السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ

بِسْــــــــــــــــــمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ
Tampilkan postingan dengan label Artikel dan Dakwah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Artikel dan Dakwah. Tampilkan semua postingan

Selasa, 14 Februari 2017

TAQWA MENURUT AL-QUR'AN

Taqwa, arti dasarnya adalah takut. Menurut ulama sederhanaya adalah melakukan apa-apa yang diperintahkan dan menjauhi larangan-laranganNya. Sedangkan menurut al-Qur’an, taqwa adalah iman kepada yang ghaib, melaksanakan shalat, menginfaqkan harta atau menunaikan zakat, beriman kepada kitab-kitab Allah yang terdahulu hingga al-Qur’an, dan beriman kepada hari akhirat. Allah berfirman:

الَّذِينَ يُؤْمِنُونَ بِالْغَيْبِ وَيُقِيمُونَ الصَّلَاةَ وَمِمَّا رَزَقْنَاهُمْ يُنْفِقُون, وَالَّذِينَ يُؤْمِنُونَ بِمَا أُنزلَ إِلَيْكَ وَمَا أُنزلَ مِنْ قَبْلِكَ وَبِالآخِرَةِ هُمْ يُوقِنُونَ

(yaitu) orang-orang yang beriman kepada yang gaib, yang mendirikan shalat, dan menafkahkan sebahagian rezki yang Kami anugerahkan kepada mereka. dan mereka yang beriman kepada kitab (Al-Qur'an) yang telah diturunkan kepadamu dan kitab-kitab yang telah diturunkan sebelummu, serta mereka yakin akan adanya (kehidupan) akhirat. (QS. Al-Baqarah: 2-4)

Adapun contoh yang paling akurat dalam hal ini, adalah para Nabi dan para sahabat. Nabi Muhammad saw yang jelas-jelas ma’sum, yakni terlepas dari segala dosa serta sudah pasti dimasukkan kesurganya Allah. Namun, intensitas ibadah beliau tetap istiqamah. Bahkan dalam sebuah riwayat dikatakan, pernah lama sujud dan ruku’nya Nabi saat shalat malam, panjangnya sama ketika saat berdirinya. Padahal berdirinya, beliau membaca surat al-baqarah, al-nisa’ dan al-anfal.

Begitu pun para sahabat, seperti Abu Bakar, Umar bin Khattab, Utsman bin Affan, Ali binAbi Thalib, Zubair, Thalhah dan lain-lain. Mereka semua telah didoakan oleh Rasulullah agar dimasukkan ke surga. Artinya, mereka juga telah mendapat jaminan surga. Namun, mereka dikenal hingga sekarang dengan ibadah-ibadah dan ketaatannya yang kuat.

Oleh karenanya, kedudukan taqwa lebih tinggi dari pada konsepsi ketakutan kepada Allah yang lain, seperti khauf,  khasyyah dan termasuk kegiatan ibadah-ibadah yang lain. Sebagaimana firman Allah dalam surat al-Maidah ayat 102:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقاتِهِ وَلا تَمُوتُنَّ إِلاَّ وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ

Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah sebenar-benar takwa kepada-Nya; dan janganlah sekali-kali kalian mati melainkan dalam keadaan beragama Islam. (QS. Al-Maidah: 102)

Ayat ini menekankan umat Islam agar senantiasa bertaqwa kepada Allah dengan hakNya taqwa. Padahal Imam pengarang kitab Nashaih al-Diniyah mengungkapkan; bahwa hak Allah sangat luas memenuhi segala apa yang ada dilangit maupun yang di bumi. Umur-umur manusia seandainya seluruhnya dihabiskan dengan maksud memenuhi hak Allah. Maka segala upaya tersebut sama sekali tidak akan memenuhinya, saking besar dan luasnya hak Allah.

Himbauan untuk bertaqwa dalam al-Qur’an jumlahnya sangat banyak sekali, lebih dari pada ayat-ayat tentang khauf dan khasyyah (lihat di mu’jam al-Mufarras). Dari perbedaan jumlah ini, juga menunjukkan bahwa taqwa itu lebih utama dari keduanya. Taqwa sangat penting karena ia adalah pakaian yang lebih baik. frimaNya:

يَا بَنِي آدَمَ قَدْ أَنزلْنَا عَلَيْكُمْ لِبَاسًا يُوَارِي سَوْآتِكُمْ وَرِيشًا وَلِبَاسُ التَّقْوَى ذَلِكَ خَيْرٌ ذَلِكَ مِنْ آيَاتِ اللَّهِ لَعَلَّهُمْ يَذَّكَّرُونَ

Hai anak Adam, sesungguhnya Kami telah menurunkan kepada kalian pakaian untuk menutupi aurat kalian dan pakaian indah untuk perhiasan. Dan pakaian takwa itulah yang paling baik. Yang demikian itu adalah sebagian dari tanda-tanda kekuasaan Allah, mudah-mudahan mereka selalu ingat. (QS. al-A’raf: 26)

Taqwa juga adalah bekal terbaik, firmanNya:

وَتَزَوَّدُوا فَإِنَّ خَيْرَ الزَّادِ التَّقْوَى وَاتَّقُونِ يَا أُولِي الألْبَابِ

Berbekallah, dan sesungguhnya sebaik-baik bekal adalah takwa dan bertakwalah kepada-Ku, hai orang-orang yang berakal. (QS. al-Baqarah: 197)

Bahwa sifat pemaaf adalah mendekatkan pada ketaqwaan, firmanNya:

وَأَنْ تَعْفُوا أَقْرَبُ لِلتَّقْوَى وَلا تَنْسَوُا الْفَضْلَ بَيْنَكُمْ إِنَّ اللَّهَ بِمَا تَعْمَلُونَ بَصِيرٌ

Dan pemaafan kalian itu lebih dekat kepada takwa. Dan janganlah kalian melupakan keutamaan di antara kalian. Sesungguhnya Allah Maha Melihat segala apa yang kalian kerjakan. (QS. al-Baqarah: 237)

Bahwa keadilan lebih dekat kepada taqwa, firmanNya:

وَلَا يَجْرِمَنَّكُمْ شَنَآنُ قَوْمٍ عَلَى أَلَّا تَعْدِلُوا اعْدِلُوا هُوَ أَقْرَبُ لِلتَّقْوَى وَاتَّقُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ خَبِيرٌ بِمَا تَعْمَلُونَ

Dan janganlah sekali-kali kebencian kalian terhadap sesuatu kaum mendorong kalian untuk berlaku tidak adil. Berlaku adillah, karena adil itu lebih dekat kepada takwa. Dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kalian kerjakan. (QS. al-Maidah: 8)

Bahwa hamba yang mulia disisi Allah adalah mereka yang taqwa, firmanNya:

يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّا خَلَقْنَاكُمْ مِنْ ذَكَرٍ وَأُنْثَى وَجَعَلْنَاكُمْ شُعُوبًا وَقَبَائِلَ لِتَعَارَفُوا إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ إِنَّ اللَّهَ عَلِيمٌ خَبِيرٌ

Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa di antara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal. (QS. al-Hujarat: 13)

Bahwa Allah mencintai orang-orang yang bertaqwa, firmanNya:

بَلَى مَنْ أَوْفَى بِعَهْدِهِ وَاتَّقَى فَإِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْمُتَّقِين

Sebenarnya siapa yang menepati janji (yang dibuat)nya dan bertakwa, maka sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang bertakwa. (QS. Ali Imran: 76)

Bahwa ketaqwaan akan menghapus kesalahan, firmanNya:

ذَلِكَ أَمْرُ اللَّهِ أَنزلَهُ إِلَيْكُمْ وَمَنْ يَتَّقِ اللَّهَ يُكَفِّرْ عَنْهُ سَيِّئَاتِهِ وَيُعْظِمْ لَهُ أَجْرًا

Itulah perintah Allah yang diturunkan-Nya kepada kamu; dan barang siapa yang bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan menghapus kesalahan-kesalahannya dan akan melipatgandakan pahala baginya. (QS. al-Thalaq: 5)

Bahwa ketaqwaan dapat memberi jalan keluar atau solusi dan rizki yang tak terduga, firmanNya:

وَمَنْ يَتَّقِ اللَّهَ يَجْعَلْ لَهُ مَخْرَجًا, وَيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُ

Barang siapa yang bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar. Dan memberinya rezeki dari arah yang tiada disangka-sangkanya. (QS. al-Thalaq: 2)

Bahwa Allah adalah pelindung atau wali bagi orang-orang yang bertaqwa, firmanNya:

وَاللَّهُ وَلِيُّ الْمُتَّقِينَ

Dan Allah adalah pelindung orang-orang yang bertakwa. (QS. al-Jatsiyah: 19)

[(Dan masih banyak lagi ayat-ayat yang setema dengan ayat-ayat di atas, hanya saja agar tidak terlalu banyak, maka penulis tidak cantumkan semua)]

Sementara itu, al-Qur’an hanya menyandingkan taqwa dengan khasyyah saja, tidak dengan khauf juga. Begitu al-Qur’an menjelaskan bahwa orang yang taqwa dialah yang khasyyah kepada Allah. firmanNya:

وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ وَيَخْشَ اللَّهَ وَيَتَّقْهِ فَأُولَئِكَ هُمُ الْفَائِزُونَ

Dan barang siapa yang taat kepada Allah dan rasul-Nya dan takut kepada Allah dan bertakwa kepada-Nya, maka mereka adalah orang-orang yang mendapat kemenangan. (QS. al-Nur: 52)

Dalam ayat yang lain, Allah berfirman:

وَذِكْرًا لِلْمُتَّقِينَ , الَّذِينَ يَخْشَوْنَ رَبَّهُمْ بِالْغَيْبِ وَهُمْ مِنَ السَّاعَةِ مُشْفِقُونَ

Serta pengajaran bagi orang-orang yang bertakwa, (yaitu) orang-orang yang takut akan (azab) Tuhan mereka, sedangkan mereka tidak melihat-Nya, dan mereka merasa takut akan (tibanya) hari kiamat. (Al-Anbiya: 48-49).

Kemudian yang paling penting, bahwa balasan atau tempat-tempat di akhirat bagi orang-orang yang bertaqwa sangat banyak dan mulia, di antara salah satunya termaktub dalam firmanNya berikut ini:

إِنَّ الْمُتَّقِينَ فِي جَنَّاتٍ وَعُيُونٍ

Sesungguhnya orang-orang yang bertaqwa itu berada dalam surga (taman-taman) dan (di dekat) mata air-mata air (yang mengalir). (QS. al-Hijr: 45)

إِنَّ الْمُتَّقِينَ فِي ظِلَالٍ وَعُيُونٍ ,وَفَوَاكِهَ مِمَّا يَشْتَهُونَ

Sesungguhnya orang-orang yang bertakwa berada dalam naungan (yang teduh) dan (di sekitar) mata air-mata air. Dan (mendapat) buah-buahan dari (macam-macam) yang mereka ingini. (Dikatakan kepada mereka), (QS. al-Mursalat: 41-42)

إِنَّ لِلْمُتَّقِينَ عِنْدَ رَبِّهِمْ جَنَّاتِ النَّعِيمِ

Sesungguhnya bagi orang-orang yang bertakwa (disediakan) surga-surga yang penuh kenikmatan di sisi Tuhannya. (QS. al-Qalam: 34)

[(Dan masih banyak lagi ayat-ayat yang tidak bisa disebutkan di sini agar tidak terlalu memenuhi halaman ini)]

Maka dari itu, kejarlah keagungan taqwa tersebut, lakukanlah kiat-kiatnya. Tentu memang tidak mudah, tapi bukan berarti mustahil. Tidak ada yang mustahil didunia ini, itulah janji Allah. Allahu akbar walillah al-hamd.

Wallahu a’lam bi al-shawaab.
Share:

Rabu, 01 Februari 2017

KHASYYAH

Sekali lagi yang penulis coba kaji terkait pengertian takut (khasyyah) yang hendak dibahas di sini adalah dalam perspektif al-Qur’an. Jadi penulis hanya menfokuskan pembahasan pada bagaimana dan seperti apa retorika khasyyah secara keseluruhan dalam al-Qur’an.

