban sedekah tingkat tinggi macam ini. Dimana di era kapitalis orang sekarat saja masih bisa dijadikan lahan bisnis. Jangankan bicara GRATIS dengan menggunakan kartu BPJS saja sudah membuat beberapa oknum medis sinis.

Mbah Jum tinggal bersama 5 orang cucunya. Sebenarnya yang cucu kandung mbah Jum hanya satu, yaitu yang paling besar usia 20 tahun (laki-laki), yang selalu mengantar dan menemani mbah Jum berjualan tempe dipasar. 4 orang cucunya yang lain itu adalah anak-anak yatim piatu dari tetangganya yang dulu rumahnya kebakaran. Masing-masing mereka berumur 12 tahun (laki-laki), 10 tahun (laki-laki), 8 tahun (laki-laki) dan 7 tahun (perempuan).

Dikarenakan kondisinya yang tuna netra sejak lahir, membuat mbah Jum tidak bisa membaca dan menulis, namun ternyata ia hafal 30 juz Al-Quran. Subhanallah…!! Cucunya yang paling besar ternyata guru mengaji untuk anak-anak dikampung mereka. Ke-4 orang cucu-cucu angkatnya ternyata semuanya sudah qatam Al-Quran, bahkan 2 diantaranya sudah ada yang hafal 6 juz dan 2 juz.

“Kulo niki tiang kampong. Mboten saget ningali nopo-nopo ket bayi. Alhamdulillah kersane gusti Allah kulo diparingi berkah, saget apal Quran. Gusti Allah niku bener-bener adil kaleh kulo.” (saya ini orang kampong. Tidak bisa melihat apapun dari bayi. Alhamdulillah kehendak gusti Allah, saya diberi keberkahan, bisa hafal Al-Quran. Gusti Allah itu benar-benar adil sama saya).

Itu kata-kata terakhir mbah Jum, sebelum aku pamit pulang. Kupeluk erat dia, kuamati wajahnya. Kurasa saat itu bidadari surga iri melihat mbah Jum, karena kelak para bidadari itu akan menjadi pelayan bagi mbah Jum.

Matur nuwun mbah Jum, atas pelajaran sedekah tingkat tinggi 5 tahun yang lalu yang sudah simbah ajarkan pada saya di pelosok desa Yogyakarta.

.
.
Kisah diatas bukan lah kisah seorang Ulama ataupun Waliyullah. Hanya kisah seorang perempuan biasa yg mampu membuat iri seluruh penghuni Alam.
😭😭😭😭😭😭😭😭😭
Share:

Selasa, 13 September 2016

PASIR



Seorang anak kehilangan sepatunya di laut, lalu dia menulis di pinggir pantai ...
LAUT INI MALING ...

Tak lama datanglah nelayan yg membawa hasil tangkapan ikan begitu banyak, lalu dia menulis di pantai ...
LAUT INI BAIK HATI ...

Seorang anak tenggelam di lautan lalu ibunya menulis di pantai ...
LAUT INI PEMBUNUH ...

Seorang berperahu dan di hantam badai, lalu menulis dipantai ...
LAUT INI PENUH MARABAHAYA

Tak lama datanglah Seorang lelaki yg menemukan sebongkah mutiara di dalam lautan, lalu dia menulis di pantai ...
LAUT INI PENUH BERKAH ...

Sementara seisi lautan tak pernah mengeluh.
Kemudian datanglah ombak besar dan menghapus semua tulisan di pantai itu tanpa sisa.

MAKA.......
JANGAN RISAUKAN OMONGAN ORANG, KARENA SETIAP ORANG MEMBACA DUNIA DENGAN PEMAHAMAN DAN PENGALAMAN YANG BERBEDA.

Teruslah melangkah, selama engkau di jalan yang baik.
Meski terkadang kebaikan tidak senantiasa di hargai.

Tak usah repot repot mau menjelaskan tentang diri mu kepada siapa pun, Karena yang menyukai mu tidak butuh itu, Dan yang membenci mu tidak percaya itu.

