السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ

بِسْــــــــــــــــــمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ
Tampilkan postingan dengan label Konon. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Konon. Tampilkan semua postingan

Kamis, 20 Juni 2024

ANALOGI MUSIBAH BERULANG

Ulama memberikan analogi: bahwa ada seorang pemuda mengiris tаngаnnуа lаlu bеrtеrіаk mіntа tоlоng agar diоbаtі, mаkа dаtаng ke оrаng untuk mendapat pengobatan kemudian dіbаlut lukanya. Setelah selesai diobati, si pemuda mengiris kembali tangannya yang lain dan kembali teriak-teriak minta tolong. Maka datang lagi ke dokter untuk berobat dan membalut luka irisannya tadi. Setelah selesai dibalut dan diobati, kembali lagi ia mengiris tangannya, luka lagi, teriak lagi minta tolong lagi.

Maka kata ulama menolong orang yang seperti ini tidak ada gunanya. Justru yang harus kita lakukan adalah menghentikan perbuatannya mengiris-ngiris tangannya, agar ia berhenti.

Umat hari ini seperti itu, bencana datang kita cuman kirim uang makanan dan sebagainya, tapi sumber maslahnya tidak kita pikirkan. Nanti mereka berbuat dosa lagi, maka musibah datang lagi, teriak teriak lagi minta tolong, begitu terus jadinya.

Hentikan umat dari perbuatan dosa maka nanti musibah akan terhenti, ini yang penting. Yakinkan bahwa segala musibah yang terjadi ini asbab dosa dosa kita.

Share:

Selasa, 13 Februari 2018

NABI TIDAK PERNAH MEMADU (POLIGAMI) ISTRI PERTAMA

Ustadz tengku Zulkarnaen dalam sebuah ceramahnya mengatakan bahwa Nabi Muhammad sallallahu ‘alaihi wasallah tidak pernah memadu (poligami) istri pertamanya. Sitti Khadijah yang merupakan istri pertama Nabi Muhammad tidak pernah dimadu hingga menginjak usia perkawinanya yang ke 25 tahun. Baru setelah Khadijah wafat diusia 65 tahun, Nabi melakukan poligami.

“Nabi tidak pernah memadu istri pertama. Sampai umur 65 pun sitti Khadijah tidak pernah dimadu sama Nabi. Nabi umur 50, sitti Khadijah umur 65 tidak pernah dimadu sampai wafat. Baru sesudah istri pertama wafat,baru  Nabi kawin banyak.” Imbuhnya.

Dalam acara yang dihadiri oleh para wali murid dan para ustadz-ustadzah itu, Ustadz tengku juga menyampaikan bahwa sunnah Nabi yang itu yang coba beliau laksanakan. Sebagaimana diketahui ustadz tengku memang belum pernah berpoligami.

“saya pingin melakukan sunnah Nabi yang itu.” Kata beliau.

Selain mencontohkan kisah Nabi di atas, beliu juga mingisahkan sitti Fatimah putri Nabi yang juga tidak pernah dimadu oleh sahabat Ali bin Abi Thalib selagi masih hidup. Begitu pun sahabat Utsman Bin Affan yang melakukan poligami setelah istri pertamanya wafat, Ummi Kulsum.

“Fatiamah radiyallahu ‘anha tidak pernah dimadu sampai wafat oleh sayyidina Ali. Begitu wafat fatiamah baru sayyidan Ali kawin empat. Ruqayyah, Ummi Kulsum anak Nabi, wafat Ruqayyah, Ummi Kulsum dikawini sayyidina Utsman. Baru wafat Ummi Kulsum, baru sayyidina Ustman kawin empat. Saya tidak berani memadu karena yang pertama masih hidup.” Tambah ustadz tengku dengan diikuti sorak tawa hadirin.

Begitulah hal inspiratif yang disampaikan oleh ustadz Tangku Zulkarnaen. Meski hal itu, tidak berarti mengandung larangan mempoligami istri pertama, namun perlu untuk diperhatikan bersama. Biasanya, selain karena istri pertama secara senioritas ia lebih impresif karena ia merasa lebih berhak atas suaminya, juga karena secara psikologis ia akan lebih tertekan dan tidak siap jika harus berbagi suami dengan yang lain.

Selain itu, jika dibawa ke dalam konteks negri ini, di mana poligami lebih banyak dilakukan oleh orang-orang yang berduit, tapi belum tentu siap secara batin. Juga kadang dilakukan tidak karena tujuan mengayomi, meringankan beban dan sebagainya. Maka dari itu, perkataan ustadz Tengku Zulkarnaen ini menjadi renungan bersama, syukur-syukur didengar DPR-RI.

Wallahu a’lam bi al-shawaab…..
Share:

Rabu, 15 November 2017

Aku Alumni UIN SUKA Jojga, Aku Lebih Dari Sekedar Liberal; Adalah Kafir.

Beberapa waktu lalu, khalayak media sosial sempat diramaikan dengan isu yang sedikit sensitif, sedikit memantik emosi, namun sebenarnya adalah hal yang maklum dan lumrah. UIN Sunan Kalijaga Yogya yang merupakan salah satu kampus terkemuka di Yogyakarta ini, disebut-sebut sebagai kampus liberal dan cikal-bakal atas rentetan bencana alam maupun tektonik yang beberapa tahun ini melanda jogja. Kontan, pernyataan ini langsung direspon dan dianggap sembarangan. Terutama oleh alumnus maupun manahsiswa yang masih aktif.

Mereka beramai-ramai membantah bahkan mengecam pernyataan kontraproduktif, yang disampaikan oleh Ustadz Dr. Khalid Basalamah MA. dalam sebuah ceramahnya diakun youtube, adalah tidak benar, salah-paham dan cendrung terburu-buru dalam mengambil kesimpulan. “Perkataan “Ustadz” ini, saya nyatakan, mengandung banyak kebohongan, kesalahpahaman dan ketakakuratan.” Bantah Prof Dr Machasin, Guru Besar Fakultas Adab Dan Ilmu Budaya UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta.

Seumpama semut, ia akan menggigit saat merasa terusik. Bagai burung bulbul, ia akan menggerau saat merasa diganggu. Tampak begitulah reaksi mereka, dan hal itu wajar-waja saja. Namun, tidak bagiku, aku malah tidak begitu ambil pusing dengan statement Ustadz Basalamah yang sebenarnya tidak perlu itu. Oleh karenanya, Aku malah sadar beberapa hal;

Bahwa saat aku menjadi bagian mahasiswa UIN yang masih aktif, pada setiap malam jum’at aku dan teman-teman UKM INKAI mengadakan Yasinan, sehabis maghrib. Padahal, kita tahu ada sebagaian saudara kita yang menganggap rutinitas yasinan seperti itu adalah bid’ah (mengada-ngada, atau tidak pernah dicntoh kan Nabi). Sebagaimana mereka sering merujuk pada hadis Nabi, bahwa bid’ah adalah sesat.