Khasyyah; dalam bahasa Indonesia berarti takut. Jika taqwa (takut) adalah ketakutan yang menuntut intensitas spiritual sekaligus konstitusionalitas kepada Allah,  dan jika khauf (takut) yang dimaksud adalah ketakutan yang besifat tendensius dan umum (awam). maka khasyyah merupakan perasaan takut dengan segala aspek-aspek terdalam pada diri Manusia. Ketakutan yang timbul dari kesadaran terpuji akan Allah.

Termasuk malakukan atau tidak melakukan sesuatu adalah karena mengharap ridhoNya. Imam Ibnu Hajar al-Asqalani adalah seorang ulama yang sangat getol menuntut ilmu, hanya saja beliau tidak menikah. Padahal kata Nabi, 'nikah itu adalah sunnahnya'. Namun, perlu diingat bahwa tidak menikahnya imam Ibnu Hajar karena pertimbangan hal yang juga dapat mendekatkanya pada Allah, yakni mencintai ilmu Allah, yang sesungguhnya adalah wajib bagi seorang muslim menuntutnya. Dan masih banyak lagi contoh yang lainnya.

Dengan kata lain, seandainya kita harus menikah maka hal itu dilakukannya karena Allah, seandainya harus bebuat baik maka itu diniatkan karena Allah, seandainya tersenyum maka senyum tersebut karena Allah dan sebagainya. Dan ketakutan yang demikian sangat khusus, Manusiawi, penuh kometmen, dan hanya kepada serta untuk Allah semata. sebagaimana firmanNya:

وَلا يَخْشَوْنَ أَحَدًا إِلا اللَّهَ

dan mereka tiada merasa takut (Khasyyah) kepada seorang (pun) selain kepada Allah. (al-Ahzab: 39).

Maka tak heran ketika Allah berfirman bahwa sesungguhnya yang khasyyah (takut) dari hamba-hambaNya hanyalah para Ulama, firmanNya:

إِنَّمَا يَخْشَى اللَّهَ مِنْ عِبَادِهِ الْعُلَمَاءُ

Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya, hanyalah ulama. (Fathir: 28)

Ibnu Abbas berkata yang dimaksud dengan Ulama adalah orang-orang yang mengetahui bahwa Allah Maha kuasa atas segala sesuatu. Al-Hasan Al-Basri mengatakan bahwa Ulama atau orang yang alim ialah orang yang takut kepada Tuhan Yang Maha Pemurah sekalipun dia tidak melihat-Nya, menyukai apa yang disukai-Nya, dan menjauhi apa yang dimurkai-Nya. Ahmad ibnu Saleh Al-Masri telah meriwayatkan dari Ibnu Wahb, dari Malik yang mengatakan, "Sesungguhnya Ulama itu bukanlah karena banyak meriwayatkan hadis, melainkan ilmu itu adalah cahaya yang dijadikan oleh Allah di dalam kalbu."

Sehingga tidurnya ulama yang takut kepada Allah akan bernilai ibadah. Setan selalau delimatis menghadapi ulama, jika diganggu tidurnya maka ia (Ulama) sangat tahu apa yang harus dilakukannya saat terbangun, yakni mengambil wudhu’ dan beribadah, tidak diganggu pun dan tetap terlelap maka berarti masa ibadahnya semakin panjang.

Selain Ulama, yang khasyyah kepada Allah juga para penyampai risalahNya (para Nabi), firmanNya:

الَّذِينَ يُبَلِّغُونَ رِسَالاتِ اللَّهِ وَيَخْشَوْنَهُ وَلا يَخْشَوْنَ أَحَدًا إِلا اللَّهَ وَكَفَى بِاللَّهِ حَسِيبًا

(yaitu) orang-orang yang menyampaikan risalah-risalah Allah, mereka takut kepada-Nya dan mereka tiada merasa takut kepada seorang (pun) selain kepada Allah. Dan cukuplah Allah sebagai Pembuat Perhitungan. (al-Ahzab: 39).

Kemudian, khasyyah dan taqwa disinggung dalam satu ayat oleh al-Qur’an, keduanya memiliki sebuah persamaan. Pertama, sama-sama termasuk orang-orang yang beruntung (Faaiziin), firmanNya:

وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ وَيَخْشَ اللَّهَ وَيَتَّقْهِ فَأُولَئِكَ هُمُ الْفَائِزُونَ

Dan barang siapa yang taat kepada Allah dan rasul-Nya dan takut kepada Allah dan bertakwa kepada-Nya, maka mereka adalah orang-orang yang mendapat kemenangan. (al-Nur: 52).

Persamaan keduanya, sama-sama gemetar atau bergetar kulit dan hatinya ketika diperdengarkan ayat-ayat al-Qur’an. firmanNya:

اللَّهُ نزلَ أَحْسَنَ الْحَدِيثِ كِتَابًا مُتَشَابِهًا مَثَانِيَ تَقْشَعِرُّ مِنْهُ جُلُودُ الَّذِينَ يَخْشَوْنَ رَبَّهُمْ ثُمَّ تَلِينُ جُلُودُهُمْ وَقُلُوبُهُمْ إِلَى ذِكْرِ اللَّهِ ذَلِكَ هُدَى اللَّهِ يَهْدِي بِهِ مَنْ يَشَاءُ وَمَنْ يُضْلِلِ اللَّهُ فَمَا لَهُ مِنْ هَادٍ

Allah telah menurunkan perkataan yang paling baik (yaitu) Al Qur'an yang serupa (mutu ayat-ayatnya) lagi berulang-ulang, gemetar karenanya kulit orang-orang yang takut kepada Tuhannya, kemudian menjadi tenang kulit dan hati mereka di waktu mengingat Allah. Itulah petunjuk Allah, dengan kitab itu Dia menunjuki siapa yang dikehendaki-Nya. Dan barang siapa yang disesatkan Allah, maka tidak ada seorang pun pemberi petunjuk baginya. (az-Zumar: 23).

Namun, antara khasyyah dan taqwa adalah lebih tinggi taqwa karena orang-orang yang bertaqwa telah melewati fase khasyyah, sebagaimana firmanNya:

وَذِكْرًا لِلْمُتَّقِينَ , الَّذِينَ يَخْشَوْنَ رَبَّهُمْ بِالْغَيْبِ وَهُمْ مِنَ السَّاعَةِ مُشْفِقُونَ

Serta pengajaran bagi orang-orang yang bertakwa, (yaitu) orang-orang yang takut akan (azab) Tuhan mereka, sedangkan mereka tidak melihat-Nya, dan mereka merasa takut akan (tibanya) hari kiamat. (Al-Anbiya: 48-49).

Sedangkan khasyyah dan khauf oleh al-Qur’an dimanifestasikan secara berbeda. Khasyyah adalah berhubungan dengan kehendak Allah yang transendent-fundamental, lalu khauf sangat berkaitan dengan situasi profan dan upaya manusia. Sehingga dalam ayat-ayat khasyyah yang paling ditekankan adalah ketakutan kepada Allah daripada yang selainnya. Sebagaimana firmanNya:

وَيَخْشَوْنَ رَبَّهُمْ وَيَخَافُونَ سُوءَ الْحِسَابِ

Dan mereka takut kepada Tuhannya dan takut kepada hisab yang buruk.
(Al-Ra’du: 21)

Hal yang bisa diterangkan dari ayat ini, bahwa ketika ketakutan itu adalah ketakutan kepada Robbnya, maka ia menggunakan lafadz khasyyah. Namun, ketika ketakutan yng dimaksud merupakan ketakutan akan kejelekan hisab (di mana hasilnya kan sangat tergantung pada agaimana Manusia tersebut berproses), maka ia menggunakan lafadz khauf.

Ayat berikutnya:
وَلا تَقْتُلُوا أَوْلادَكُمْ خَشْيَةَ إِمْلاقٍ نَحْنُ نَرْزُقُهُمْ وَإِيَّاكُمْ

Dan janganlah kalian membunuh anak-anak kalian karena takut kemiskinan. Kamilah yang akan memberi rezeki kepada mereka dan juga kepada kalian (al-Isra’: 31).

Ayat ini, mengandung penekanan akan keharusan yakin akan rejeki yang telah ditakdirkan (transendent) dan pasti akan dikaruniakan oleh Allah. Maka dari itu, jangan membunuh seorang anak hanya karena takut miskin (profan dan tergantung usaha manusia), karena hal itu sia-sia dan tidak dapat merubah apapun.

Ayat selanjutnya:
أَتَخْشَوْنَهُمْ فَاللَّهُ أَحَقُّ أَنْ تَخْشَوْهُ إِنْ كُنْتُمْ مُؤْمِنِينَ

Mengapakah kamu takut kepada mereka padahal Allah-lah yang berhak untuk kamu takuti, jika kamu benar-benar orang yang beriman. (Al-Taubah: 13)
وَتَخْشَى النَّاسَ وَاللَّهُ أَحَقُّ أَنْ تَخْشَاهُ

Dan kamu takut kepada manusia, sedang Allah-lah yang lebih berhak untuk kamu takuti. (Al-Ahzab: 37).

Terakhir, sebagaimana khauf, Allah tidak mungkin menyia-nyiakan hal sekecil apapun yang diperbuat hambaNya. Apalagi ini adalah hal luar biasa. Jadi Allah juga memberikan bonusnya kepada mereka-mereka yang bersikap khasyyah, yakni sebuah pengampunan dan pahala yang besar. Allah berfirman dalam kitabNya:
إِنَّ الَّذِينَ يَخْشَوْنَ رَبَّهُمْ بِالْغَيْبِ لَهُمْ مَغْفِرَةٌ وَأَجْرٌ كَبِيرٌ

Sesungguhnya orang-orang yang takut kepada Tuhannya yang tidak tampak oleh mereka, mereka akan memperoleh ampunan dan pahala yang besar, (Al-Mulk: 12).

Dalam ayat yang lain:

جَزَاؤُهُمْ عِنْدَ رَبِّهِمْ جَنَّاتُ عَدْنٍ تَجْرِي مِنْ تَحْتِهَا الْأَنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا أَبَدًا رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ وَرَضُوا عَنْهُ ذَلِكَ لِمَنْ خَشِيَ رَبَّهُ

Balasan mereka di sisi Tuhan mereka ialah syurga 'Adn yang mengalir di bawahnya sungai-sungai; mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Allah ridha terhadap mereka dan merekapun ridha kepadaNya. Yang demikian itu adalah (balasan) bagi orang yang takut  kepada Tuhannya. (Al-Bayyinah: 8).

selain bonus di akhirat kelak, saat di dunia pun orang-orang yang khasyyah kepada Allah senantiasa akan mendapat pelajaran dan mengambil pelajaran dari setiap hal-ihwalnya. firmanNya:

 سَيَذَّكَّرُ مَنْ يَخْشَى

orang yang takut (kepada Allah) akan mendapat pelajaran. (Al-A'la: 10)

Di mana hal tersebut sangat penting bagi perbaikan dan keistiqamahan dalam hidup. sebab, mereka yang malas-malasan, yang stagnan, dan yang bahkan hidupnya semakin lama semakin negatif adalah karena meraka tidak mau belajar dan mengambil pelajaran.

Sungguh bonus yang sangat luar biasa, tidak hanya surga ‘Adn namun juga keridhaan Allah. Padahal kita tahu segala sesuatu di akhirat kelak sangat tergantung pada keridhaan dan rahmatNya. Dan tidak hanya di akhrat kelak, semasa di dunia pun Allah berikan anugrahNya bagi yang khasyyah.
Semoga kita termasuk golongan hambaNya yang memiliki sifat khasyyah. Amiin.

WALLAHU A’LAM BI AL-SHAWAAB
Share:

MUSYRIK DAN SYIRIK

Setidaknya ada dua hal yang perlu diperhatikan terkait tema ini, yakni istilah Musyrik yang merujuk pada pelakunya (subjek) dan Syirik yang terkait pada objek yang dilakukan. Namun yang menjadi menarik, bahwa kedua terma tersebut dapat dan memiliki pengertiannya sendiri menurut al-Qur’an dan Hadis.