Hidup bukan tentang siapa yang terbaik, tapi Siapa yang mau berbuat baik.

Jangan menghapus Persaudaraan hanya karena sebuah Kesalahan ...
Namun Hapuslah kesalahan demi lanjutnya Persaudaraan..

Share:

Selasa, 30 April 2013

MU'JIZAT MERAWAT ORANG TUA

_Uang bisa dicari,_

_llmu bisa digali,_

*Tapi kesempatan : untuk mengasihi orang tua takkan terulang lagi,*

_Ketika anak kita menemukan jodohnya, dan mendapatkan wanita cantik yang berhasil merebut seluruh hatinya, tidak jarang orang yang pertama menjadi musuh anak adalah orang tuanya sendiri._

_Orang tua yang semula begitu mulia, mendadak terasa menjadi sangat cerewet, dan menjadi sumber masalah rumah tangga. Apalagi bila anak (laki-laki) tidak berhasil menyatukan hati isterinya dengan ibundanya._

_Padahal_, *anak-anak yang merawat orang tuanya sampai wafat, kebanyakan dicintai Allah*, _hal itu tercermin dalam karir hidupnya di dunia, dan mereka cenderung menjadi orang yang sukses._

*Mu’jizat Orang Tua, dapat kita temukan dalam sejarah hidup seorang sahabat di bawah ini 😗

          *–o0o–*

_Ketika Ibu dari Iyas bin Muawiyah wafat,_ *lyas* _meneteskan air mata tanpa meratap, lalu beliau ditanya seorang sahabat tentang sebab tangisannya,_

_Jawabnya,_ *“Allah telah membukakan untukku, beberapa pintu untuk masuk surga, sekarang, satu pintu telah ditutup.”*

_Begitulah, orang tua adalah pintu surga, bahkan pintu yang paling tengah di antara pintu-pintu yang lain._

_Nabi Shollallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda,_
*"ORANG TUA adalah PINTU SURGA YANG PALING TENGAH,* _terserah kamu, hendak kamu terlantarkan dia, atau kamu hendak menjaganya.”_
_(HR. Tirmidzi)_

_Al-Qadhi berkata,_ _"Maksud pintu surga yang paling tengah, adalah pintu yang_ *PALING BAGUS dan PALING TINGGI*.

_Dengan kata lain, se-baik-baik sarana yang bisa mengantarkan seseorang ke dalam surga dan meraih derajat yang tinggi adalah dengan menta'ati orang tua dan menjaganya.”_

_Bersyukurlah jika kita masih memiliki orang tua, karena di depan kita masih ada pintu surga yang masih terbuka lebar._

_Terlebih bila orang tua telah berusia lanjut._

_Dalam kondisi tak berdaya, atau mungkin sudah pelupa, pikun dan terkesan cerewet,_

_atau tak mampu lagi merawat dan menjaga dirinya sendiri, persis seperti bayi yang baru lahir.

Tulisan ini di copas dari sebuah postingan di Whatshap....
Share:

YANG INI PUN AKAN BERLALU

Pada suatu hari, seorang yg bijak meminta kepada seorang tukang emas yang sudah tua renta untuk membuat cincin dan menuliskan sesuatu di dalamnya

Sang bijak berpesan, "Tuliskanlah sesuatu yang bisa disimpulkan dari seluruh pengalaman dan perjalanan hidupmu supaya bisa menjadi pelajaran bagi hidupku."

Berbulan-bulan si tukang emas yang tua membuat cincin tersebut merenung
kalimat apa yang patut diukir di cincin emas yang kecil itu

Akhirnya, si tukang emas mengukir sepotong kalimat, dan menyerahkan cincinnya pada sang bijak.