Itu baru yasinan. Belum lagi, banyak di antara masiswa UIN yang adakalanya memeriahkan Maulud Nabi saw, berkumpul untuk tahlilan, berdoa bersama dengan dipandu, dan lain sebagainya. Di mana semuanya juga ada dari saudara kita (muslim) yang juga menggap sebagai hal yang bid’ah alias sesat dan setiap kesesatan tempatnya adalah di Neraka.

Selain itu, secara akademis-fakultatif, kampus UIN juga menyediakan prodi Akidah dan Filsafat, juga prodi Perbandingan Agama. Melihat judulnya saja, pasti telah terbayang isinya akan dan seperti apa? Bahwa filsuf sering dianggap argumentasinya tidak jauh mengarah pada ke”murtad”an. Maka, ada salah seorang temanku, setiap kali diberbicara mengungkapkan pengetahuan dan pendapat filasafatnya selalu diakhiri dengan syahadat, dengan sadar khawatir atas apa yang disampaikannya, takut murtad. Jika demikian hal apa kira-kira yang disampaikan temanku? Camkan!!! He

Begitupun teman-teman yang di prodi Perbandingan Agama (PA). Jika teman-teman filsafat lebih kapada soal pemikiran dan idealisme, maka teman-teman PA, mereka lebih pada action dan perbauran mereka dilapangan. Mereka mepelajari umat dan agama lain, serta mereka terjun langsung, berbaur. Tidak hanya terhadap yang berbeda agama, antar umat islam yang berbeda paham pun meraka tidak segan berkunjung, berkumpul untuk kepentingan observasi atas fakta sesungguhnya. bahkan tidak jarang juga mereka mengikuti cara beribadahnya dan sebagainya. Katakanlah contoh kasus ahmadiyah, yang divonis sesat, maka teman-teman PA terjun langsung mencari tahu, bahkan tidak sungkan shalat jum’at juga bersama mereka. Jika demikan, teman-teman PA cocoknya dikecam apa ini? Baiklah, mungkin kalau antar agama berarti sesat jika berbaur dengan paham keagamaan yang sesat. Tapi kalau berbaur dengan yang beda agama, termasuk membantunya, baik menyediakan fasilitas maupun raga. Sebutlah minimal teman-teman PA adalah munafiq atau bahkan bisa murtad.

Selain itu, bahwa di UIN SUKA juga ada di antara mahasiswanya yang belajar dan mendalami tasawwuf. Untuk faham ini juga sebagian saudara muslim kita ada yang menuduh sebagai penganut tahayyul, khayal, kurafat bahkan bertentangan dengan kaidah-kaidah hadis shahih. Muhammad bin ‘Abdus Salam Khodr Asy Syuqairiy berkata, orang-orang sufi adalah orang yang serakah pada makanan, orang yang gemar menyiakan waktu dengan permainan sia-sia dan pengagung bid’ah (As Sunan wal Mubtada’at Al Muta’alliqoh Bil Adzkari wash Sholawat, 138-139)

Satu lagi, di UIN SUKA Jogja juga di dalamnya terdapat satu prodi yang membahas tentang kaidah-kaidah fiqhiyah, Hadits, Al-Qur’an dengan segala kaitanya. Adalah prodi Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir, dan prodi Ilmu Hadis. Di mana sebagian pembahsannya tidak jauh dari yang diistilahkan dengan ta’wil, termasuk ketika menafsirkan al-Qur’an dan Hadis. Menurut Harun Nasution, termasuk dalam salah satu pokok doktrin teologis Wahaby, bahwa menggunakan ta’wil dalam menafsirkan al-Qur’an termasuk KAFIR. Dan aku adalah alumnus prodi Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir, artinya aku kafir. Yach,, dalah...

Jadi, kalau begitu jika semua pada ingin tuduh-tuduhan, maka UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta tidak hanya dihuni oleh orang-orang LIBERAL saja tapi juga orang-orang SESAT, MURTADZ, AHLI BID’AH, MUNAFIQ bahkan  KAFIR dan lain-lain.

Itu!!!!!!!!!!
Share:

Senin, 22 Mei 2017

WARISAN

Ditulis oleh Afi Nihaya Faradisa

Kebetulan saya lahir di Indonesia dari pasangan muslim, maka saya beragama Islam. Seandainya saja saya lahir di Swedia atau Israel dari keluarga Kristen atau Yahudi, apakah ada jaminan bahwa hari ini saya memeluk Islam sebagai agama saya? Tidak.

Saya tidak bisa memilih dari mana saya akan lahir dan di mana saya akan tinggal setelah dilahirkan.
Kewarganegaraan saya warisan, nama saya warisan, dan agama saya juga warisan.
Untungnya, saya belum pernah bersitegang dengan orang-orang yang memiliki warisan berbeda-beda karena saya tahu bahwa mereka juga tidak bisa memilih apa yang akan mereka terima sebagai warisan dari orangtua dan negara.

Setelah beberapa menit kita lahir, lingkungan menentukan agama, ras, suku, dan kebangsaan kita. Setelah itu, kita membela sampai mati segala hal yang bahkan tidak pernah kita putuskan sendiri.

Sejak masih bayi saya didoktrin bahwa Islam adalah satu-satunya agama yang benar. Saya mengasihani mereka yang bukan muslim, sebab mereka kafir dan matinya masuk neraka.
Ternyata,
Teman saya yang Kristen juga punya anggapan yang sama terhadap agamanya. Mereka mengasihani orang yang tidak mengimani Yesus sebagai Tuhan, karena orang-orang ini akan masuk neraka, begitulah ajaran agama mereka berkata.
Maka,
Bayangkan jika kita tak henti menarik satu sama lainnya agar berpindah agama, bayangkan jika masing-masing umat agama tak henti saling beradu superioritas seperti itu, padahal tak akan ada titik temu.
Jalaluddin Rumi mengatakan, "Kebenaran adalah selembar cermin di tangan Tuhan; jatuh dan pecah berkeping-keping. Setiap orang memungut kepingan itu,
memperhatikannya, lalu berpikir telah memiliki kebenaran secara utuh."

Salah satu karakteristik umat beragama memang saling mengklaim kebenaran agamanya. Mereka juga tidak butuh pembuktian, namanya saja "iman".
Manusia memang berhak menyampaikan ayat-ayat Tuhan, tapi jangan sesekali mencoba jadi Tuhan. Usah melabeli orang masuk surga atau neraka sebab kita pun masih menghamba.

Latar belakang dari semua perselisihan adalah karena masing-masing warisan mengklaim, "Golonganku adalah yang terbaik karena Tuhan sendiri yang mengatakannya".
Lantas, pertanyaan saya adalah kalau bukan Tuhan, siapa lagi yang menciptakan para Muslim, Yahudi, Nasrani, Buddha, Hindu, bahkan ateis dan memelihara mereka semua sampai hari ini?