Musyrik yang dimaksud dalam al-Qur’an, adalah Yahudi, Narani, ahli kitab, orang-orang kafir atau para kafir Quraisy yang tidak mau bersyahadat dan  masuk Islam, suka menyakiti dan mengolok-ngolok Nabi dan Islam, memerangi umat Islam dan sebagainya. Namun, secara keseluruhan dalam ayat-ayat al-Qur'an bahwa musyrik yang dimaksud adalah kafir Quraisy, hanya ada satu ayat yang menunjukkan kalau Yahudi dan Nasrani juga termasuk musyrik, yaitu terdapat pada surat Ali Imran: 67[1].  firmanNya:

لَتَجِدَنَّ أَشَدَّ النَّاسِ عَدَاوَةً لِلَّذِينَ آمَنُوا الْيَهُودَ وَالَّذِينَ أَشْرَكُوا

Sesungguhnya kamu dapati orang-orang yang paling keras permusuhannya terhadap orang-orang yang beriman ialah orang-orang Yahudi dan orang-orang musyrik (al-Maidah: 82)

Adapun yang dimaksud dengan asyrakuu[2] dalam ayat ini, sebagaimana dikatakan oleh Ibnu Katsir dalamtafsirnya, adalah orang-orang kafir Quraisy. Karena yang sangat memesuhi Nabi pada waktu itu adalah orang-orang Yahudi dan kafir quraisy.

Oleh karenanya, maka Allah melarang menikahkan orang yang beriman dengan orang musyrik sebagaimana firmanNya:

وَلا تَنْكِحُوا الْمُشْرِكَاتِ حَتَّى يُؤْمِنَّ

Dan janganlah kalian nikahi wanita-wanita musyrik, sebelum mereka beriman. (al-Baqarah: 221).

Pelarangan oleh ayat ini disebabkan tidak berimannya (kafir) orang-orang musyrik tersebut. Lebih spisifik Allah menjelaskan bahwa orang-orang musyrik adalah kafir dalam firmanNya:

لَمْ يَكُنِ الَّذِينَ كَفَرُوا مِنْ أَهْلِ الْكِتَابِ وَالْمُشْرِكِينَ مُنْفَكِّينَ حَتَّى تَأْتِيَهُمُ الْبَيِّنَةُ

Orang-orang kafir yakni Ahli Kitab dan orang-orang musyrik (mengatakan bahwa mereka) tidak akan meninggalkan (agamanya) sebelum datang kepada mereka bukti yang nyata.
(al-Bayyinah: 1)

Begitupun menurut Hadis, bahwa yang dimaksud Musyrik adalah orang-orang kafir. Bahwa pernah pada suatu ketika, menjelang perang badar Rasulullah didatangi seorang musyrik menawarkin diri untuk membantu dan bergabung dengan beliau. ' Lalu Rasulullah bertanya kepadanya, 'Apakah kamu sudah beriman kepada Allah dan Rasul-Nya? ' Lelaki tersebut menjawab, 'Belum (kafir) ya Rasulullah.' Rasulullah berkata, "Kalau begitu, kembalilah ke rumahmu! karena aku tidak akan pernah meminta bantuan kepada orang musyrik'." Diceritakan lelaki musyrik ini kembali kepada Rasul sampai tiga kali dan Nabi pun menerimanya, karena kedatangannya yang terahir dia telah Islam (tidak musyrik atau kafir)[3]. Maka tak heran Hadis juga menyebutkan bahwa Madinah pada awalnya adalah negeri syirik.[4]

Dalam Hadis yang lain Nabi bersabda:

فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَسْلَمْتَ قَالَ لَا قَالَ فَإِنِّي نُهِيتُ عَنْ زَبْدِ الْمُشْرِكِينَ

Muhammad bin Basysyar menceritakan kepada kami, Abu Daud menceritakan kepada kami, dari Imran Al Qaththan dari Qatadah, dari Yazid bin Abdullah —yaitu Ibnu Asy Sikhkhir—, dari Iyadh bin Himar: Sesungguhnya ia memberikan hadiah —atau unta— kepada Nabi. Nabi SAW kemudian bertanya, "Apakah engkau telah masuk Islam?" Ia menjawab, "Tidak." Nabi bersabda, "Sesungguhnya aku dilarang menerima hadiah orang-orang yang musyrik (kafir)" (H.R Tirmidzi: Hasan Shahih).

Jadi, dari beberapa al-Qur’an dan Hadis di atas, menunjukkan bahwa Musyrik yang dimaksud adalah orang-orang Yahudi, Nasrani dan kafir Quraisy yang jelas-jelas menolak dan memerangi Islam.

Baca Juga: Musyrik; adalah Kafir Quraisy/Non Muslim Menurut al-Qur'an dan Hadis

Sementara itu, konsepsi Syirik merujuk pada beberapa hal yang telah diesbutkan oleh al-Qur’an, yaitu andaadaa, waliyyan,  dan syuraka’: andaadaa artinya adalah aktifitas lahir maupun batin dengan membuat sesembahan atau Tuhan selain Allah[5], seperti lata-Uzza, anak sapi dan sebagainya. Waliyyan artinya membuat teman sejawat, pemimpin dan pelindung selain Allah SWT.[6]  Dan Syuraka’ adalah membuat sekutu selain Allah, baik itu seorang anak, berhala-berhala. Allah berfiman:

فَلَمَّا آتَاهُمَا صَالِحًا جَعَلا لَهُ شُرَكَاءَ فِيمَا آتَاهُمَا فَتَعَالَى اللَّهُ عَمَّا يُشْرِكُونَ  ,أَيُشْرِكُونَ مَا لَا يَخْلُقُ شَيْئًا وَهُمْ يُخْلَقُونَ

Tatkala Allah memberi kepada keduanya seorang anak yang saleh, maka keduanya menjadikan sekutu bagi Allah terhadap anak yang telah dianugerahkan Allah kepada keduanya itu. Maha tinggi Allah dari apa yang mereka persekutukan. Apakah mereka mempersekutukan (Allah dengan) berhala-berhala yang tak dapat menciptakan sesuatu pun? Sedangkan berhala-berhala itu sendiri buatan orang (Q.S Al-A’raf: 190-191).

Lebih jauh Hadis Nabi menjelaskan tentang syuraka’ atau syirik ini: Pertama, meninggalkan shalat. Beliau bersabda:

عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ لَيْسَ بَيْنَ الْعَبْدِ وَالشِّرْكِ إِلَّا تَرْكُ الصَّلَاةِ فَإِذَا تَرَكَهَا فَقَدْ أَشْرَكَ

Dari Anas bin Malik, dari Nabi SAW, beliau bersabda, "Tidak ada perbedaan antara hamba Allah dan kesyirikan kecuali meninggalkan shalat. Apabila ia meninggalkan shalat, maka ia telah syirik." Shahih: Shahih At-Targhib (565, 567). H.R Ibnu Majah.

Kedua, Mantra, jimat dan penolak balak. Beliau bersabda:

يَقُولُ إِنَّ الرُّقَى وَالتَّمَائِمَ وَالتِّوَلَةَ شِرْك

Dari Abdullah bin Mas'ud, dia berkata: Aku mendengar Rasulullah SAW bersabda, "Sesungguhnya jimat, mantra-mantra, dan penolak bala' adalah perbuatan syirik." (H. R Abu Daud. Syeikh Nasiruddin al-Bani menilai Hadis ini shahih)

Ketiga, besumpah selain Nama Allah. Beliau bersabda:

عَنْ سَعْدِ بْنِ عُبَيْدَةَ قَالَ سَمِعَ ابْنُ عُمَرَ رَجُلًا يَحْلِفُ لَا وَالْكَعْبَةِ فَقَالَ لَهُ ابْنُ عُمَرَ إِنِّي سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ مَنْ حَلَفَ بِغَيْرِ اللَّهِ فَقَدْ أَشْرَكَ

Dari Sa'ad bin Ubaidah, dia berkata: Ibnu Umar pernah mendengar seseorang bersumpah; tidak demi Ka'bah! Lalu Ibnu Umar berkata kepadanya, "Sesungguhnya aku pernah mendengar Rasulullah SAW bersabda, 'siapa yang bersumpah dengan selain nama Allah maka ia telah berbuat syirik'. " (Shahih: At-Tirmidzi).

Keempat, ingkar dan mengolok-olok atau pendosa. Beliau bersabda:

عَنْ الْحَسَنِ { كَذَلِكَ نَسْلُكُهُ فِي قُلُوبِ الْمُجْرِمِينَ } قَالَ الشِّرْكُ

Dari Al Hasan, tentang firman Allah, "Demikianlah, Kami memasukkan (rasa ingkar dan memperolok-olokkan itu) ke dalam hati orang-orang yang berdosa (orang-orang kafir)." (Qs. Al Hijr [15]: 12) ia berkata, "Itu adalah syirik." (H.R Abu Daud. Syeikh Nasiruddin al-Bani menilai Hadis ini shahih).

Kelima, adalah yang disebut oleh orang-orang dengan riya’ atau ujub, yaitu melakukan ibadah karena ingin dilihat kemudian dipuji oleh orang lain. Beliau bersabda:

عَنْ أَبِي سَعِيدٍ قَالَ خَرَجَ عَلَيْنَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَنَحْنُ نَتَذَاكَرُ الْمَسِيحَ الدَّجَّالَ فَقَالَ أَلَا أُخْبِرُكُمْ بِمَا هُوَ أَخْوَفُ عَلَيْكُمْ عِنْدِي مِنْ الْمَسِيحِ الدَّجَّالِ قَالَ قُلْنَا بَلَى فَقَالَ الشِّرْكُ الْخَفِيُّ أَنْ يَقُومَ الرَّجُلُ يُصَلِّي فَيُزَيِّنُ صَلَاتَهُ لِمَا يَرَى مِنْ نَظَرِ رَجُلٍ

Dari Abu Sa'id RA, ia berkata, "Rasulullah SAW datang menghampiri kami, saat kami saling mengingatkan tentang Al Masih Ad-Dajjal, maka beliau bersabda, 'Maukah kalian aku beritahukan (tentang sesuatu) yang lebih aku takutkan terhadap diri kalian dari Al Masih Ad-Dajjal'?" (Perawi berkata), "Kami menjawab, 'Tentu.' Beliau bersabda, 'Perbuatan syirik yang tersembunyi. Yaitu seseorang mengerjakan shalat dan menghiasi shalatnya dengan harapan agar seseorang melihatnya'." Shahih: Al Misykah (5333), Shahih At-Targhib (27). H.R Ibnu Majah.

Jika demikian, maka berarti syirik tidak hanya terkait dengan hal-hal negatif saja, tapi berhubungan dengan hal-hal yang oleh orang-orang dianggap mulia dan positif, contoh katakanlah shalat, jika itu dilakukan karena ingin dilihat dan dipuji oleh orang lain.

Syirik bukan soal yang tampak, bukan soal tradisi, bukan soal klenik, bukan soal mistik, bukan soal megic, namun ia adalah lebih pada soal hati yang menjadikan sekutu, sesembahan, menduakan dan membuat tandingan bagi Allah dengan yang lain, serta berbuat dosa. Yang paling ekstrim, adalah tidak mengakui dan memusuhi Islam, tidak shalat, tidak ada Allah dan iman sama sekali dalam hatinya.

Bisa jadi ketika kita berobat kedokter dan kita yakin bahwa yang dapat menyembuhkan penyakit kita adalah dokter tersebut, maka berhati-lah jangan-jangan kita telah menduakannya. Atau ketika handphone telah menjadi bagian yang tak terpisahkan dari aktifitas keseharian manusia, kemudian saat kita terbangun dari tidur yang langsung kita ingat adalah handphone bukan Allah dulu. Atau ketika kita sedang terburu-buru dengan urusan kita, kemudian kita merasa bersyukur karena ada kendaraan sehingga kita dipercepat sampai tujuan dan menyelesaikan urusan kita, bukan bersyukur karena Allah. Maka sekali lagi wasdalah dengan semua itu, jangan-jangan kita telah menyekutukanNya dengan yang lain.

