السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ

بِسْــــــــــــــــــمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ

Senin, 10 April 2017

BERDOA DENGAN NAMA-NAMA ALLAH


وَلِلَّهِ الأسْمَاءُ الْحُسْنَى فَادْعُوهُ بِهَا

"Allah mempunyai asmaul husna, maka bermohonlah kepada-Nya dengan menyebut asmaul husna itu" (Q.S al-A'raf: 180)

Selain ayat ini mengisyaratkan akan kebesaran dan keagungan nama-nama Allah, karena dengannya berarti telah mengikrarkan keyakinan tauhid akan asma’ wa shifat-Nya. Juga petunjuk ayat ini merupakan anugrah dari Allah, karena mempermudah kita dalam melaksanakan salah satu aktifitas ibadah, yaitu doa[1]. Bayangkan, hanya dengan menyebut salah satu nama Allah saja, telah dikategorikan berdoa.

Salah seorang teman penulis yang sangat yakin sekali dengan ayat ini. Karena ayat ini dianggapnya petunjuk Allah yang paling simple tentang doa. Bahwa islam memang agama mudah dan menghendaki kemudahan bagi umtanya[2]. Bahwa manusia memang diciptakan untuk beribadah dan doa termasuk dalam bagiannya. Maka dia mengaplikasikan ayat ini, semisal dengan melihat tetangganya memiliki banyak rejeki, harta dan kekayaan yang cukup bahkan berlebih, maka dia menyebut-nyebut asma Allah “Ya Razzaq” dengan harapan Allah akan memberikan hal yang sama kepadanya. Ketika dia sedang bersama dengan ulama, orang-orang memiliki kecerdasan agama dan tawadlu’, maka dia ucapkan “Ya Rasyid” dengan harapan Allah juga menganugrahkan kecerdasan agama dan tawadlu’. Ketika dia memperhatikan sebuah keajaiban, maka dia katakan “Ya Mujiib” dengan kesadaran bahwa hal itu pasti datangnya dari dan karena kekuasaan Allah, dan semacamnya.

Sebailiknya, ketika dia menemukan orang-orang yang sombong, maka dia ucapkan “Ya Qawiyyu” atau “Ya Malik” artinya bahwa hanya Allah lah yang maha Kuat dan yang maha merajai segalanya, hanya Dia lah yang pantas sombong[3] dan tak butuh siapa-apapun. Sedangkan manusia itu lemah[4] dan butuh. Ketika mendapati orang-orang yang dengki dengan ketinggian ilmunya, maka dia katakan “Ya Aliim”, dengan kesadaran bahwa di atas orang alim ada yang lebih alim lagi[5]. Dan sebaginya, dengan kesadaran asma al-husna insyaallah akan membentuk jiwa yang bijak, penuh ketawadlu’an kepada Allah, tak terkecuali juga terhadap manusia. Sebab, orientasi asma’ al-husna seandainya disadari, meliputi segala aspek-aspek kehidupan keseharian manusia, tergantung bagaimana kita memuhabah diri serta merelevansikannya dengan nama-nama Allah  yang jumlahnya 99.
Dari Abu Hurairah r.a., disebutkan bahwa Rasulullah Saw. pernah bersabda:

"إِنَّ لِلَّهِ تِسْعًا وَتِسْعِينَ اسْمًا مِائَةٌ إِلَّا وَاحِدًا، مَنْ أَحْصَاهَا دَخَلَ الْجَنَّةَ، وَهُوَ وِتْرٌ يُحِبُّ الْوِتْرَ".

Sesungguhnya Allah mempunyai sembilan puluh sembilan nama, yaitu, seratus kurang satu. Barangsiapa yang dapat menghafalnya, masuk surga. Dia Maha Esa dan mencintai yang esa. (H.R Imam Muslim)

Makna “ahshaahaa” sebetulnya adalah “menghitunya.” Namun, terjemahan di atas selaras dengan hadist yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari[6].