Tidak ada yang meragukan kekuasaan Tuhan. Jika Dia mau, Dia bisa saja menjadikan kita semua sama. Serupa. Seagama. Sebangsa.
Tapi tidak, kan?

Apakah jika suatu negara dihuni oleh rakyat dengan agama yang sama, hal itu akan menjamin kerukunan? Tidak!
Nyatanya, beberapa negara masih rusuh juga padahal agama rakyatnya sama.
Sebab, jangan heran ketika sentimen mayoritas vs. minoritas masih berkuasa, maka sisi kemanusiaan kita mendadak hilang entah kemana.

Bayangkan juga seandainya masing-masing agama menuntut agar kitab sucinya digunakan sebagai dasar negara. Maka, tinggal tunggu saja kehancuran Indonesia kita.

Karena itulah yang digunakan negara dalam mengambil kebijakan dalam bidang politik, hukum, atau kemanusiaan bukanlah Alquran, Injil, Tripitaka, Weda, atau kitab suci sebuah agama, melainkan Pancasila, Undang-Undang Dasar '45, dan semboyan Bhinneka Tunggal Ika.

Dalam perspektif Pancasila, setiap pemeluk agama bebas meyakini dan menjalankan ajaran agamanya, tapi mereka tak berhak memaksakan sudut pandang dan ajaran agamanya untuk ditempatkan sebagai tolok ukur penilaian terhadap pemeluk agama lain. Hanya karena merasa paling benar, umat agama A tidak berhak mengintervensi kebijakan suatu negara yang terdiri dari bermacam keyakinan.

Suatu hari di masa depan, kita akan menceritakan pada anak cucu kita betapa negara ini nyaris tercerai-berai bukan karena bom, senjata, peluru, atau rudal, tapi karena orang-orangnya saling mengunggulkan bahkan meributkan warisan masing-masing di media sosial.
Ketika negara lain sudah pergi ke bulan atau merancang teknologi yang memajukan peradaban, kita masih sibuk meributkan soal warisan.

Kita tidak harus berpikiran sama, tapi marilah kita sama-sama berpikir.
Share:

Minggu, 30 April 2017

KESAMAAN DAN PERBEDAAN ANTARA LIBERALISME DAN SOSIALISME

Dalam sebuah postingan di Facebooknya, Muhammad al-Fayyadl, atau yang akrab di sapa Gus Fayyad menuliskan:

Apa kesamaan dan perbedaan antara liberalisme dan sosialisme?

Kesamaan keduanya adalah kebebasan. Bedanya, liberalisme membayar kebebasan itu dengan "cash" (tunai), sosialisme membayarnya dengan kredit (cicilan).

Bagi liberalisme, "yang penting aku bebas, persetan dengan kebebasan orang lain".

Bagi sosialisme, "kebebasanku bergantung pada kebebasan orang-orang; sebelum mereka semuanya bebas, aku sejatinya belum bebas".

Maka, liberalisme mengusahakan kebebasan lebih dulu untuk diperoleh dan dinikmati, meski dunia sekitarnya belum bebas dari penindasan. Sosialisme tidak mengklaim kebebasan, sebelum SEMUA orang bebas, yaitu mereka yang tertindas.

Sosialisme mengusahakan PEMBEBASAN, baru meraih KEBEBASAN. Liberalisme merayakan kebebasan tanpa bersusah-payah melakukan pembebasan.

Di dalam sosialisme terdapat akhlak (moralitas) mendasar, tanggung jawab sebelum kebebasan. Di dalam liberalisme, ada peragaan nafsu kebebasan, dengan sedikit tanggung jawab atau tanpa sama sekali.

Kita jadi tahu, dari keduanya, siapa yang paling sering berbuat ulah atas hancurnya kehidupan di atas bumi.
Share:

Selasa, 25 April 2017

JALAL AL-DIN AL-SYUYUTHI

Tidak ada Tokoh besar pada setiap zaman kecuali dicacimaki orang-orang tak mengerti. Orang-orang terhormat selalu diuji oleh orang-orang barhati rendah" (Jalal al Din Al Suyuthi)
Share:

ALI BIN ABI THALIB 1

"Orang yang tidak menguasai matanya, hatinya tidak ada harganya," (Ali bin Abi Talib).

 *JANGAN MENJELASKAN TENTANG DIRI MU KEPADA SIAPA PUN,KARENA YANG MENYUKAI MU TIDAK BUTUH ITU, DAN YANG MEMBENCI MU TIDAK PERCAYA ITU.*

*HIDUP BUKAN TENTANG SIAPA YANG TERBAIK, TAPI SIAPA YANG MAU BERBUAT BAIK.*

*JANGAN MENGHAPUS PERSAUDARAAN HANYA KARENA SEBUAH KESALAHAN ...*
*NAMUN HAPUSLAH KESALAHAN...*
*DEMI LANJUTNYA PERSAUDARAAN..*

*JIKA DATANG KEPADAMU GANGGUAN...*
*JANGAN BERPIKIR BAGAIMANA CARA MEMBALAS DENGAN YANG LEBIH PERIH, TAPI BERPIKIRLAH BAGAIMANA CARA MEMBALAS DENGAN YANG LEBIH BAIK.*

*KURANGI MENGELUH TERUSLAH BERDOA DAN BERIKHTIAR.*
*SIBUKKAN DIRI DALAM KEBAIKAN. HINGGA KEBURUKAN LELAH MENGIKUTI MU.*
Share:

Kamis, 06 April 2017

Al-Ghazali; HIKMAH PERGAULAN

Siapa saja yang sering duduk (berkumpul) bersama 8 kelompok manusia, maka Allah akan memberinya 8 perkara :

١. من جلس مع الأغنياء زاده الله حب الدنيا والرغبة فيها

Barangsiapa yang sering duduk bersama orang-orang kaya, Allah akan menambahkan kepadanya cinta dunia & semangat untuk mendapatkan dunia.

٢. ومن جلس مع الفقراء زاده الله الشكر والرضا بقسمة الله تعالى

Barangsiapa yang sering duduk bersama orang-orang miskin, Allah akan menambahkan kepadanya perasaan syukur & ridha atas bembagian Allah.

٣. ومن جلس مع السلطان زاده الله الكبر وقساوة القلب

Barangsiapa yang sering duduk dengan para pemimpin/raja (Pejabat), Allah akan menambahkan kepadanya perasaan sombong & keras hati.

٤. ومن جلس مع النساء زاده الله الجهل والشهوة

Barangsiapa yang sering duduk dengan perempuan, Allah akan menambahkan kepadanya kebodohan & syahwat.

٥. ومن جلس مع الصبيان زاده الله اللهو والمزاح

Barangsiapa yang sering duduk dengan anak-anak kecil, Allah akan menambahkan kepadanya lalai &senda gurau.