Berfikirlah, saat orang tua kita memanggil-manggil bahkan mungkin dengan suara keras dan penuh harap tapi kita tidak langsung menggubrisnya dan tetap asyik dengan handphone yang kita pegang, apakah orang tua kita tidak merasa tersinggung atau sakit hati? Atau apakah kita tidak termasuk anak yang tidak patuh?. lalu bagaimana jika yang kita begituin adalah Allah? (tanpa bermaksud menyamakan Allah dengan orang tua kita).

Sementara itu, mantra yang jelas-jelas oleh Hadis termasuk syirik, namun mantra tersebut tidak mengandung kesyirikan maka hal itu tidak dilarang oleh Rasulullah. Beliau bersabda:

قَالَ كُنَّا نَرْقِي فِي الْجَاهِلِيَّةِ فَقُلْنَا يَا رَسُولَ اللَّهِ كَيْفَ تَرَى فِي ذَلِكَ فَقَالَ اعْرِضُوا عَلَيَّ رُقَاكُمْ لَا بَأْسَ بِالرُّقَى مَا لَمْ يَكُنْ فِيهِ شِرْكٌ

Dari Auf bin Malik Al Asyja'i RA, dia berkata, "Kami sering menggunakan mantera pada masa jahiliah. Lalu kami tanyakan hal itu kepada Rasulullah SAW, "Ya Rasulullah, bagaimana tentang mantera itu menurut engkau?" Beliau berkata, "Tidak mengapa menggunakan mantera selama tidak mengandung syirik" {Muslim 7/19}

Sabda Nabi, bahwa surat al-Kafiruun adalah pembebas dari syirik[7], sebab perkataan “Atas kenedak Allah dan kehendakmu” adalah syirik[8], padahal hal tersebut bukan hal-hal mistik, klenik, tradisional dan sebagainya. Namun adalah sebuah ucapan tayyibah atau perkataan yang bertentangan dengan ketauhidan. Tentunya, surat al-Kafiruun dapat membebaskan kita dari syirik adalah ketika membacanya sekaligus merenungkan isinya serta memasukkannya ke dalam hati terdalam yang kemudian menguatkan ketauhidan. Tentunya, perkataan “Atas kenedak Allah dan kehendakmu” adalah syirik, ketika perkataan itu keluar dari hati yang terdalam dan mengesampingkan ketauhidan, sebab kata-kata kehendakmu, karenamu, untung ada kamu, syukur ada yang menolong dan sebagainya sudah menjadi hal yang biasa dalam keseharian kita.

Jadi, sekali lagi waspadalah, waspadalah dan jagalah hati kita. Wallahu A’lam bi al-Shawaab...............
----------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
[1] . مَا كَانَ إِبْرَاهِيمُ يَهُودِيًّا وَلا نَصْرَانِيًّا وَلَكِنْ كَانَ حَنِيفًا مُسْلِمًا وَمَا كَانَ مِنَ الْمُشْرِكِينَ

Ibrahim bukan seorang Yahudi dan bukan (pula) seorang Nasrani, tetapi dia adalah seorang yang lurus lagi menyerahkan diri (kepada Allah) dan sekali-kali bukanlah dia dari golongan orang-orang musyrik. (Q.S Ali Imran: 67)

[2]. Lafadz asyraku dalam ayat tersebut disampaikan bersamaan atau bersandingan dengan kata Yahudi yang kita sepakati sebagai orang musyrik karena tidak mau masuk Islam serta menyekutukan Allah. Pertanyaannya, mengapa Allah menyinggung keduanya secara terpisah padahal sama-sama musyrik dan sangat memusuhi Islam, maka tentunya ada penekanan maksud khusus dari pengungkapan keduanya (Yahudi dan Asyraku). Yakni Yahudi sebagai agama dan Asyraku adalah kaum kafir Quraisy yang musyrik saat itu.

 .[3]عَنْ عَائِشَةَ زَوْجِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّهَا قَالَتْ خَرَجَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قِبَلَ بَدْرٍ فَلَمَّا كَانَ بِحَرَّةِ الْوَبَرَةِ أَدْرَكَهُ رَجُلٌ قَدْ كَانَ يُذْكَرُ مِنْهُ جُرْأَةٌ وَنَجْدَةٌ فَفَرِحَ أَصْحَابُ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ حِينَ رَأَوْهُ فَلَمَّا أَدْرَكَهُ قَالَ لِرَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ جِئْتُ لِأَتَّبِعَكَ وَأُصِيبَ مَعَكَ قَالَ لَهُ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ تُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَرَسُولِهِ قَالَ لَا قَالَ فَارْجِعْ فَلَنْ أَسْتَعِينَ بِمُشْرِكٍ قَالَتْ ثُمَّ مَضَى حَتَّى إِذَا كُنَّا بِالشَّجَرَةِ أَدْرَكَهُ الرَّجُلُ فَقَالَ لَهُ كَمَا قَالَ أَوَّلَ مَرَّةٍ فَقَالَ لَهُ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَمَا قَالَ أَوَّلَ مَرَّةٍ قَالَ فَارْجِعْ فَلَنْ أَسْتَعِينَ بِمُشْرِكٍ قَالَ ثُمَّ رَجَعَ فَأَدْرَكَهُ بِالْبَيْدَاءِ فَقَالَ لَهُ كَمَا قَالَ أَوَّلَ مَرَّةٍ تُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَرَسُولِهِ قَالَ نَعَمْ فَقَالَ لَهُ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَانْطَلِقْ

Dari Aisyah RA, istri Rasulullah SAW, dia berkata, "Menjelang pertempuran Badar, Rasulullah SAW keluar dari rumah. Ketika tiba di daerah Harrah Al Wabarah (suatu daerah yang berjarak kurang lebih empat mil dari kota Madinah -penerj.) beliau bertemu dengan seorang lelaki yang kuat dan pemberani. Para sahabat merasa sangat gembira ketika melihat lelaki itu. Terlebih lagi ia menyatakan kepada Rasulullah, 'Ya Rasulullah, saya datang ke sini hanya bermaksud untuk bergabung dengan engkau dan saya pun rela menderita bersama engkau.' Lalu Rasulullah bertanya kepadanya, 'Apakah kamu sudah beriman kepada Allah dan Rasul-Nya? ' Lelaki tersebut menjawab, 'Belum ya Rasulullah.' Rasulullah berkata, "Kalau begitu, kembalilah ke rumahmu! karena aku tidak akan pernah meminta bantuan kepada orang musyrik'." Aisyah berkata, "Kemudian lelaki itu berlalu. Ketika kami sampai ke sebuah pohon, Rasulullah SAW bertemu lagi dengan lelaki itu. Lalu lelaki tersebut berkata bahwa ia ingin bergabung dan membantu pasukan kaum muslimin. Tetapi Rasulullah SAW tetap menanyakan keimanannya kepada Allah dan Rasul-Nya. Kemudian lelaki itu menjawab bahwa ia belum beriman kepada Allah dan Rasul-Nya. Rasulullah berkata, "Kembalilah ke rumahmu, karena aku tidak membutuhkan pertolongan orang musyrik' Ketika kami sampai di daerah Baida' kami bertemu lagi dengan lelaki itu. Ternyata ia tetap bersikeras untuk ikut bergabung bersama pasukan kaum muslimin. Rasulullah bertanya, "Apakah kamu telah beriman kepada Allah dan Rasul-Nya.". Jawabnya, ' Ya, saya telah beriman kepada Allah dan Rasul-Nya.' Rasulullah pun berkata kepadanya, 'Sekarang berangkat dan bergabunglah dengan mereka." {Muslim 5/201}

.[4] قَالَ ابْنُ عَبَّاسٍ إِنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَأَبَا بَكْرٍ وَعُمَرَ كَانُوا مِنْ الْمُهَاجِرِينَ لِأَنَّهُمْ هَجَرُوا الْمُشْرِكِينَ وَكَانَ مِنْ الْأَنْصَارِ مُهَاجِرُونَ لِأَنَّ الْمَدِينَةَ كَانَتْ دَارَ شِرْكٍ فَجَاءُوا إِلَى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَيْلَةَ الْعَقَبَةِ

Telah mengabarkan kepada kami Al Husain bin Manshur, ia berkata; telah menceritakan kepada kami Mubasysyir bin Abdullah, ia berkata; telah menceritakan kepada kami Sufyan bin Husain dari Ya'la bin Muslim dari Jabir bin Zaid, ia berkata; Ibnu Abbas berkata; sesungguhnya Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam, Abu Bakar dan Umar adalah termasuk kaum Muhajirin karena mereka meninggalkan kaum musyrikin, dan diantara kaum Anshar ada kaum Muhajirin karena Madinah dahulu adalah wilayah syirik, lalu mereka menemui Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam ketika malam Aqobah. (H.R al-Nasa’i)
 .[5] أَمِ اتَّخَذُوا آلِهَةً مِنَ الأرْضِ هُمْ يُنْشِرُونَ

Apakah mereka mengambil tuhan-tuhan dari bumi, yang dapat menghidupkan (orang-orang mati)?. (Q.S al-Anbiya: 21)

 .[6]قُلْ أَغَيْرَ اللَّهِ أَتَّخِذُ وَلِيًّا فَاطِرِ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَهُوَ يُطْعِمُ وَلَا يُطْعَمُ قُلْ إِنِّي أُمِرْتُ أَنْ أَكُونَ أَوَّلَ مَنْ أَسْلَمَ وَلَا تَكُونَنَّ مِنَ الْمُشْرِكِينَ

Katakanlah "Apakah akan aku jadikan pelindung selain dari Allah yang menjadikan langit dan bumi, padahal Dia memberi makan dan tidak diberi makan?” Katakanlah, "Sesungguhnya aku diperintah supaya aku menjadi orang yang pertama sekali berserah diri (kepada Allah), dan jangan sekali-kali kamu masuk golongan orang-orang musyrik.” (Q.S al-An’am: 14)

 .[7] أَنَّهُ كَانَ مَعَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي مَسِيرٍ لَهُ قَالَ وَرُكْبَتِي تُصِيبُ أَوْ تَمَسُّ رُكْبَتَهُ فَسَمِعَ رَجُلًا يَقْرَأُ قُلْ يَا أَيُّهَا الْكَافِرُونَ قَالَ بَرِئَ مِنْ الشِّرْكِ وَسَمِعَ رَجُلًا يَقْرَأُ قُلْ هُوَ اللَّهُ أَحَدٌ قَالَ غُفِرَ لَهُ

Telah menceritakan kepada kami Abu Zaid Sa'id bin Ar Rabi' telah menceritakan kepada kami Syu'bah dari Abu Al Hasan Muhajir ia berkata; Ada seorang laki-l
aku datang ke Kufah pada masa pemerintahan Ziyad. Lalu aku mendengar orang itu menceritakan bahwa ia pernah bersama Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam pada sebuah perjalanan. Ia berkata; Lututku mengenai atau menyentuh lutut beliau, lalu beliau mendengar seseorang membaca; QUL YA AYYUHAL KAFIRUN (surat Al Kafirun). Beliau bersabda: "Ia bebas dari syirik." Dan beliau mendengar seseorang membaca; QUL HUWALLAHU AHAD (surat Al Ikhlas). Beliau bersabda: "Ia telah diampuni." (H.R al-Darimi)

 .[8]فَقَالَ إِنَّكُمْ تُنَدِّدُونَ وَإِنَّكُمْ تُشْرِكُونَ تَقُولُونَ مَا شَاءَ اللَّهُ وَشِئْتَ وَتَقُولُونَ وَالْكَعْبَةِ فَأَمَرَهُمْ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا أَرَادُوا أَنْ يَحْلِفُوا أَنْ يَقُولُوا وَرَبِّ الْكَعْبَةِ وَيَقُولُونَ مَا شَاءَ اللَّهُ ثُمَّ شِئْتَ

Telah mengabarkan kepada kami Yusuf bin Isa berkata; telah menceritakan kepada kami Al Fadll bin Musa berkata; telah menceritakan kepada kami Mis'ar dari Ma'bad bin Khalid dari Abdullah bin Yasar dari Qutailah seorang wanita dari Juhainah, bahwa seorang Yahudi datang kepada Nabi shallallahu 'alaihi wasallam, lalu beliau bersabda: "Sesungguhnya kalian membuat tandingan, dan sungguh kalian telah berbuat syirik. Kalian mengatakan, 'Atas kehendak Allah dan kehendak kamu'. Dan kalian katakan, 'Demi Ka'bah'." Kemudian Nabi shallallahu 'alaihi wasallam memerintahkan para sahabat apabila hendak bersumpah untuk mengucapkan, 'Demi Tuhan Pemilik Ka'bah', dan mengucapkan, 'Atas kehendak Allah, kemudian atas kehendak kamu'." (H.R al-Nasa’i)
Share:

TA'AWWUDZ

Isti'adzah atau ta’awwudz artinya memohon perlindungan kepada Allah dan bernaung di bawah lindungan-Nya dari kejahatan semua makhluk yang jahat. Pengertian meminta perlindungan ini adakalanya dimaksudkan untuk menolak kejahatan dan adakalanya untuk mencari kebaikan. (Ibnu Kasir)

Adapun yang dimaksud memohon perlindungan dalam bagian ini, tidak hanya memohon perlindungan kepada Allah dari godaan setan saja, seperti firmanNya.