Adapun bentuk asma’ al-husna adalah sebagaimana yang diriwayatkan oleh Imam Turmuzi telah di dalam kitab Jami'-nya, dari Al-Juzjani, dari Safwan ibnu Saleh, dari Al-Walid ibnu Muslim, dari Syu'aib, lalu ia menyebutkan hal yang semisal berikut sanadnya. Tetapi di dalam riwayat itu sesudah lafaz, "Menyukai yang esa," ditambahkan hal berikut, yaitu:


هُوَ اللَّهُ الَّذِي لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ الرَّحْمَنُ الرَّحِيمُ، الْمَلِكُ، الْقُدُّوسُ، السَّلَامُ، الْمُؤْمِنُ، الْمُهَيْمِنُ، الْعَزِيزُ، الْجَبَّارُ، الْمُتَكَبِّرُ، الْخَالِقُ، الْبَارِئُ، الْمُصَوِّرُ، الْغَفَّارُ، الْقَهَّارُ، الْوَهَّابُ، الرَّزَّاقُ، الْفَتَّاحُ، الْعَلِيمُ، الْقَابِضُ، الْبَاسِطُ، الْخَافِضُ، الرَّافِعُ، الْمُعِزُّ، الْمُذِلُّ، السَّمِيعُ، الْبَصِيرُ، الْحَكَمُ، الْعَدْلُ، اللَّطِيفُ، الْخَبِيرُ، الْحَلِيمُ، الْعَظِيمُ، الْغَفُورُ، الشَّكُورُ، الْعَلِيُّ، الْكَبِيرُ، الْحَفِيظُ، الْمَقِيتُ، الْحَسِيبُ، الْجَلِيلُ، الْكَرِيمُ، الرَّقِيبُ، الْمُجِيبُ، الْوَاسِعُ، الْحَكِيمُ، الْوَدُودُ، الْمَجِيدُ، الْبَاعِثُ، الشَّهِيدُ، الْحَقُّ، الْوَكِيلُ، الْقَوِيُّ، الْمَتِينُ، الْوَلِيُّ، الْحَمِيدُ، الْمُحْصِي، الْمُبْدِئُ، الْمُعِيدُ، الْمُحْيِي، الْمُمِيتُ، الْحَيُّ، الْقَيُّومُ، الْوَاجِدُ، الْمَاجِدُ، الْوَاحِدُ، الْأَحَدُ، الْفَرْدُ، الصَّمَدُ، الْقَادِرُ، الْمُقْتَدِرُ، الْمُقَدِّمُ، الْمُؤَخِّرُ، الْأَوَّلُ، الْآخِرُ، الظاهر، الْبَاطِنُ، الْوَالِي، الْمُتَعَالِي، الْبَرُّ، التَّوَّابُ، الْمُنْتَقِمُ، الْعَفُوُّ، الرَّءُوفُ، مَالِكُ الْمُلْكِ، ذُو الْجَلَالِ وَالْإِكْرَامِ، الْمُقْسِطُ، الْجَامِعُ، الْغَنِيُّ، الْمُغْنِي، الْمَانِعُ، الضَّارُّ، النَّافِعُ، النُّورُ، الْهَادِي، الْبَدِيعُ، الْبَاقِي، الْوَارِثُ، الرَّشِيدُ، الصَّبُورُ

Dialah Allah, Yang tidak ada Tuhan selain Dia, Yang Maha Pemurah, Maha Penyayang, Raja, Mahasuci, Mahasejahtera, Maha Mengaruniakan Keamanan. Maha Memelihara, Mahamulia, Mahakuasa, Mahaperkasa, Maha Memiliki Keagungan, Maha Pencipta, Maha Membentuk Rupa, Maha Pengampun, Maha-menang. Maha Pemberi Karunia, Maha Pemberi Rezeki, Maha Pemberi Keputusan, Maha Mengetahui, Maha Menyempitkan Rezeki, Maha Melapangkan Rezeki, Yang Merendahkan, Yang Mengangkat, Yang Memuliakan, Yang Menghinakan, Yang Maha Mendengar, Maha Melihat, Mahabijaksana, Mahaadil, Mahalembut, Maha-waspada, Maha Penyantun, Mahaagung, Maha Pengampun, Maha Mensyukuri, Mahatinggi, Mahabesar, Maha Memelihara, Maha Membalas, Maha Periksa, Mahaagung, Mahamulia, Maha Mengawasi, Maha Memperkenankan, Mahaluas, Mahabijaksana, Maha Mencintai, Mahaagung, Maha Membangkitkan, Maha Menyaksikan, Mahabenar, Maha Melindungi, Mahakuat, Mahateguh, Maha Menolong, Maha Terpuji, Maha Menghitung, Maha Memulai, Maha Mengembalikan, Yang Menghidupkan, Yang Mematikan, Yang Mahahidup Abadi, Yang Maha Berdikari, Yang Maha Pemurah, Yang Mahaagung, Yang Maha Esa, Yang Mahatunggal, Yang bergantung kepada-Nya segala sesuatu, Yang Mahakuasa, Yang Maha Berkuasa, Yang mendahulukan, Yang mengakhirkan. Yang Mahaawal, Yang Mahaakhir, Yang Mahanyata, Yang Maha Tersembunyi, Yang Maha Menolong, Yang Mahatinggi, Yang Mahabijak, Maha Pengampun, Maha Membalas, Maha Memaafkan, Maha Penyayang. Yang Mempunyai Kerajaan, Yang Mempunyai Keagungan dan Kemuliaan, Yang Mahaadil. Yang Maha Menghimpun, Yang Mahakaya, Yang Memberi Kekayaan, Yang Maha Mencegah, Yang Menimpakan Bahaya, Yang Memberi Manfaat. Yang Maha Bercahaya. Yang Maha Pemberi Petunjuk, Yang Maha Membuat, Yang Mahakekal, Yang Maha Mewaris, Yang Maha Memberi Petunjuk, Yang Mahasabar. (Imam Turmuzi mengatakan bahwa hadis ini garib).