٦. ومن جلس مع الفساق زاده الله الجرأة على الذنوب والمعاصي والإقدام عليها، والتسويف في التوبة

Barangsiapa yg sering duduk dengan orang-orang fasik (gemar bermaksiat), Allah akan menambahkan kepadanya keberanian berbuat dosa & kemaksiatan, serta semangat untuk berbuat maksiat, kemudian menunda-nunda akan taubat.

٧. ومن جلس مع الصالحين زاده الله الرغبة في الطاعات

Barangsiapa yang sering duduk dengan orang-orang yang soleh, Allah akan menambahkan kepadanya kegemaran dalam amalan-amalan ketaatan.

٨. ومن جلس مع العلماء زاده العلم والورع

Barangsiapa yang sering duduk dengan para ulama' , Allah akan menambahkan kepadanya ilmu & sikap waro (sangat berhati-hati dalam mengambil harta dunia)

(Dalam kitab; Tanbiihul Ghaafilin)
Share:

Kamis, 02 Februari 2017

20 MUTIARA HIKMAH MBAH. KIAYI MAEMUN ZUBAIR


1. Wong Yahudi iku biyen gelem mulang angger dibayar, tapi akehe kiyai saiki ngalor ngidul karo rokoan ora gelem mulang nak ora dibayar, gelem mulang angger dibayar: Orang Yahudi dulu mau mengajar kalau dikasih uang, tetapi kebanyakan kyai sekarang mondar-mandir sambil rokoan tidak mau mengajar kalau tidak dikasih uang.

2. Wong neng dunyo iku ono bungahe lan ono susahe, kabeh iku supoyo biso dadek’ake parek marang Allah, Tapi nak neng akhirat nak susah susah tok rupane nang neroko, tapi nak seneng yo seneng tok rupane neng suargo:
Orang di dunia itu ada yang senang dan ada yang susah. Semua itu supaya bisa mendekatkan diri kepada Allah, tetapi kalau di akhirat susah terus yaitu ketika di Neraka, dan senang terus ketika di Surga.

3. Kanggone wong islam nak susah yo disabari nak bungah disyukuri: Untuk orang Islam ketika susah disabari dan ketika senang disyukuri.

4. Apik-apik’e dunyo iku nalikone pisah antarane apik lan olo. Sakwali’e, elek-elek’e dunyo iku nalikone campur antarane apik lan olo. Mulane apik iku kanggone wong Islam, lan elek iku kanggone wong kafir: Bagusnya dunia itu ketika pisah antara bagus dan jelek, sebaliknya jeleknya dunia itu ketika campur antara bagus dan jelek.

5. Apik-apik’e wong iku taqwo marang Allah yoiku ora ngelakoni doso mboh iku doso cilik utowo doso gede kabeh iku di tinggal: Bagus-bagusnya orang itu ialah orang yang bertaqwa, yaitu tidak mau melakukan dosa, baik dosa kecil maupun besar semuanya ditinggal.

6. Zaman akhir iku senengane podo ngatur pangeran. yaiku podo akeh-akehan istighosahan koyo-koyo demo marang pangeran: Zaman akhir itu banyak orang yang mendemo Tuhan yaitu dengan cara Istighosah, seolah-olah seperti mengatur Tuhan.

7.Ngandikone bapakku :
 ﺣََِﻔَﻂ َﺷُﻴﺌﺎ ﻭﻏﺎ ﺑﺖ ﻋﻨﻪ ﺍ
ﺷﻴﺎﺀ
akehe wong iku ngertine pekoro siji liyane ora
ngerti koyo dene wong haji ngertine mong bab kaji, pembangunan masjid yo iku tok, ora ngerti bahwa sodakoh iku yo ono wong miskin mbarang:
Ayah saya pernah mengatakan bahwa banyak orang yang tahu perkara satu tetapi yang lain tidak diketahui, seperti halnya orang tahunya hanya bab haji saja, atau shodaqoh pembangunan masjid saja, tetapi tidak tau bahwa sodaqoh itu juga ada yang buat fakir miskin.

8.Nak wong ahli toriqoh utowo ahli tasawuf iku ora ono bedone doso iku gede utowo cilik podo bae kabeh didohi: Kalau orang Ahli Toriqoh atau Tasawuf tidak ada bedanya dosa itu baik besar atau kecil semuanya ditinggalkan.

9.Wong iku seng apik ora kena nyepeleake doso senajan cilik, lan ora keno anggak karo amal senajan akeh amale:
Orang itu yang bagus ialah tidak menyepelekan dosa meskipun kecil dan tidak sombong ketika punya amal meskipun banyak.

10. Dunyo iku dadi tepo tulodone neng akhirat:
الدنيا مراة في الاخرة (Dunia itu menjadi contoh atau cermin di akhirat).

11. Ngalamate Qiamat iku angger wong tani iku wes aras-arasen tani, mergo untunge iku sitik: Termasuk tanda Qiyamat itu orang sudah malas untuk bertani, karena untungnya sedikit.

12. Gusti Allah iku gawe opo bae mergo sebab awae dewe 'kembang seberat mekar dewe': Allah itu membuat apa saja sebab diri sendiri 'Bunga berat berkembang sendiri.

13. Nabi bersabda : ﺍﻧﻜﻢ ﺳﺘﻤﺼﺮﻭﻥ ﺍﻣﺼﺎﺭﺍ seng artine kuwe kabeh ko bakal gawe kota dewe-dewe, Wong sugih iku ko bakal gawe kota dewe-dewe, wong mlarat iku podo gawe deso dewe-dewe. artinya “Bahwasannya nabi telah bersabda yang artinya: Orang kaya itu akan membuat kota sendiri-sendiri, sedangkan orang Miskin nanti akan membuat desa sendiri-sendiri.

14. Endi-endi barang iku bakale ilang. Wong mangan daging eyo bakale ilang, tapi ono seng ora ilang, iyoiku barang seng ora ketok koyo dene ruh, kang ora sebab opo-opo, langsung pepareng soko Allah ora melalui proses:
Semua barang itu akan hilang, orang makan daging juga akan hilang dagingnya, tetapi ada yang tidak hilang yaitu Ruh, ini pemberian lansung dari Allah tanpa proses.

15. Wali iku nak katok iku wes ora disiplin wali, masalahe wali iku ora keno kanggo conto, asale tingkahe iku selalu nulayani adat:
Yang namanya Wali kalau kelihatan itu sudah tidak disiplin Wali, karena Wali itu tidak boleh dicontoh, karena tingkahnya selalu berselisih dengan kebiasaan.

16. Alamate wali iku wes ora biso guneman karo menungso, masalahe wong nak guneman karo menungso iku yo ora biso dzikir karo Allah:
Tanda wali itu sudah tidak bisa berkomunikasi dengan manusia karena kalau berdiskusi dengan manusia biasanya tidak bisa dzikir dengan Allah.

17. Barang yen positif iku ora katon , bisone katon iku angger ono negatif, koyo kuwe biso reti padang yen wes weruh peteng, wong biso ngerti Allah angger wes ngerti liyane Allah: Sesuatu yang bagus itu tidak kelihatan, dan akan kelihatan ketika ada yang tidak bagus, contoh kamu tau terang kalau sudah gelap, dan kamu tau Allah ketika kamu tau selain Allah.