وَإِمَّا يَنْزَغَنَّكَ مِنَ الشَّيْطانِ نَزْغٌ فَاسْتَعِذْ بِاللَّهِ إِنَّهُ سَمِيعٌ عَلِيمٌ

Dan jika kamu ditimpa sesuatu godaan setan, maka berlindunglah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui. (Al-A'raf: 200)

Namun, dalam perspektif al-Qur’an adalah bisa saja dari golongan Jin dan Manusia, FirmanNya:

وَكَذلِكَ جَعَلْنا لِكُلِّ نَبِيٍّ عَدُوًّا شَياطِينَ الْإِنْسِ وَالْجِنِّ يُوحِي بَعْضُهُمْ إِلى بَعْضٍ زُخْرُفَ الْقَوْلِ غُرُوراً

Dan demikianlah Kami jadikan bagi tiap-tiap nabi itu musuh, yaitu setan-setan (dari jenis) manusia dan (dari jenis) jin. Sebagian mereka membisikkan kepada sebagian yang lain perkataan-perkataan yang indah-indah untuk menipu (manusia). (Al-An'am: 112).

Akan tetapi juga memohon perlindungan dari keburukan Manusia, dari sifat was-was yang tersemubunyi yang membisikkan kejahatan kepada Manusia, dari jahatnya gelap malam, dari wanita-wanita sihir dan dari orang-orang yang dengki. Sebagaimana semaunya tergambar di dalam surat al-Falaq dan Surat al-Nas.

قُلْ أَعُوذُ بِرَبِّ الْفَلَقِ , مِنْ شَرِّ مَا خَلَقَ , وَمِنْ شَرِّ غَاسِقٍ إِذَا وَقَبَ , وَمِنْ شَرِّ النَّفَّاثَاتِ فِي الْعُقَدِ , وَمِنْ شَرِّ حَاسِدٍ إِذَا حَسَدَ

Katakanlah, 'Aku berlindung kepada Tuhan yang menguasai subuh, dari kejahatan makhluk-Nya, dan dari kejahatan malam apabila telah gelap gulita, dan dari kejahatan wanita-wanita tukang sihir yang mengembus pada buhul-buhul, dan dari kejahatan orang yang dengki apabila ia dengki.” (al-Falaq: 1-5)

قُلْ أَعُوذُ بِرَبِّ النَّاسِ , مَلِكِ النَّاسِ , إِلَهِ النَّاسِ , مِنْ شَرِّ الْوَسْوَاسِ الْخَنَّاسِ , الَّذِي يُوَسْوِسُ فِي صُدُورِ النَّاسِ , مِنَ الْجِنَّةِ وَالنَّاسِ

Katakanlah, "Aku berlindung kepada Tuhan (yang memelihara dan menguasai) manusia. Raja manusia. Sembahan manusia, dari kejahatan (bisikan) setan yang biasa bersembunyi, yang membisikkan (kejahatan) ke dalam dada manusia, dari (golongan) jin dan manusia. (al-Nas: 1-6).

Hukum Ta’awwudz.

1. Ta’awwudz dilakukan setelah membaca al-Qur’an. Pendapat dikatakan oleh  Hamzah, Ibnu Falufa, Abu Hatim As-Sijistani dari Abu Hurairah, tetapi riwayat ini berpredikat garib, Ibrahim An-Nakha'i dan Daud ibnu Ali Al-Asbahani Az-Zahiri. Hal ini berdasarkan dhahir ayat:

فَإِذا قَرَأْتَ الْقُرْآنَ فَاسْتَعِذْ بِاللَّهِ مِنَ الشَّيْطانِ الرَّجِيمِ

Apabila kamu telah membaca Al-Qur'an, hendaklah kamu meminta perlindungan kepada Allah dari setan yang terkutuk.
(An-Nahl: 98)

Dan Hadis Nabi sallahu ‘alaihi wasallam.

كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا قَامَ إِلَى الصَّلَاةِ كبَّر ثَلَاثًا، ثُمَّ قَالَ: " لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ " ثَلَاثَ مَرَّاتٍ، وَسُبْحَانَ اللَّهِ وَبِحَمْدِهِ "، ثَلَاثَ مَرَّاتٍ. ثُمَّ قَالَ: " أَعُوذُ بِاللَّهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ، مِنْ هَمْزِهِ وَنَفْخِهِ وَنَفْثِهِ

Dari Ya’la ibnu Ata, dari seorang lelaki yang menceritakan kepadanya bahwa dia pernah mendengar Abu Umamah Al-Bahili menceritakan: Apabila Rasulullah Saw. telah mengerjakan salatnya. terlebih dahulu membaca takbir tiga kali, lalu mengucapkan, "Tidak ada Tuhan selain Allah" sebanyak tiga kali, dan "Mahasuci Allah dan dengan memuji kepada-Nya"sebanyak tiga kali. Setelah itu beliau berdoa, "Aku berlindung kepada Allah dari setan yang terkutuk, yaitu dari godaan, rayuan, dan bisikannya."
(H.R Ahmad)

2.      Ta’awwudz dilakukan sebelum membaca al-Qur’an.

Pendapat ini juga berdasar pada surat al-Nahl ayat 98, hanya saja tidak berdasarkan dhahir ayat, bahwa qara’ta pada ayat tersebut adalah hendak membaca, sama saja dengan ayat berikut:

 إِذا قُمْتُمْ إِلَى الصَّلاةِ فَاغْسِلُوا وُجُوهَكُمْ وَأَيْدِيَكُمْ

Apabila kalian hendak mengerjakan salat, maka basuhlah muka dan tangan kalian.
(Al-Maidah: 6)

Makna yang dimaksud ialah "bilamana kamu hendak mengerjakan salat". Pengertian ini berdasarkan hadis yang menerangkan tentangnya.

كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وسلم إذا قَامَ مِنَ اللَّيْلِ فَاسْتَفْتَحَ صَلَاتَهُ وكبَّر قَالَ: " سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ وَبِحَمْدِكَ، وَتَبَارَكَ اسْمُكَ، وَتَعَالَى جَدُّكَ، وَلَا إِلَهَ غَيْرُكَ ". وَيَقُولُ: " لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ " ثَلَاثًا، ثُمَّ يَقُولُ: " أَعُوذُ بِاللَّهِ السَّمِيعِ الْعَلِيمِ، مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ، مِنْ هَمْزه ونَفْخِه ونَفْثه "

Imam Ahmad ibnu Hambal mengatakan, telah menceritakan kepada kami Muhammad ibnul Hasan ibnu Anas, telah menceritakan kepada kami Ja'far ibnu Sulaiman, dari Ali ibnu Ali Ar-Rifa'i Al-Yasykuri, dari Abul Muttawakil An-Naji. dari Abu Sa'id Al-Khudri yang menceritakan bahwa Rasulullah Saw: bila mengerjakan salat di sebagian malam harinya membuka salatnya dengan bertakbir, lalu mengucapkan: Mahasuci Engkau, ya Allah, dengan memuji kepada Engkau, Mahasuci asma-Mu dan Maha Tinggi keagungan-Mu: tiada Tuhan selain Engkau. Kemudian beliau mengucapkan, "Tidak ada Tuhan selain Allah," sebanyak tiga kali, lalu membaca doa berikut: "Aku berlindung kepada Allah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui dari godaan setan yang terkutuk, yaitu dari kesempitan, ketakaburan, dan embusan rayuannya."

Hadis ini sama dengan apa yang diriwayatkan oleh Imam Abu Daud dan Ibnu Majah melalui hadis Syu'bah, dari Amr ibnu Murah, dari Asim Al-Gazzi, dari Nafi' ibnu Jabir Al-Mut'im, dari ayahnya yang menceritakan:

رَأَيْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ حِينَ دَخَلَ فِي الصَّلَاةِ قَالَ: «اللَّهُ أَكْبَرُ كَبِيرًا ثَلَاثًا، الْحَمْدُ لِلَّهِ كَثِيرًا ثَلَاثًا، سُبْحَانَ اللَّهِ بُكْرَةً وَأَصِيلًا ثَلَاثًا، اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ مِنْ هَمْزِهِ وَنَفْخِهِ وَنَفْثِهِ»

Aku melihat Rasulullah Saw. bila memulai salatnya mengucapkan, "Allahu akbar kabiran" (Allah Mahabesar dengan kebesaran yang sesungguhnya), "Alhamdu lillahi ka'siran" (segala puji bagi Allah sebanyak-banyaknya), "Subhanallahi bukratan wa asilan" (Mahasuci Allah di pagi dan petang hari) masing-masing tiga kali; lalu, "Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepada Engkau dari setan yang terkutuk, yaitu dari godaannya, sifat takaburnya, dan embusan rayuannya."

3. Ta’awwudz dilakukan sebelum dan sesudah membaca al-Qur’an.

Pendapat yang terkhir ini memadukan antara pendapat yang pertama dengan pendapat yang kedua. Hal ini dikatakan oleh Muhammad ibnu Umar Ar-Razi di dalam kitab Tafsir-nya dari Ibnu Sirin.

Bacaan Ta’awwudz.
a. Riwayat Imam Ahmad ibnu Hambal.

أَعُوذُ بِاللَّهِ السَّمِيعِ الْعَلِيمِ، مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ، مِنْ هَمْزه ونَفْخِه ونَفْثه

 b. Riwayat Imam Abu Daud dan Ibnu Majah.

اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ مِنْ هَمْزِهِ وَنَفْخِهِ وَنَفْثِهِ

c. Riwayat Imam Ahmad.
أَعُوذُ بِاللَّهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ، مِنْ هَمْزِهِ وَنَفْخِهِ وَنَفْثِهِ
d. Riwayat Imam Nasa’i.
اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ

e. Riwayat Imam Bukhari, Imam Muslim, Abu Daud dan Imam Nasa’i.

أَعُوذُ بِاللَّهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ
f. Di dalam al-Qur’an.

Sebagaimana terdapat di dalam surat al-Falaq dan Surat al-Nas.

Hal-Hal Terkait Ta’awwudz.

Sebagian ulama mengatakan bahwa membaca ta'awwuz pada awal mulanya diwajibkan kepada Nabi Saw., tetapi tidak kepada umatnya. Diriwayatkan dari Imam Malik bahwa dia tidak membaca ta'awwuz dalam salat fardunya; tetapi ta'awwuz dibaca bila mengerjakan salat sunat Ramadan pada malam pertama.