Walau pun Ibnu Katsir rahimahullah berkata, bahwa asma’ al-husna tidak hanya terbatas 99 saja;

ثم ليعلم أن الأسماء الحسنى ليست منحصرة في التسعة والتسعين بدليل ما رواه الإمام أحمد في مسنده،

“Kemudian hendaklah diketahui bahwa al-asmaa’ul-husnaa tidak terbatas pada 99 nama berdasarkan dalil hadits yang diriwayatkan Ahmad dalam Musnad-nya” [Tafsiir Ibni Katsiir, 3/515].

Namun, sekali lagi yang terpenting dari segala pemaparan di atas adalah kesadaran asma’ al-husna yang senantiasa selalu bersinggungan dengan aktifitas keseharian manusia. Bahwa ketika kita hendak marah-marah, maka ingatlah jika Allah maha sabar (الْبَصِير), dengan begitu kita doakan dan dorong diri kita agar menjadi penyabar. Ketika muncul rasa iri, maka sadarilah terdapat doa-doa disitu atas nama-namaNya agar kita merasa tidak pantas serta menjauhinya. Atau ketika dalam keadaan putus asa, maka renungkanlah bahwa Allah itu adalah tempat mengadu (الْغَفُور) dan maha mendengar (السَّمِيعُ) sehingga kita senantisa terpacu serta kembali optimis, karena sebenarnya kita mempunyai Allah yang kasih sayangNya selalu dalam pada kita (الْوَدُود) dan sebaginya. Marilah kita selalu muhasabah diri, dalam doa-doa dengan asma’ al-husnanya Allah.

Wallahu a’lam bi al-Shawaab.


[1] «الدﱡعَاءُ هُوَ العِبَادَةُ»

“Do’a adalah ibadah”. (Hadits Shahih, Riwayat Ashhabus Sunan. Lihat Shahiihul jaami’ no. 3407)

[2] Dalam surat Al-Baqarah ayat 185 berikut ini:

يريد الله بكم اليسر ولايريد بكم العسر

Artinya: “Allah menghendaki kemudahan bagimu dan tiada menghendaki kesulitan” (QS. Al-Baqarah: 185)

Dalam satu hadis, beliau bersabda:

يسروا ولاتعسروا

Artinya: “Permudahlah, dan jangan kalian mempersulit” (HR. Bukhari)

[3] Dalam hadits Qudsi Allah berfirman:

التكبر ردائ فمن نزعنى فهو عدوى

"Sombong itu adalah selendangku barangsiapa yang berusaha mengambil dariku, maka berarti adalah musuhku."

[4] Nabi bersabda:

الانسان محل الخطاء والنسيان

“Manusia adalah tempatnya salah dan lupa”

Firman-Nya,

وَخُلِقَ الإِنسَانُ ضَعِيفاً

“Karena manusia diciptakan (bersifat) lemah.” (QS.An-Nisa’:28)

Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda :


كُلُّ ابْنِ آدَمَ خَطَّاءٌ وَخَيْرُ الْخَطَّائِينَ التَّوَّابُونَ

"Seluruh anak Adam berdosa, dan sebaik-baik orang yang berdosa adalah yang bertaubat" (HR Ibnu Maajah no 4241, dihasankan oleh Syaikh Al-Albani) 

Syaikh Al-Albani rahimahullah berkata :

كل إنسان يخطئ، ولا مجال [للبراءة] من الخطأ؛ لأن الله عز وجل حينما خلق ملائكة وخلق بشراً فقد قدر على هؤلاء البشر أن يخطئوا رغم أنوفهم... لا يمكن أن يتخلص، لماذا؟ لأنه إنسان ليس مَلَكاً