18. Wong iku yen solat bengi kok ajak-ajak iku berati ora pati ikhlas, masalahe mbengi iku wayah turu, lah wong solat iku kudune soko karepe dewe:
 Orang ketika salat malam mengajak-ajak berati itu menandakan tidak begitu ikhlas, karena waktu malam itu waktu istirahat, kalau mau salat memang dari keinginan diri sendiri.

19. Sepiro senenge tangi soko kubur, iku sepiro enakke neng alam akhirat:
Seberapa senangnya orang bangun dari kubur, seberapa senangnya di akhirat.

20. Wong naliko metu soko wetenge simbok iku kudu susah, tapi yen wong metu soko dunyo alias mati iku kudu roso seneng, iki alamate wong seng bakal urip seneng:
Orang ketika keluar dari kandungan sang Ibu harus susah, sedangkan keluar dari dunia yaitu meninggal harus senang ini alamatnya orang akan senang.
Share:

KLASIFIKASI MANUSIA MENURUT IMAM AL-GHAZALI

Al Ghazali pernah membagi manusia menjadi empat (4) golongan;
Pertama, Rojulun Yadri wa Yadri Annahu Yadri: Seseorang yang Tahu (berilmu), dan dia Tahu kalau dirinya Tahu.
Orang ini bisa disebut ‘alim = mengetahui. Kepada orang ini yang harus kita lakukan adalah mengikutinya. Apalagi kalau kita masih termasuk dalam golongan orang yang awam, yang masih butuh banyak diajari, maka sudah seharusnya kita mencari orang yang seperti ini, duduk bersama dengannya akan menjadi pengobat hati.

“Ini adalah jenis manusia yang paling baik. Jenis manusia yang memiliki kemapanan ilmu, dan dia tahu kalau dirinya itu berilmu, maka ia menggunakan ilmunya. Ia berusaha semaksimal mungkin agar ilmunya benar-benar bermanfaat bagi dirinya, orang sekitarnya, dan bahkan bagi seluruh umat manusia. Manusia jenis ini adalah manusia unggul. Manusia yang sukses dunia dan akhirat,” ujarnya.

Kedua, Rojulun Yadri wa Laa Yadri Annahu Yadri: Seseorang yang Tahu (berilmu), tapi dia Tidak Tahu kalau dirinya Tahu.

Untuk model ini, bolehlah kita sebut dia seumpama orang yang tengah tertidur. Sikap kita kepadanya membangunkan dia. Manusia yang memiliki ilmu dan kecakapan, tapi dia tidak pernah menyadari kalau dirinya memiliki ilmu dan kecakapan. Manusia jenis ini sering kita jumpai di sekeliling kita. Terkadang kita menemukan orang yang sebenarnya memiliki potensi yang luar biasa, tapi ia tidak tahu kalau memiliki potensi. Karena keberadaan dia seakan gak berguna, selama dia belum bangun manusia ini sukses di dunia tapi rugi di akhirat.

Ketiga, Rojulun Laa Yadri wa Yadri Annahu Laa Yadri: Seseorang yang tidak tahu (tidak atau belum berilmu), tapi dia tahu alias sadar diri kalau dia tidak tahu.

Menurut Imam Ghazali, jenis manusia ini masih tergolong baik. Sebab, ini jenis manusia yang bisa menyadari kekurangannnya. Ia bisa mengintropeksi dirinya dan bisa menempatkan dirinya di tempat yang sepantasnya. Karena dia tahu dirinya tidak berilmu, maka dia belajar.

Dengan belajar itu, sangat diharapkan suatu saat dia bisa berilmu dan tahu kalau dirinya berilmu. Manusia seperti ini sengsara di dunia tapi bahagia di akhirat.

Keempat, Rojulun Laa Yadri wa Laa Yadri Annahu Laa Yadri: Seseorang yang Tidak Tahu (tidak berilmu), dan dia Tidak Tahu kalau dirinya Tidak Tahu.

Menurut Imam Ghazali, inilah adalah jenis manusia yang paling buruk. Ini jenis manusia yang selalu merasa mengerti, selalu merasa tahu, selalu merasa memiliki ilmu, padahal ia tidak tahu apa-apa.

Repotnya manusia jenis seperti ini susah disadarkan, kalau diingatkan ia akan membantah sebab ia merasa tahu atau merasa lebih tahu. Jenis manusia seperti ini, paling susah dicari kebaikannya. Manusia seperti ini dinilai tidak sukses di dunia, juga merugi di akhirat.

Semoga kita terhindar dari golongan yang buruk. Amiin!
Share:

Rabu, 01 Februari 2017

YAKIN, JUSTRU KARENA TIDAK TAHU

“Yakin, justru karena kita benar-benar tidak tahu.” Begitu Cank Nun ungkapkan dalam bukunya Markesot Marketul. Perikata Cak Nun tersebut, tidak dalam kapasitas spectrum: Benar atau salah. Karena ia sendiri berkata juga dalam buku yang sama, “saya benar karena saya telah berhasil menghindar dari hal yang dianggap salah. Tapi saya belum mencapai hal yang benar.”

Oleh karena itu, maka manusia hanya perlu mementingkan “tadris,” yakni upaya mempelajari apa-apa yang ada diluar untuk pematangan diri. Kemudian “tadarrus,” yaitu efektivitas kesadaran tadris demi kemanfaatan seluruh yang membutuhkan. Selanjutnya, baru “ta’lim-ta’allum, tafhim-tafahhum, dan ta’rif-ta’arruf.” “Terserah semuanya mau ditafsirkan sekehandak masing-masing. Toh, yang paling penting dari segala pemaknaan adalah kemanfaatannya untuk orang banyak.” Katanya.

Dari sini, sebenarnya Cak Nun ingin mengungkapkan tentang prinsip rasionalitas seluruh kehidupan, yang bersifat relative, fluktuatif dan paling banter pencapaiannya adalah kebenaran universal. Dan lagi-lagi kebenaran yang seperti ini malah secara tidak disadari akan menimbulkan lebih banyak pertanyaan, tafsiran-tafsiran bahkan kekacauan yang lebih besar. Makanya, jalan satu-satunya lagi-lagi adalah keyakinan. Iya, Yakin. “Tapi bukan keyakinan yang spekulatif, tapi harus berhaluan yang nyata.” Katanya lagi.

“Maka dari itu, marilah berfikir sekarang: Tuhan tidak menciptakan kita berorganisasi, walaupun kenyataannya kita malah lebih suka berorganisasi, bahkan ketika melakukan keburukan, ketengngelan, sungguh memalukan. “ Dan ini, yang banyak difikirkan manusia.