Imam Syafii di dalam kitab Al-Imla mengatakan bahwa bacaan ta'awwuz dinyaringkan; tetapi jika dipelankan, tidak mengapa. Di dalam kitab Al-Umm disebutkan boleh memilih, karena Ibnu Umar membacanya dengan pelan, sedangkan Abu Hurairah membacanya dengan suara nyaring. Tetapi bacaan ta'awwuz selain pada rakaat pertama masih diperselisihkan di kalangan mazhab Syafii, apakah disunatkan atau tidak, ada dua pendapat, tetapi yang kuat mengatakan tidak disunatkan.

Apabila orang yang membaca ta'awwuz mengucapkan, "A'uzu billahi minasy syaitanir rajim (aku berlindung kepada Allah dari godaan setan yang terkutuk)," maka kalimat tersebut dinilai cukup menurut Imam Syafii dan Imam Abu Hanifah.

Sebagian dari kalangan ulama ada yang menambahkan lafaz As-Sami'ul 'alim (Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui), sedangkan yang lainnya bahkan menambahkan seperti berikut: "Aku berlindung kepada Allah dari setan yang terkutuk, sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui," menurut As-Sauri dan Al-Auza'i.

Membaca ta'awwuz dalam salat hanya dilakukan untuk membaca Al-Qur'an, menurut pendapat Abu Hanifah dan Muhammad. Sedangkan Abu Yusuf mengatakan bahwa ta'awwuz dibaca untuk menghadapi salat itu sendiri. Berdasarkan pengertian ini. berarti makmum membaca ta'awwuz sekalipun imam tidak membacanya. Dalam salat Id (hari raya), ta'awwuz dibaca sesudah takbiratul ihram dan sebelum takbir salat hari raya. Sedangkan menurut jumhur ulama sesudah takbir Id dan sebelum bacaan Al-Fatihah dimulai. (Baca: Ibnu Kasir)

WALLAHU A’LAM BI AL-SHAWAAB
Share:

SIKAP ORANG BERIMAN; TENDENSIUS DAN TAMAK DALAM DOA


تَتَجَافَى جُنُوبُهُمْ عَنِ الْمَضَاجِعِ يَدْعُونَ رَبَّهُمْ خَوْفًا وَطَمَعًا وَمِمَّا رَزَقْنَاهُمْ يُنْفِقُونَ

Lambung mereka jauh dari tempat tidurnya, sedangkan mereka berdoa kepada Tuhannya dengan rasa takut dan harap, dan mereka menafkahkan sebagian dari rezeki yang Kami berikan kepada mereka. (Al-Sajdah: 16)

Keseluruhan konteks ayat  ini menceritan tentang orang yang beriman kepada ayat-ayat Allah, di mana Ketika mereka disebutkan ayat-ayatNya, mereka akan bersujud, mensucikan dengan memujinya seraya memperbanyak ibadah dan mengurangi tidurnya hingga seolah-olah lambungnya jauh dari tempat tidurnya sebagaimana diiyaskan dalam ayat tersebut. Atau dalam bahasa tafsir: Imam Mujahid dan Imam Al-Hasan telah mengatakan sehubungan dengan makna firman-Nya: Lambung mereka jauh dari tempat tidurnya; Yang dimaksud ialah mengerjakan qiyamul lail. Diriwayatkan dari Anas, Ikrimah, Muhammad ibnul Munkadir, Abu Hazim, dan Qatadah, bahwa yang dimaksud ialah menunggu di antara dua salat Isya (Magrib dan Isya). Selain itu, ketika mereka berdoa maka mereka melakukannya dengan khauf dan thama’ serta dengan apa yang telah dirizkikan Allah kepadanya, mereka nafkahkan.

Hal menarik kaitanya dengan tema doa yang akan kita bahas, bahwa dalam doa sifat tamak tidaklah dilarang, bahwa dalam doa sikap tendensius, ada harap dibalik harap atau dalam pepatah umunya “Ada udang dibalik batu” juga ternyata tidak dilarang, sebagaimana kata thama’ dan khauf dalam doa yang telah disinggung oleh ayat di atas. Bahkan dhahir ayat menunjukkan akan keharusan khauf dan thama’ dalam doa, karena begitulah hakikat doa orang-orang beriman.

Dalam etimologi al-Qur’an, makna khauf adalah rasa takut, namun ketakutan yang dimaksud berbeda dengan lafadz takwa dan khasyah kendati keduanya juga memiliki arti takut. Akan tetapi, khauf diterminologikan secara khusus dalam al-Qur’an (“termasuk juga takwa dan khasyah). Khauf adalah ketakutan kepada Allah, hanya saja dibalik ketakutan tersebut masih ada embel-embel terselubung atau ketakutan karna factor yang lain. Hal ini terbukti dengan penggunaan kata khauf dalam keseluruhan al-Qur’an yang secara kasuistik menunjukkan demikian. Salah satu contoh ayat;

قُلْ إِنِّي أَخَافُ إِنْ عَصَيْتُ رَبِّي عَذَابَ يَوْمٍ عَظِيمٍ

Katakanlah, "Sesungguhnya aku takut akan siksaan hari yang besar jika aku durhaka kepada Tuhanku. (al-Zumar: 13)

Dari ayat ini, yang pasti menggunakan kata akhaafu atau khauf, kemudian cerita dari ayat tersebut adalah tentang ketakutan akan siksa Allah seandainya melakukan kemaksiatan. Padahal sejatinya ketika kita harus meninggalkan apa-apa yang dilarang atau kemaksiatan  haruslah dengan kesadaran bahwa kita memang musti meninggalkannya, karena kemaksiatan bertentangan dengan kewajiban dan hakikat manusia diciptakan dimuka bumi ini. Kemaksiatan juga menjauhkan kita dari rahmat Allah.

Sedangkan arti Tamak dalam kamus popular bahasa Indonesia adalah: “selalu merasa tidak cukup (tak puas) dan tidak bersyukur dengan sesuatu yang didapatkan; serakah; loba. Sementara Ibnu Kasir dalam tafsirnya, mengartikan kata thama’ dalam ayat tersebut dengan “harapan.”

Lebih jauh, selain ibadah, doa juga merupakan medium manusia agar dapat berkomunikasi langsung dengan Tuhanya, tanpa aling-aling, tanpa perantara sehingga siapapun hamba-hambaNya yang berdoa kepadaNya senantiasa akan dikabulkan tanpa perantara, tanpa aling-aling pula. Jadi siapapun mereka mau beriman atau tidak, mau islam atau tidak, mau bertakwa atau tidak, mau butuh atau tidak, mau anak-anak atau dewasa, mau bersyukur atau tidak, mau isi doa tersebut baik atau jelek, doa mereka pasti diijabahi oleh Allah, sebagaimana firmanNya:

وَقَالَ رَبُّكُمُ ادْعُونِي أَسْتَجِبْ لَكُمْ إِنَّ الَّذِينَ يَسْتَكْبِرُونَ عَنْ عِبَادَتِي سَيَدْخُلُونَ جَهَنَّمَ دَاخِرِينَ

Dan Tuhanmu berfirman, "Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Ku-perkenankan bagimu. Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri dari menyembah-Ku akan masuk neraka Jahanam dalam keadaan hina dina.” (al-Mu’min: 60)

Bahkan Allah akan marah dan dianggap sombong ketika mendapati hambanya tidak mau berdoa kepadaNya. Ibnu Hibban dan Imam Hakim telah meriwayatkan hadis ini di dalam kitab sahihnya masing-masing; Imam Hakim mengatakan bahwa sanad hadis ini sahih.

قَال الْإِمَامُ أَحْمَدُ: حَدَّثَنَا وَكِيعٌ، حَدَّثَنِي أَبُو مَلِيحٍ الْمَدَنِيُّ -شَيْخٌ مِنْ أَهْلِ الْمَدِينَةِ-سَمِعَهُ عَنْ أَبِي صَالِحٍ، وَقَالَ مَرَّةً: سَمِعْتُ أَبَا صَالِحٍ يُحَدِّثُ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ [رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ] قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: "مَنْ لَمْ يَدْعُ اللَّهَ، عَزَّ وَجَلَّ، غَضِبَ عَلَيْهِ".

Imam Ahmad mengatakan, telah menceritakan kepada kami Waki', telah menceritakan kepadaku Abu Saleh Al-Madani (seorang syekh dari kalangan penduduk Madinah) yang telah mendengar hadis ini dari Abu Saleh dan sesekali ia mengatakan bahwa ia pernah mendengar Abu Saleh menceritakan hadis berikut dari Abu Hurairah r.a. yang mengatakan bahwa Rasulullah Saw. pernah bersabda: Barang siapa yang tidak pernah berdoa kepada Allah Swt., Allah murka terhadapnya
. (H.R Ahmad).

Selain itu, tidak ada tuntunan khusus dalam doa: terkait waktunya sekalipun islam juga menginformasikan akan waktu-waktu yang utama untuk berdoa, terkait bacaanya meskipun ada banyak doa-doa yang dilakukan Nabi yang baik untuk kita ikuti. Namun, tidak dapat kita temukan dalil kat’i dalam al-Qur’an dan Hadis bahwa ketika kita berdoa maka harus mengikuti sebagaimana Nabi berdoa. Atau sebaliknya, bahwa ketika kita tidak berdoa seperti yang dilakukan Nabi, maka doa kita akan ditolak. Allah menegaskan bahwa ketika kita berdoa, maka Allah pasti mengabulkannya. Doa adalah ibadah yang dapat kita lakukan dimana saja, kapan saja, dalam keadaan apa saja, oleh siapa saja, bisa siang-bisa malam. Bahkan ketika kita berdoa untuk orang non muslim pun Allah akan mengabulkan, Nabi bersabda:

عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا أَنَّ الْيَهُودَ أَتَوْا النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالُوا السَّامُ عَلَيْكَ قَالَ وَعَلَيْكُمْ فَقَالَتْ عَائِشَةُ السَّامُ عَلَيْكُمْ وَلَعَنَكُمْ اللَّهُ وَغَضِبَ عَلَيْكُمْ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَهْلًا يَا عَائِشَةُ عَلَيْكِ بِالرِّفْقِ وَإِيَّاكِ وَالْعُنْفَ أَوْ الْفُحْشَ قَالَتْ أَوَلَمْ تَسْمَعْ مَا قَالُوا قَالَ أَوَلَمْ تَسْمَعِي مَا قُلْتُ رَدَدْتُ عَلَيْهِمْ فَيُسْتَجَابُ لِي فِيهِمْ وَلَا يُسْتَجَابُ لَهُمْ فِيَّ

Dari Aisyah radliallahu 'anha bahwa sekelompok orang Yahudi datang menemui Nabi shallallahu 'alaihi wasallam, lalu mereka mengucapkan; "As Saamu 'alaika Kebinasaan atasmu." Beliau menjawab: 'Wa 'alaikum Dan atas kalian juga.' Kemudian Aisyah berkata; 'As Saamu 'alaikum wala'anakumullah wa ghadziba 'alaikum Semoga kebinasaan atas kalian, dan laknat Allah serta murka Allah menimpa kalian.' Maka Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: 'Pelan-pelan wahai Aisyah, hendaklah kamu berlemah lembut dan janganlah kamu kasar atau berkata keji.' Aku berkata; 'Apakah anda tidak mendengar apa yang diucapkan mereka? ' Beliau bersabda: 'Apakah kamu tidak mendengar ucapanku, sebenarnya aku tadi telah menjawabnya, maka do'aku atas mereka telah dikabulkan, sementara do'a mereka atasku tidak akan terkabulkan. (H.R Bukhari, No. Hadist: 5922)

Namun demikan, sebagai orang Islam yang taat maka seyogyanya mengikuti adab-adab doa yang telah ditetapkan Islam, diantaranya:

1. Mengangkat kedua tangan sebagaimana hadits yang diriwayatkan dari Salmân al-Fârisi Radhiyallahu ‘anhu bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

قَالَ إِنَّ اللّهَ حَيِيٌ كَرِيمٌ يَسْتَحْيِي إِذَا رَفَعَ الرَّجُلُ إِلَيْهِ يَدَيْهِ أَنْ يَرُدَّهُمَا صِفْرًا خَائِبَتَيْنِ