Dengan tersenyum,
sang bijak membaca tulisan kecil di cincin itu.
Bunyinya:

*"THIS TOO, SHALL PASS"*

_(Yang inipun, akan berlalu_)

Awalnya sang bijak tidak terlalu paham dengan tulisan itu

Tapi suatu ketika, tatkala menghadapi persoalan hidup yang pelik, tak sengaja ia membaca tulisan di cincin itu

*"YANG INI PUN AKAN BERLALU,"*

lalu ia pun menjadi lebih tenang

Dan tatkala ia sedang bersenang-senang, ia pun tak sengaja membaca tulisan di cincin itu

*"YANG INI PUN AKAN BERLALU,"*

lantas ia menjadi rendah hati kembali.

Ketika kita mempunyai masalah besar ataupun sedang dalam kondisi terlalu gembira, ingatlah kalimat:

*"YANG INI PUN AKAN BERLALU "*

Tidak ada satupun di dunia ini yang abadi

Jadi, ketika kita punya *masalah*, jalanilah & janganlah terlalu bersedih

Demikian juga tatkala kita sedang senang, nikmatilah dan syukuri, jangan lupa diri

Ingatlah, apapun yang kita hadapi saat ini, *semuanya akan berlalu*.

Untuk itu :
• Tetaplah SEJUK di tempat yang Panas
• Tetaplah MANIS di tempat yang begitu Pahit
• Tetaplah merasa KECIL meskipun telah menjadi Besar
• Tetaplah TENANG di tengah Badai yang paling Hebat

Selamat menikmati hari yg indah ini ... *YANG INIPUN AKAN BERLALU ...*
Share:

Minggu, 02 September 2012

SEDEKAH DENGAN MENGAYUH BECAK

KISAH NYATA :

Ada seorang tukang becak, yang sudah cukup sepuh (tua), beliau tinggal di daerah Dinoyo (Malang, Jatim).

Setiap hari Jum'at, ia menggratiskan tarif becaknya, dengan niat shodaqoh..

Suatu kali, pada hari Jum'at, ada seorang pria bapak-bapak yang jadi penumpangnya.

Pria itu naik becak jarak dekat saja, tanpa tawar-menawar, pria itu membayar tarif becak yang di tumpanginya dengan uang 20ribu, tetapi langsung ditolak sama bapak tukang becak, beliau bilang :

"Kulo ikhlas Pak, pun usah dibayar, kula sagete shodaqoh nggeh ngeten niki.."

"(Saya ikhlas Pak, sudah jangan dibayar, saya cuma bisa shadaqoh dengan cara seperti ini..)."

Si penumpang pun kaget, tapi karena terburu-buru, Pria itu langsung pergi begitu saja, setelah mengucapkan terima-kasih.

Pekan berikutnya, pada hari jumat pula, Pria itu bertemu lagi dengan tukang becak yang sama pada Jum'at lalu.

Setelah diantar ke tempat tujuan, Pria itu menyodorkan uang 200ribu, atau 10x lipat dari shodaqoh tukang becak kepada pria ini Jum'at lalu, untuk tarif becaknya.

Tukang becak yang sudah sepuh ini pun menjawab dengan tenang :

"Insyaallah.. Kulo ikhlas pak..
Kulo sagete shodaqoh nggih namung ngeten niki,, ngateraken tiyang."

"(Insyaallah.. Saya ikhlas Pak..
Saya cuma bisa shadaqoh dengan cara seperti ini,, mengantarkan orang..)."

Karena merasa aneh, Pria yang menumpang itu menimpali :

"Lha kalau begini terus, Istri, dan Anak bapak makan apa.!? Kenapa nggak mau dibayar..?!"

Tukang becak itu pun menjawab :

"Alhamdulillah, Rayat kulo nggih sami ikhlas menawi saben Jum'at kula shodaqoh ngeten niki..".

"(Alhamdulillah, Istri saya pun sama-sama ikhlas jika tiap hari Jum'at saya bershodaqoh dengan cara ini..)"

"Oh,, jadi Bapak nggak mau di bayar pada hari Jum'at saja..!?" Tanya si penumpang memastikan.