“Tak ada kewajiban bagi manusia untuk menang, yang ada adalah perjuangan sampai mati untuk mencapai kemenangan.” Dan untuk apa sebuah kemenangan jika menang dala padangan kemanusiaan. “Kalau begitu fikirkanlah sebelum kita merasa menang; ketika kita berkelahi dengan anak kecil dan menang. Hal itu bukan kemenangan namanya, tapi kehinaan. Camkanlah, hidup ini probabilistik, bahkan hal yang kita anggap pemenang dan menang, kadang kala tanpa dia sadari dia telah kalah.” Katanya lagi-lagi sampai disisni.. he… wallahu ‘alam bi al-shawaab
Share:

KEBAIKAN SESUNGGUHNYA ADALAH NIAT BAIK YANG DILAKUKAN

“Jika kebaikan itu datangnya dari Allah, maka hasilnya pasti baik. Tapi, jika kebaikan itu datangnya dari manusia, maka akan ada dua kemungkinan: Yang pertama, adakalanya hasilnya baik. Yang kedua, bisa jadi hasilnya tidak baik, karena salah penerapan atau tidak sesuai sasaran.” Begitu kata Ustadz Habiburrah El-Zhirazy, salah seorang novelis di bangsa ini.

Ternyata, manusia memang sangat unik. Maka beruntunglah orang-orang yang dapat memahami karakter dan perilaku satu-persatu. Karena berarti efeknya, kita tidak gampang buruk sangka, sabar ketika berbaur dan tidak mudah memusuhi orang lain. Sebab, kebaikan yang dinalai shaleh oleh agama, namun bagi manusia cocok-ada tidak cocoknya. Kebaikan pasti baik. Cuma manusia tabiatnya memang memiliki kepribadian berbeda-beda. Dan kita harus tahu. Maka siapa bilang jadi pemimpin itu mudah, jadi orang baik itu mudah, bergaul itu mudah, berdakwah itu mudah? Tidak. Jika kita belum benar-benar mengerti.

Aktivitas memberi itu kebaikan, tapi jika memberikan hewan uang untuk membeli makananya sendiri ke pasar. Itu yang disebut gak cocok. Menashati sahabat yang sedang dilema itu juga baik, tapi jika disampaikan dengan menyindir-nyindir. Itu yang disebut tidak mengerti. Begitupun berdakwah itu sangat baik, tapi jika dikeluarkan dengan nada keras dan menyinggung perasaan. Maka itu yang disebut dengan tidak mau tahu.

Makanya Ustadz Habiburrahman el-Zhirazy juga mengatakan dengan mengutip ungkapan dari ulama terdahulu: “bahwa yang membedakan antara ibadah dan sebuah kebiasaan  itu adalah niatnya.” Ketika shalat sekalipun, jika niatnya tidak ikhlas apalagi karena riya’ maka bisa jadi shalatnya menyebabkan dia dijebloskan ke neraka weil. Sebaliknya kita menyingkirkan hal kecil dari jalan umum, maka itu bisa bernilai ibadah atau sedekah. Niat dan niat.

Tentang niat, ustadz Habiburrahman mencontohkan dengan ulama. “Yakni ulama yang benar-benar takut kepada Allah. Maka setan pun menjadi kebingungan bahkan takut terhadap ulama, bahkan saat ia tidur. Setan takut akan mengganggunya, sebab kalau dia terbangun, maka ia akan tau apa yang akan dilakukan olehnya, yaitu ambil wudhu dan melaksanakan ibadah atau shalat. Sementara kalau dibiarkan tidur, itu berarti juga membiarkannya beribadah. Karena tidurnya ulama atau orang berilmu adalah ibadah.” Kata beliau.

Sementara, hubungan antara mengerti, tahu dan niat adalah sama-sama soal hal-hal yang berkisar dalam perasaan. Jika mengerti, tahu dan niat tertata rapi sesuai posisinya masing-masing. Maka, sekali lagi kita sangat pantas disebut BAIK.
Share:

GHINA ("KAYA") ARTINYA TIDAK BUTUH APA-APA LAGI

Jaman, sedemikian glamor dan menuntut seperti sekarang,  yang namanya uang, kekayaan dan gengsi seolah menjadi cerminan moralitas jati diri manusia. Tentu hal itu wajar-wajar saja, asal tujuan akhirnya adalah ridha Tuhan. Karena Islam memang tidak melarang manusia menjadi kaya. Asal jangan sampai kekayaan yang dimiliki justru menjerumuskan dan menjadi gaya kita memberi contoh pada anak-keturunan kita. Tentu, maksudnya agar memutus rantai sifat malas yang dimiliki bangsa ini.

Ustadz Yunahar Ilyas dalam subuah kajiannya mengatakan, “Semakin kaya seseorang , ia akan semakin membutuhkan orang lain dan pemalas.” Dengan nada bercanda beliau melanjutkan, “Makanya banyak orang kaya yang kadang ngangkat pulpen aja tidak kuat, hingga harus dibawain. Bawa tas juga kadang gak kuat, hingga harus ada yang nentengin. Bahkan kadang ada yang buka buku aja gak kuat, hingga harus dibukain kemudian tanda tangan. Apalagi ketika harus menjaga harta-hartanya yang banyak, siapa lagi kalau bukan orang lain.”

Beliau menjabarkan, tentang bahasa arab yang sering dibakai manusia dalam menyampaikan soal kekayaan, yakni kata al-Ghani. Padahal makna sesungguhnya al-Ghani adalah seseorang yang kaya yang dengan itu ia tidak membutuhkan apapun lagi dari yang selainnya, termasuk dalam menjagakannya. Padahal manusia tidak mungkin jika tidak butuh pada hal lain, sekaya apapun dia. Artinya manusia hanya meminjam kata al-Ghani dari Allah tapi tidak pernah memilikinya. Beliau juga mengutip sebuah ungkapa “nahnu al-fuqara’ ilallah.”

Dalam akhir kajiannya, beliau menghimbau bahwa harta yang kita miliki hanyalah titipan Allah. Paling lama, sampai mati. Tapi ada juga yang tidak terlalu tua, namun sudah tidak bias menikmati kekayaan yang dimilikinya, termasuk kesehatan yang dipunyai oleh orang-orang miskin. Jadi, wasdalah kalaupun kita ditakdirkan menjadi kaya, maka jangan lupa. Bersedekah, zakat dll, karena disitu ada hak orang-orang miskin yang wajib diberikan. Wallahu a’lam bi al-shawaab
Share:

Imam Syafi’i: ‘Perkara yang diada-adakan terbagi dua

وقوله صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: "وكل بدعة ضلالة" وهو من العام الذي أريد به الخاص بدليل قوله صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ المخرج في "الصحيح": "من أحدث في أمرنا هذا ما ليس منه فهو رد". وقد ثبت عن الإمام الشافعي قوله: المحدثات من الأمور ضربان أحدهما: ما أحدث يخالف كتاباً أو سنة أو أثراً أو إجماعاً، فهذه البدعة الضلالة. وما أحدث من الخير لا خلاف فيه لواحد من هذا، فهذه محدثة غير مذمومة. رواه البيهقي في "المدخل".