” Sesungguhnya Allah Subhanahu wa Ta’ala Maha pemalu lagi Maha pemurah terhadap seorang hamba yang mengangkat kedua tangannya (berdoa), kemudian kedua tangannya kembali dengan kosong dan kehampaan (tidak dikabulkan).” (Shahîh Sunan at-Tirmidzi : 2819, Shahîh Sunan Ibnu Mâjah : 3117)

2. Memulai doa dengan pujian terhadap Allah Subhanahu wa Ta’ala, kemudian Salawat dan Salam kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, selanjutnya bertawasul kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dengan tawasul yang disyariatkan, seperti dengan bertauhid kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dengan asma’ dan sifat Allah Subhanahu wa Ta’ala, dengan amal shalih dan selainnya. (Lihat klasifikasi tawasul dalam kitab “At-Tauhid” karya Syaikh Shâlih al-Fauzân, hal: 68-71)

3. Bersangka baik terhadap Allah Subhanahu wa Ta’ala. Diriwayatkan dalam sebuah hadis qudsi dari Anas Radhiyallahu ‘anhu bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

يَقُولُ اللَّه عَزَّوَجَلَّ : يَقُولُ أَنَّا عِنْدَ ظَنِّ عَبْدِي بِيْ وَأَنَا مَعَهُ إِذَا دَعَانِيْ

”Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman: “Aku (akan) sebagaimana hamba-Ku menyangka tentang-Ku, dan Aku akan bersamanya jika ia berdoa kepada-Ku”.
(HR. al-Bukhâri 7405, Muslim 6805. Ahmad 13192 dengan sanad shahîh)

4. Menjauhi sikap tergesa-gesa mengharapkan terkabulnya doa; karena ketergesa-gesaan itu akan berakhir dengan sikap putus asa sehingga ia tidak lagi berdoa. Na‘ûdzubillâh.

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ يُسْتَجَابُ لأَِحَدِكُم مَالَم يَعْجَلْ يَقُولُ دَعَوْتُ فَلَم يُتَجَبْ لِي

” Dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu bahawa Rasulullah bersabda “ Akan dikabulkan (doa) seseorang di antara kalian selama dia tidak tergesa-gesa, yaitu dia berkata ‘aku telah berdoa namun belum dikabulkan bagiku’ “. (HR. al-Bukhâri 6340, Muslim 6934, Abu Dâwud 1484, Ibnu Mâjah 3853, Ahmad 10312)

5. Membersihkan jiwa raga dari berbagai kotoran dosa. Hati yang kotor dengan berbagai maksiat atau jiwa yang tidak bersih dari perkara haram akan menghalang terkabulnya doa.

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ : قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَيًّهَا النَّاسُ إِنَّ اللَّهَ طَيِّبٌ لاَ يَقْبَلُ إِلاَّ طَيِّبًا وَإنَّ اللَّهَ أَمَرَ الْمُؤْمِنِيْنَِ بِمَا أَمَرَ بِهِ الْمُرْسَلِيْنَ فَقَالَ يَا أَيُّهَا الرُّيسُلُ كُلُوا مِنْ الطَّيِّبَاتِ وَاعْمَلُوا صَالِحًا إِنِّي بِمَا تَعْمَلُونَ عَلِيمٌ وَقَالَ يَاأَيُّهَاالذِنيْنَ آمَنُوا كُلُوا مِنْ طَيِّبَاتِ مَا رَزَقْنَا كُمْ ثُمَّ دَكَرَ الرَّجُلَ يُطِيلُ السَّفَرَ أَشْعَثَ أَغْبَرَ يَمُدُّ يَدَيْهِ إِلَى السَّمَاءِ يَارَبِّ يَارَبِّ وَمَطْعَمُهُ حَرَامٌ وَمََِشْرَبُهُ حَرَامٌ وَمَلْبَسُهُ حَرَامٌ وَغُذِيَ بِالْحَرَامٌ فَأَنَّى يُسْتَجَابُ لِذَلِكَ

” Dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu ia berkata : “Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Sesungguhnya Allah Subhanahu wa Ta’ala baik dan tidak menerima melainkan yang baik. Sesungguhnya Allah Subhanahu wa Ta’ala memerintahkan kaum Mukminin dengan apa yang telah diperintahkannya kepada para rasul. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman: “Wahai para rasul makanlah kalian dari yang baik dan beramal solehlah, sesungguhnya Aku Maha mengetahui apa yang kalian kerjakan.”
(HR. Muslim 2346, at-Tirmizi 2989)

6. Yakin bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala Maha mengabulkan doa selama tidak ada sesuatu pun yang menghalangnya. Dari ‘Abdullah bin ‘Amr Radhiyallahu ‘anhu bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

ادْعُوا اللَّهَ وَاَنْتُمْ مُوقِنُونَ بِاْللإِجَاَبَةِ وَاعْلَمُواأَنَّ اللَّهَ لاَيَسْتَجِيبُ دُعَاءً مِنْ قَلْبٍ غَافِلٍ لاَهٍ

”Berdoalah kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dan kalian yakin (akan) dikabulkan, sesungguhnya Allah tidak mengabulkan doa (seorang hamba) yang hatinya alpa serta lalai “. (Shahîh Sunan Tirmidzi 2766, al-Mustadrak 1817 keduanya dari hadits Abu Hurairah , lihat Silsilah Shahîhah no: 594)
Share:

KHAUF

Maksud pembahasan ini adalah Khauf dalam perspektif al-Qur’an. Hal ini berkaitan dengan penggunaan kata takut dalam al-Qur’an dengan menggunakan sekurang-kurangnya tiga kata, yakni taqwa, khauf dan khasyyah. Di mana ketiganya mengandung arti yang sama tapi dengan pengertian berbeda.

Khauf kalau diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia berarti “takut”. Pada dasarnya khauf hampir sama dengan taqwa dan khasyysah, yakni perasaan takut kepada Allah saw. yang dibuktikan dengan perbuatan-perbuatan ibadiyah untuk mendapatkan ridhaNya. Hanya saja, khauf sifatnya cendrung tendensius, manusiawi dan awam.

Tendensius; artinya melakukan rutinitas ibadah tetapi dibalik itu tersimpan harapan terselubung. Semisal melaksanakan shalat, pada dasarnya hukum shalat itu wajib dilakukan dengan ikhlas karena Allah, akan tetapi boleh saja melaksanakan shalat karena takut akan siksa Allah[1]. Menikah adalah ibadah dan merupakan sunnah Nabi, namun boleh saja menikah karena hawa nafsu yang sedang membara dan karena kecantikan. Tersenyum adalah bagian dari shadaqah (ibadah), namun boleh saja kita tersenyum karena kita ingin orang-orang sekitar kita senang bergaul dengan kita. Menolong tetangga juga bagian dari shadaqah, namun kita juga diperbolehkan menolong karena ingin agar suatu saat kita juga ditolong oleh tetangga kita (al-Syu’ara: 12) dan sebagainya. Dan inilah ruang lingkup khauf.

Manusiawi; bahwa konsep khauf ini bersinggungan langsung dengan segala aktifitas kehidupan manusia sehari-hari. Sebagaimana diketahui di era globalisasi seperti sekarang, di mana masyarakatnya lebih cendrung pragmatis-realistik serta hedonis-kapitalistik. Maka tak ayal, bermunculanlah trend-trend modern sekalipun hal itu brhubungan dengan unsur-unsur agama. Seperti, massifnya mode-mode jilbob’s, Miss muslimah, Ustadz gaul dan hal-hal lain yang berbau syari’ah, semisal Bank syari’ah, Hotel syari’ah dll, walaupun kadang-kadang itu dilakukan karena tujuan branding dan pasar. Nah, dalam konteks inilah khauf itu digambarkan dalam al-Qur’an. Tidak berarti penulis ingin mengatakan bahwa kasus-kasus di atas tertera di dalam al-Qur’an, namun yang hendak ditegaskan oleh penulis adalah bahwa konsep khauf oleh al-Qur’an adalah hal-hal yang berkaitan dengan segala aktivitas manusia:

a. Poligami.

وَإِنْ خِفْتُمْ أَلا تُقْسِطُوا فِي الْيَتَامَى فَانْكِحُوا مَا طَابَ لَكُمْ مِنَ النِّسَاءِ مَثْنَى

Dan jika kalian takut tidak akan dapat berlaku adil terhadap (hak-hak) perempuan yang yatim (bilamana kalian mengawininya), maka kawinilah wanita-wanita (lain) yang kalian senangi dua.
(An-Nisa: 3)

b.   Memukulkan Tongkat.

وَأَلْقِ عَصَاكَ فَلَمَّا رَآهَا تَهْتَزُّ كَأَنَّهَا جَانٌّ وَلَّى مُدْبِرًا وَلَمْ يُعَقِّبْ يَا مُوسَى لَا تَخَفْ إِنِّي لَا يَخَافُ لَدَيَّ الْمُرْسَلُونَ

dan lemparkanlah tongkatmu.” Maka tatkala (tongkat itu menjadi ular dan) Musa melihatnya bergerak-gerak seperti seekor ular yang gesit, larilah ia berbalik ke belakang tanpa menoleh.” Hai Musa, janganlah kamu takut. Sesungguhnya orang yang dijadikan, rasul, tidak takut di hadapan-Ku; (Al-Naml: )

c.   Melihat Tangan.

فَلَمَّا رَأَى أَيْدِيَهُمْ لَا تَصِلُ إِلَيْهِ نَكِرَهُمْ وَأَوْجَسَ مِنْهُمْ خِيفَةً قَالُوا لَا تَخَفْ إِنَّا أُرْسِلْنَا إِلَى قَوْمِ لُوطٍ

Maka tatkala dilihatnya tangan mereka tidak menjamahnya, Ibrahim memandang aneh perbuatan mereka dan merasa takut kepada mereka. Malaikat itu berkata, "Janganlah kamu takut, sesungguhnya kami adalah (malaikat-malaikat) yang diutus kepada kaum Lut. (Hud: 70)

d.    Menempatkan di sebuah Negeri.

وَلَنُسْكِنَنَّكُمُ الأرْضَ مِنْ بَعْدِهِمْ ذَلِكَ لِمَنْ خَافَ مَقَامِي وَخَافَ وَعِيدِ

dan Kami pasti akan menempatkan kalian di negeri-negeri itu sesudah mereka. Yang demikian itu (adalah untuk) orang-orang yang takut (akan menghadap) ke hadirat-Ku dan yang takut kepada ancaman-Ku. (Ibrahim: 14)

e.   Mengucap Salam.

فَأَوْجَسَ مِنْهُمْ خِيفَةً قَالُوا لَا تَخَفْ وَبَشَّرُوهُ بِغُلامٍ عَلِيمٍ

Sudahkah sampai kepadamu (Muhammad) cerita tentang tamu Ibrahim (malaikat-malaikat) yang dimuliakan? (Ingatlah) ketika mereka masuk ke tempatnya, lalu mengucapkan, "Salaman.” Ibrahim menjawab, "Salamun, " (kamu) adalah orang-orang yang tidak dikenal. Maka dia pergi dengan diam-diam menemui keluarganya, kemudian dibawanya daging anak sapi gemuk (yang dibakar), lalu dihidangkannya kepada mereka. Ibrahim berkata, "Silakan kamu makan.” (Tetapi mereka tidak mau makan), karena itu Ibrahim merasa takut terhadap mereka. Mereka berkata, "Janganlah kamu takut," dan mereka memberi kabar gembira kepadanya dengan (kelahiran) seorang anak yang alim (Ishaq). Kemudian istrinya datang memekik (tercengang), lalu menepuk mukanya sendiri seraya berkata, "(Aku adalah) seorang perempuan tua yang mandul.” Mereka menjawab, "Demikianlah Tuhanmu memfirmankan. Sesungguhnya Dialah Yang Mahabijaksana lagi Maha Mengetahui.
(Al-Dzirayat: 26-30).

f.    Berdoa.