"Nggeh, Pak"

"Rumah bapak dimana?" Tanya penumpang penasaran..

"Wonten Dinoyo Pak, wingkingipun bank..".

"(Tinggal di Dinoyo Pak, sebelah belakang bank..)"

Hari pun berlalu, dan di hari Jum'at berikutnya, Pria penumpang becak yang penasaran ini mencari rumah Tukang becak itu.

Setelah menyusuri gang sempit sebelah gedung bank di daerah dinoyo, akhirnya Pria itu ketemu juga dengan rumah sederhana milik Tukang becak yang di carinya.

Setelah mengetuk pintu, keluarlah seorang wanita yang sudah tua, masih menggunakan mukena.

Hatinya tergetar...
batinnya menangis..
betapa selama ini, ia yang sangat di cukupi kebutuhannya oleh Allah s.w.t, malah jarang bersimpuh kepada-Nya.

Jangankan sedekah, dan sholat dhuha, sholat wajib saja masih sering ia tinggalkan..

Ia pun mencium tangan wanita tua itu, lalu meminta idzin untuk meminjam KTP bapak, dan ibu sekalian.

"Bapak tasik siap-siap badhe sholat Jum'at, niki KTP-ne damel nopo nggeh..!!?"

"(Bapak masih melakukan persiapan untuk sholat Jum'at, ini KTP nya, kalau boleh tau buat apa ya..!?)

"Bu, bapak, dan juga ibu telah membuka mata hati saya, ini jalan hidayah yang telah Allah s.w.t anugerahkan kepada saya.

Insyaallah, Bapak, dan Ibu saya daftarkan untuk naik haji ONH Plus bersama saya, dan istri, mohon di terima ya, Bu.."

==============

Masya Allah..
sungguh maha pemurah Allah s.w.t yang membalas kebaikan-kebaikan kecil, dengan kebaikan-kebaikan yang lebih besar.
Share:

Selasa, 08 November 2011

MENGAPA SUAMI BOSAN PADA ISTRINYA

Ada seorang lelaki berkata kepada seorang syekh:

"Dulu, sebelum menikah, aku melihat istriku begitu indah, tiada duanya di dunia ini. Tapi, Ketika aku melamarnya, ternyata ada banyak wanita yang seindah dia. Ketika aku menikahinya, aku mulai merasa bahwa ada banyak wanita yang lebih cantik darinya. Sekarang, setelah hampir sepuluh tahun kami menikah, aku merasa bahwa semua wanita lebih menarik daripada istriku."

Syekh itu menjawab: "Apakah engkau tahu, ada yang jauh lebih parah dari yang kau alami saat ini?" "Tidak." "Seandainya, engkau menikahi seluruh wanita di dunia, tanpa terkecuali, maka engkau akan merasa bahwa anjing-anjing yang berkeliaran di jalan jauh lebih menarik bagimu daripada wanita manapun."

Syekh itu melanjutkan: "Masalah sesungguhnya bukan terletak pada istrimu, tapi terletak pada hati rakusmu dan mata keranjangmu. Mata manusia tidak akan pernah puas, kecuali jika sudah tertutup tanah."

Lalu Syekh itu bertanya: "Apakah engkau ingin istrimu kembali seperti dulu, menjadi wanita terindah di dunia ini?"

"Iya Syekh," jawab lelaki itu dengan perasaan tak menentu.

"Tundukkan pandanganmu, pejamkanlah matamu dari hal-hal yang haram. Ketahuilah, orang yang merasa cukup dengan yang halal, maka dia akan diberi kenikmatan yang sempurna di dalam kehalal-an tersebut."

CATATAN : JIKA DIA BELUM BAIK, DIDIK DIA SAMPAI JADI BAIK, BUKAN MALAH TINGGALKAN DIA DAN CARI YANG LEBIH BAIK

Cerita ini Disadur dari Postingan Facebook.
Share:
TERIMA KASIH, DAN SELAMAT DATANG