Artinya, “Ucapan Rasulullah SAW ‘Setiap bid‘ah itu sesat’ secara bahasa berbentuk umum, tapi maksudnya khusus seperti keterangan hadits Rasulullah SAW yang diriwayatkan dalam Shahih Bukhari, ‘Siapa saja yang mengada-ada di dalam urusan kami yang bukan bersumber darinya, maka tertolak’. Riwayat kuat menyebutkan Imam Syafi’i berkata, ‘Perkara yang diada-adakan terbagi dua. Pertama, perkara baru yang bertentangan dengan Al-Quran, Sunah Rasul, pandangan sahabat, atau kesepakatan ulama, ini yang dimaksud bid‘ah sesat. Kedua, perkara baru yang baik-baik tetapi tidak bertentangan dengan sumber-sumber hukum tersebut, adalah bid‘ah yang tidak tercela,’” (Lihat Al-Baihaqi dalam Al-Madkhal, Halaman 206)

Pandangan Imam Syafi’i kemudian dipertegas oleh ulama Madzhab Hanbali, Ibnu Rajab Al-Hanbali sebagai berikut.

وقال الحافظ ابن رجب الحنبلي: والمرادُ بالبدعة: ما أحدث مما لا أصل له في الشريعة يَدُل عليه، أما ما كان له أصل من الشرع يدل عليه، فليس ببدعة شرعاً، وإن كان بدعة لغة.

Artinya, “Ibnu Rajab Al-Hanbali mengatakan, ‘Yang dimaksud bid‘ah sesat itu adalah perkara baru yang tidak ada sumber syariah sebagai dalilnya. Sedangkan perkara baru yang bersumber dari syariah sebagai dalilnya, tidak termasuk kategori bid‘ah menurut syara’/agama meskipun masuk kategori bid‘ah menurut bahasa,’” (Lihat Ibnu Rajab Al-Hanbali pada Syarah Shahih Bukhari).
Share:

BID'AH KATA UMAR BIN KHATTAB

وَعَنْ ابْنِ شِهَابٍ عَنْ عُرْوَةَ بْنِ الزُّبَيْرِ عَنْ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ عَبْدٍ الْقَارِيِّ أَنَّهُ قَالَ خَرَجْتُ مَعَ عُمَرَ بْنِ الْخَطَّابِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ لَيْلَةً فِي رَمَضَانَ إِلَى الْمَسْجِدِ فَإِذَا النَّاسُ أَوْزَاعٌ مُتَفَرِّقُونَ يُصَلِّي الرَّجُلُ لِنَفْسِهِ وَيُصَلِّي الرَّجُلُ فَيُصَلِّي بِصَلَاتِهِ الرَّهْطُ فَقَالَ عُمَرُ إِنِّي أَرَى لَوْ جَمَعْتُ هَؤُلَاءِ عَلَى قَارِئٍ وَاحِدٍ لَكَانَ أَمْثَلَ ثُمَّ عَزَمَ فَجَمَعَهُمْ عَلَى أُبَيِّ بْنِ كَعْبٍ ثُمَّ خَرَجْتُ مَعَهُ لَيْلَةً أُخْرَى وَالنَّاسُ يُصَلُّونَ بِصَلَاةِ قَارِئِهِمْ قَالَ عُمَرُ نِعْمَ الْبِدْعَةُ هَذِهِ وَالَّتِي يَنَامُونَ عَنْهَا أَفْضَلُ مِنْ الَّتِي يَقُومُونَ يُرِيدُ آخِرَ اللَّيْلِ وَكَانَ النَّاسُ يَقُومُونَ أَوَّلَهُ

Dan dari Ibnu Syihab dari 'Urwah bin Az Zubair dari 'Abdurrahman bin 'Abdul Qariy bahwa dia berkata; "Aku keluar bersama 'Umar bin Al Khaththob radliallahu 'anhu pada malam Ramadhan menuju masjid, ternyata orang-orang shalat berkelompok-kelompok secara terpisah-pisah, ada yang shalat sendiri dan ada seorang yang shalat diikuti oleh ma'mum yang jumlahnya kurang dari sepuluh orang. Maka 'Umar berkata: "Aku pikir seandainya mereka semuanya shalat berjama'ah dengan dipimpin satu orang imam, itu lebih baik". Kemudian Umar memantapkan keinginannya itu lalu mengumpulkan mereka dalam satu jama'ah yang dipimpin oleh Ubbay bin Ka'ab. Kemudian aku keluar lagi bersamanya pada malam yang lain dan ternyata orang-orang shalat dalam satu jama'ah dengan dipimpin seorang imam, lalu 'Umar berkata: "Sebaik-baiknya bid’ah adalah ini. Dan mereka yang tidur terlebih dahulu adalah lebih baik daripada yang shalat awal malam, yang ia maksudkan untuk mendirikan shalat di akhir malam, sedangkan orang-orang secara umum melakukan shalat pada awal malam. (H.R Bukhari No. Hadist: 1871)
Share:

BID'AH KATA UMAR BIN ABDUL AZIZ

أَخْبَرَنَا عَمْرُو بْنُ يَحْيَى قَالَ حَدَّثَنَا مَحْبُوبٌ يَعْنِي ابْنَ مُوسَى قَالَ أَنْبَأَنَا أَبُو إِسْحَقَ وَهُوَ الْفَزَارِيُّ عَنْ الْأَوْزَاعِيِّ قَالَ كَتَبَ عُمَرُ بْنُ عَبْدِ الْعَزِيزِ إِلَى عُمَرَ بْنِ الْوَلِيدِ كِتَابًا فِيهِ وَقَسْمُ أَبِيكَ لَكَ الْخُمُسُ كُلُّهُ وَإِنَّمَا سَهْمُ أَبِيكَ كَسَهْمِ رَجُلٍ مِنْ الْمُسْلِمِينَ وَفِيهِ حَقُّ اللَّهِ وَحَقُّ الرَّسُولِ وَذِي الْقُرْبَى وَالْيَتَامَى وَالْمَسَاكِينِ وَابْنِ السَّبِيلِ فَمَا أَكْثَرَ خُصَمَاءَ أَبِيكَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ فَكَيْفَ يَنْجُو مَنْ كَثُرَتْ خُصَمَاؤُهُ وَإِظْهَارُكَ الْمَعَازِفَ وَالْمِزْمَارَ بِدْعَةٌ فِي الْإِسْلَامِ وَلَقَدْ هَمَمْتُ أَنْ أَبْعَثَ إِلَيْكَ مَنْ يَجُزُّ جُمَّتَكَ جُمَّةَ السُّوءِ