وَلا تُفْسِدُوا فِي الأرْضِ بَعْدَ إِصْلاحِهَا وَادْعُوهُ خَوْفًا وَطَمَعًا إِنَّ رَحْمَةَ اللَّهِ قَرِيبٌ مِنَ الْمُحْسِنِينَ

Dan janganlah kalian membuat kerusakan di muka bumi, sesudah (Allah) memperbaikinya dan berdoalah kepada-Nya dengan rasa takut (tidak akan diterima) dan harapan (akan dikabulkan). Sesungguhnya rahmat Allah amat dekat kepada orang-orang yang berbuat baik.
(al-A’raf: 56)

g.  Berdzikir.

وَاذْكُرْ رَبَّكَ فِي نَفْسِكَ تَضَرُّعًا وَخِيفَةً وَدُونَ الْجَهْرِ مِنَ الْقَوْلِ بِالْغُدُوِّ وَالآصَالِ وَلا تَكُنْ مِنَ الْغَافِلِينَ

Dan berzikirlah dengan menyebut (nama) Tuhanmu dalam hatimu dengan merendahkan diri dan rasa takut, dan dengan tidak mengeraskan suara, di waktu pagi dan petang dan janganlah kamu termasuk orang-orang yang lalai. (Al-A’raf: 205)

h.   Dan sebagainya..................................................................................................................

Awam; dalam artian jika dibandingkan dengan term taqwa dan khasyyah, Sifat khauf ini termasuk pada bagian terendah dalam tingkatan ketakutan dan kehambaan kepada Allah. Sebab, hanya orang yang tingkat keislamannya rendah yang kemudian berfikir untung-rugi. Sebab, hanya orang-orang yang intelektualnya di bawah, yang selalu merasa kuwatir. Sebab, karena orang-orang itu sering merasa kurang hingga kadang mengabaikan masa lalu, masa sekarng dan masa depan.

Namun demikian, tidak berarti dengan sikap khauf tersebut kemudian segala yang dilakukan manusia akan sia-sia. Selama hal itu dilaksanakan karena takut kepada Allah yang agung, tidak bertentangan dengan apa yang diperintahkanNya (al-Nahl: 50) dan menahan hawa nafsu (al-Nahl: 40), maka insyaallah Allah akan membalasinya dengan pahala dan tempat yang layak di akhirat kelak. Allah berfirman;

وَلِمَنْ خَافَ مَقَامَ رَبِّهِ جَنَّتَانِ

Dan bagi orang yang takut akan saat menghadap Tuhannya ada dua surga. (al-Rahman: 46)

Menurut tafsir para Ulama sebagaimana terdapat dalam footnot al-Qur’an terjemahan DEPAG dijelaskan, bahwa ada dua pendapat dari ahli tafsir. Yang pertama: yang dimaksud dengan dua Surga pada ayat tersebut, bahwa disurga nanti akan ada beberapa tingkatan dan orang yang takut akan kedudukan TuhanNya akan mendapat dua tingkatan Surga sekaligus. Pendapat kedua: mengatakan bahwa orang yang takut akan kedudukan TuhanNya akan mendapat Surga dunia dan Surga Akhirat.

karena ketakutan orang-orang khauf adalah ketakutan yang pertimbangannya adalah al-Qur’an (Qof: 45). Sebab, ketakutan orang-orang khauf adalah ketakutan di mana dalam hatinya yang paling dalam termaktup pengakuan bahwa Tuhannya hanyalah Allah semata (al-Fusilat: 30). Jadi, ketika kita hendak melaksanakan sesuatu atau beribadah jangan dilihat hal itu kecil atau besar bagimu, tapi lakukanlah karena Allah. WAALLAHU A’LAM BI AL-SHAWAAB

 [1] قُلْ إِنِّي أَخَافُ إِنْ عَصَيْتُ رَبِّي عَذَابَ يَوْمٍ عَظِيمٍ

Katakanlah, "Sesungguhnya aku takut akan azab hari yang besar (hari kiamat) Jika aku mendurhakai Tuhanku. (al-An’am: 15)
Share:

Selasa, 09 Februari 2016

SESUNGGUHNYA HARAM ITU JELAS (إن الحلال بين)

Menghukumi haram akan sesuatu tentu hanya hak prioritas Allah semata. Manusia tidak boleh macam-macam tentangnya. Kalau pun terpaksa melakukan penghukum haram, maka harus dengan dasar yang jelas. Sebab, yang namanya haram itu sedah jelas,[1] jelas lafadz dan teksnya, jelas sifatnya, dan jelas dalil-dalilnya.[2] Sebagai mana firma-firman Allah saw berikut ini,

إِنَّمَا حَرَّمَ عَلَيْكُمُ الْمَيْتَةَ وَالدَّمَ وَلَحْمَ الْخِنْزِيرِ وَمَا أُهِلَّ بِهِ لِغَيْرِ اللَّهِ

 “Sesungguhnya Allah hanya mengharamkan bagimu bangkai, darah, daging babi dan binatang yang (ketika disembelih) disebut (nama) selain Allah.” (QS. Al-Baqarah: 173)

حُرِّمَتْ عَلَيْكُمُ الْمَيْتَةُ وَالدَّمُ وَلَحْمُ الْخِنْزِيرِ وَمَا أُهِلَّ لِغَيْرِ اللَّهِ بِهِ

“Diharamkan bagimu (memakan) bangkai, darah, daging babi, (daging hewan) yang disembelih atas nama selain Allah,” (QS. Al-Maidah: 3)

إِنَّمَا حَرَّمَ عَلَيْكُمُ الْمَيْتَةَ وَالدَّمَ وَلَحْمَ الْخِنْزِيرِ وَمَا أُهِلَّ لِغَيْرِ اللَّهِ بِهِ

“Sesungguhnya Allah hanya mengharamkan atasmu (memakan) bangkai, darah, daging babi dan apa yang disembelih dengan menyebut nama selain Allah;” (QS. Al-Nahk: 115)

Pada ketiga ayat tersebut di atas, lafadz keharamanya jelas, yakni pada lafadz حَرَّمَ عَلَيْكُمُ. Dan untuk konteks ayat seperti ini, maka ia bersifat qhat’i dan mutlak. Berbeda dengan ayat berikut ini;

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا لَا تَتَّخِذُوا الْيَهُودَ وَالنَّصَارَى أَوْلِيَاءَ بَعْضُهُمْ أَوْلِيَاءُ بَعْضٍ وَمَنْ يَتَوَلَّهُمْ مِنْكُمْ فَإِنَّهُ مِنْهُمْ إِنَّ اللَّهَ لَا يَهْدِي الْقَوْمَ الظَّالِمِينَ

"Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil orang-orang Yahudi dan Nasrani menjadi pemimpin-pemimpin(mu); sebahagian mereka adalah pemimpin bagi sebahagian yang lain. Barangsiapa diantara kamu mengambil mereka menjadi pemimpin, maka sesungguhnya orang itu termasuk golongan mereka. Sesungguhnya Allah tidak  memberi petunjuk kepada orang-orang yang dzalim (QS. Al-Maidah: 51)

Ayat ini, menjelaskan tentang larangan, bukan tentang haram. Hal itu, dapat dilihat dari redaksi lafadznya yang menggunakan la nahi (yang berarti larangan), pada lafadz لَا تَتَّخِذُوا الْيَهُودَ. Dan kaidah larangan dalam islam tidak bersifat mutlak.(realitas larangan, baca selengkapnya di sini) Ia bersifat kondisional-temporalistik, tergantung pada ada atau tidak adanya alasan yang mengitarinya dan pasti terjadi ikhtilaf tentangnya.

Oleh karenanya, meski MUI (Majlis Ulama Indonesia) pada tahun 2009 lalu telah mengharamkan rokok. Karena yang menjadi rujukan primer keharamnnya merupakan nash larangan, yaitu firmanNya.

وَلَا تُلْقُوا بِأَيْدِيكُمْ إِلَى التَّهْلُكَةِ

“Dan janganlah kamu menjatuhkan dirimu sendiri ke dalam kebinasaan“. (QS. Al Baqarah: 195).

Yang perlu diperhatikan dari ayat ini, pertama, ayat ini mengandung larangan dengan mengunakan la nahi, pada lafadz la tulquu (لَا تُلْقُوا) sebagaimana yang telah dijelaskan diawal, bahwa larangan itu bersifat situasional-kondisional. Kedua, pandangan term kebinasaan atau berbahaya (pada lafadz, التَّهْلُكَةِ) tentu sangat relatif, yang bahaya untuk sebagian orang tidak bererti juga berbahaya dan membinasakan bagi sebagian yang lain. Oleh Karena itu, tidak berlebihan kiranya ketika terjadi pro-kontra akan keharaman rokok tersebut.

"Rokok itu mubah, sampai kiamat ulama NU tidak akan mengharamkan rokok. Fatwa rokok haram yang dikeluarkan oleh MUI dan didukung kelompok anti tembakau ini penuh tendensius, mereka ingin mematikan keberlangsungan hidup petani tembakau kita," tegas staf Dewan Halal PBNU, Kiai Arwani Faisal, Selasa (Sebagai mana dikutip oleh tribunnews.com. 14/10/2014).

Terakhir, terkait terminologi haram ini. Kita harus berhati-hati dalam menghukumi atau melabeli akan sesuatu itu haram, Jika tidak menurut dalil yang jelas keharamannya. Atau berijtihadlah dengan sungguh-sungguh ketika hendak menjadikan larangan naik menjadi haram, sebab tidak semua larangan otomatis menjadi haram. Jangan sampai kita mengharamkan sesuatu yang tidak ada dalil haramnya, sebab hal itu tidak diperkenankan oleh Nabi. Beliau saw bersabda dalam hadits yang shohih,

إِنَّ أَعْظَمَ الْمُسْلِمِينَ جُرْمًا مَنْ سَأَلَ عَنْ شَىْءٍ لَمْ يُحَرَّمْ ، فَحُرِّمَ مِنْ أَجْلِ مَسْأَلَتِهِ

“Seorang muslim yang paling besar dosanya adalah orang yang ditanyakan tentang sesuatu yang tidak diharamkan lalu dia mengharamkannya karena sebab ditanya.” (HR. Bukhari no. 6859).

Sekali lagi, HARAM itu jelas, jelas hukum dan fadznya. Jadi mari kita mengaharamkan dengan dalil jelas. Allah berfirman;


وَقَدْ فَصَّلَ لَكُمْ مَا حَرَّمَ عَلَيْكُمْ

“Padahal sesungguhnya Allah telah menjelaskan kepada kamu apa yang diharamkan-Nya atasmu.” (QS. Al An’am [6] : 119)

Wallahu a’lam bi al-shawaab…


.[1]إن الحلال بين و الحرام بين

Dari Abu 'Abdillah An-Nu'man bin Basyir radhiallahu 'anhuma berkata,"Aku mendengar Rasulullah bersabda: “Sesungguhnya yang Halal itu jelas dan yang haram itu jelas.[Bukhari no. 52, Muslim no. 1599]

[2]. Dalam sunan, dari Salman Al Farisy secara marfu’ (sampai kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam) –ada pula yang mengatakannya mauquf (sampai pada sahabat) -, beliau berkata,

الْحَلاَلُ مَا أَحَلَّ اللَّهُ فِى كِتَابِهِ وَالْحَرَامُ مَا حَرَّمَ اللَّهُ فِى كِتَابِهِ وَمَا سَكَتَ عَنْهُ فَهُوَ مِمَّا عَفَا عَنْهُ

“Halal adalah sesuatu yang Allah halalkan dalam kitab-Nya dan haram adalah sesuatu yang Allah haramkan dalam kitab-Nya. Sedangkan sesuatu yang Allah diamkan adalah sesuatu yang dimaafkan.” (HR. Ibnu Majah no. 3367 dan Tirmidzi no. 5506. Syaikh Al Albani dalam Shohih wa Dho’if Sunan Ibnu Majah dan Shohih wa Dho’if Sunan Tirmidzi mengatakan hadits ini hasan)

Share:
TERIMA KASIH, DAN SELAMAT DATANG