Telah mengabarkan kepada kami 'Amr bin Yahya, ia berkata; telah menceritakan kepada kami Mahbub yaitu Ibnu Musa, ia berkata; telah memberitakan kepada kami Abu Ishaq yaitu Al Fazari dari Al Auza'I, ia berkata; Umar bin Abdul Aziz mengirim surat kepada Umar bin Walid yang isinya adalah: dan pembagian ayahmu kepadamu seperlima seluruhnya, sesungguhnya bagian ayahmu seperti bagian seseorang dari kaum muslimin dan didalamnya ada haq Allah dan haq rasul, kaum kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin, dan Ibn Sabil, maka betapa banyak penuntut ayahmu pada hari kiamat kelak, dan bagaimana ia bisa selamat orang yang banyak penututnya, dan engkau menampakkan alat musik dan seruling adalah bid'ah didalam Islam dan sungguh aku ingin mengirim seseorang kepadamu untuk memotong rambutmu yaitu rambut yang buruk. (H.R An-Nasa'i)

عَنْ أَبِي الصَّلْتِ قَالَ كَتَبَ رَجُلٌ إِلَى عُمَرَ بْنِ عَبْدِ الْعَزِيزِ يَسْأَلُهُ عَنْ الْقَدَرِ فَكَتَبَ أَمَّا بَعْدُ أُوصِيكَ بِتَقْوَى اللَّهِ وَالِاقْتِصَادِ فِي أَمْرِهِ وَاتِّبَاعِ سُنَّةِ نَبِيِّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَتَرْكِ مَا أَحْدَثَ الْمُحْدِثُونَ بَعْدَ مَا جَرَتْ بِهِ سُنَّتُهُ وَكُفُوا مُؤْنَتَهُ فَعَلَيْكَ بِلُزُومِ السُّنَّةِ فَإِنَّهَا لَكَ بِإِذْنِ اللَّهِ عِصْمَةٌ ثُمَّ اعْلَمْ أَنَّهُ لَمْ يَبْتَدِعْ النَّاسُ بِدْعَةً إِلَّا قَدْ مَضَى قَبْلَهَا مَا هُوَ دَلِيلٌ عَلَيْهَا أَوْ عِبْرَةٌ فِيهَا

4612. Dari Abu Shalt, ia berkata, "Ada seorang lelaki yang menulis surat kepada Umar bin Abdul Aziz. Di dalam suratnya ia bertanya tentang masalah takdir. Maka Umar bin Abdul Aziz menjawab:"Amma ba'du. Aku berwasiat kepadamu agar kamu bertakwa kepada Allah SWT, konsisten menjalankan perintah-Nya dan mengikuti Sunnah Nabi-Nya, meninggalkan apa-apa yang dibuat oleh orang yang mengada-ngada (pelaku bid’ah) yang bertentangan dengan Sunnah Rasulullah yang selama sudah berjalan. Hendaklah kamu berpegang teguh kepada Sunnah Nabi SAW. Sebab, dengan izin Allah SWT, Sunnah tersebut akan menjagamu dari kesesatan. Ketahuilah, sesunguhnya tidak ada satupun bid’ah kecuali telah ada penjelasan dalil mengenai kebida'ahannya; baik secara tegas atau isyarat. (H.R Abu Daud fi sunanihi)
Share:

BID'AH KATA ABU MALIK AL-ASYJA'I

أخْبَرَنَا قُتَيْبَةُ عَنْ خَلَفٍ وَهُوَ ابْنُ خَلِيفَةَ عَنْ أَبِي مَالِكٍ الْأَشْجَعِيِّ عَنْ أَبِيهِ قَالَ صَلَّيْتُ خَلْفَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَلَمْ يَقْنُت وَصَلَّيْتُ خَلْفَ أَبِي بَكْرٍ فَلَمْ يَقْنُتْ وَصَلَّيْتُ خَلْفَ عُمَرَ فَلَمْ يَقْنُتْ وَصَلَّيْتُ خَلْفَ عُثْمَانَ فَلَمْ يَقْنُتْ وَصَلَّيْتُ خَلْفَ عَلِيٍّ فَلَمْ يَقْنُتْ ثُمَّ قَالَ يَا بُنَيَّ إِنَّهَا بِدْعَةٌ

Telah mengabarkan kepada kami Qutaibah dari Khalaf bin Khalifah dari Abu Malik Al Asyja'i dari bapaknya dia berkata; "Aku pernah shalat di belakang Rasulullah Shallallahu'alaihi wasallam, dan beliau tidak qunut. Aku juga pernah shalat di belakang Abu Bakar, dan ia tidak qunut. Aku pernah shalat di belakang Umar, dan beliau tidak qunut. Aku pernah shalat di belakang Utsman, dan beliau tidak qunut. Aku juga pernah shalat di belakang Ali, dan beliau juga tidak qunut. Kemudian ia berkata, 'Wahai anakku, itu adalah bid'ah." (H.R An-Nasa'i)
Share:

BID'AH KATA IBNU UMAR atau ABDULLAH BIN UMAR

حَدَّثَنَا قُتَيْبَةُ حَدَّثَنَا جَرِيرٌ عَنْ مَنْصُورٍ عَنْ مُجَاهِدٍ قَالَ دَخَلْتُ أَنَا وَعُرْوَةُ بْنُ الزُّبَيْرِ الْمَسْجِدَ فَإِذَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ عُمَرَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا جَالِسٌ إِلَى حُجْرَةِ عَائِشَةَ وَإِذَا نَاسٌ يُصَلُّونَ فِي الْمَسْجِدِ صَلَاةَ الضُّحَى قَالَ فَسَأَلْنَاهُ عَنْ صَلَاتِهِمْ فَقَالَ بِدْعَةٌ

Telah menceritakan kepada kami Qutaibah telah menceritakan kepada kami Jarir dari Manshur dari Mujahid berkata; Ketika aku dan 'Urwah bin Az Zubair masuk kedalam masjid disana ada 'Abdullah bin 'Umar radliallahu 'anhu sedang duduk di bilik rumah 'Aisyah radliallahu 'anha, sedang orang-orang melaksanakan shalat Dhuha dalam masjid". Dia (Mujahid) berkata: "Maka kami bertanya kepadanya tentang shalat yang mereka kerjakan, maka dia berkata: "Itu adalah bid’ah". (H.R Bukhari. No. 1652)

عَنْ مُجَاهِدٍ قَالَ كُنْتُ مَعَ ابْنِ عُمَرَ فَثَوَّبَ رَجُلٌ فِي الظُّهْرِ أَوْ الْعَصْرِ قَالَ اخْرُجْ بِنَا فَإِنَّ هَذِهِ بِدْعَةٌ

538. Dari Mujahid, dia berkata, 'Aku pernah bersama Ibnu Umar, lalu seorang Muadzin mengucapkan, 'Ash-shalaatu khairum minan nauum' dalam adzan shalat Dzuhur atau Ashar. Ibnu Umar berkata, 'Keluarlah dengan kami, sesungguhnya ini perbuatan bid’ah.'" (Hasan) (H.R Abu Daud fi sunanihi)
Share:
TERIMA KASIH, DAN SELAMAT DATANG