"Semua manusia bersalah, ia tidak bisa berlepas diri dari kesalahan, karena Allah tatkala menciptakan malaikat dan menciptakan manusia, maka Allah telah menggariskan terhadap manusia bahwasanya mereka bersalah, bagaimanapun juga…, seorang manusia tidak akan terlepaskan dari dosa, kenapa?, karena ia seorang manusia dan bukan malaikat" (Maussu'ah Al-Albaani fi al-'Aqiidah 2/156)

[5] وَفَوْقَ كُلِّ ذِي عِلْمٍ عَلِيمٌ

dan di atas tiap-tiap orang yang berpengetahuan itu ada lagi Yang Maha mengetahui (Q.S Yusuf: 76)

[6] مَنْ حَفِظَهَا دَخَلَ الْجَنَّةَ

“Barangsiapa yang menghapalnya, niscaya ia masuk surga” [Diriwayatkan oleh Al-Bukhari no. 6410 dan Muslim no. 2677, dari hadits Abu Hurairah radliyallaahu ‘anhu].
Share:

Minggu, 09 April 2017

HADITS LARANGAN (3); MINUM SAMBIL BERDIRI ATAU DUDUK

Hal lain yang menarik dari tema tentang larangan adalah persoalan minum berdiri. Banyak para ulama telah menghukumi minum sambil berdiri dengan makruh tanzih (bukan haram), sebagaimana disampaikan oleh Ibnu Hajar al-asqalany, Imam Nawawi, ‘Aunul Ma’bud, bahkan Al Maziri rahimahullah mengatakan bahwa Jumhur (mayoritas) ulama berpendapat boleh (minum sambil berdiri). Mufti Saudi Arabia di masa silam, Syaikh ‘Abdul ‘Aziz bin ‘Abdillah bin Baz rahimahullah mengatakan, tidaklah masalah makan dan minum sambil berdiri. Namun jika dilakukan sambil duduk, itu yang lebih utama (Walau pun tidak ada satu pun hadits yang menjelaskan bahwa hadits bahwa minum dengan duduk adalah lebih utama. Namun, ini ijtihad beliau).

Kembali ke persoalan pokok, yakni tentang larangan. Inilah bunyi hadits, Nabi melarang minum dalam posisi berdiri, Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

لاَ يَشْرَبَنَّ أَحَدٌ مِنْكُمْ قَائِمًا فَمَنْ نَسِىَ فَلْيَسْتَقِئْ

“Janganlah sekali-kali salah seorang di antara kalian minum sambil berdiri. Apabila dia lupa maka hendaknya dia muntahkan.” (HR. Muslim no. 2026)

Bahkan dalam hadits ini, adanya larangan dengan menggunakan nun taukid tsaqilah, artinya larangan tersebut memang tidak main-main. Maka wajar hadits tersebut menyebutkan konsekwensi atau resiko jika telah terlanjur melakukannya, yaitu dengan memuntahkan sekalipun dalam keadaan lupa atau tidak sengaja melakukannya.

Dalam hadits lain, Dari Anas radhiyallahu ‘anhu pula, ia berkata,

عَنِ النَّبِىِّ -صلى الله عليه وسلم- أَنَّهُ نَهَى أَنْ يَشْرَبَ الرَّجُلُ قَائِمًا

“Dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam di mana beliau melarang seseorang minum sambil berdiri.” Qotadah berkata bahwa mereka kala itu bertanya (pada Anas), “Bagaimana dengan makan (sambil berdiri)?” Anas menjawab, “Itu lebih parah dan lebih jelek.” (HR. Muslim no. 2024). 

Dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, ia berkata,

أَنَّ النَّبِىَّ -صلى الله عليه وسلم- زَجَرَ عَنِ الشُّرْبِ قَائِمًا

“Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sungguh melarang dari minum sambil berdiri.” (HR. Muslim no. 2024).

Begitulah kira-kira larangan (hadits pertama menggunakanنافى  لا, yg kedua menggunakan lafadz نَهَى dan yang ketiga dengan lafadz زَجَرَ) Nabi minum dengan berdiri, dengan lugas dan tegasnya. Akan tetapi, terdapat juga hadits shahih yang menjelaskan bahwa Nabi pernah minum dengan posisi berdiri,

Ibnu ‘Abbas radhiyallahu anhuma berkata,

سَقَيْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مِنْ زَمْزَمَ فَشَرِبَ قَائِمًا

“Aku memberi minum kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dari air zam-zam, lalu beliau minum sambil berdiri.” (HR. Bukhari no. 1637 dan Muslim no. 2027)

Dari Ibnu ‘Umar radhiyallahu anhuma, ia berkata,

كُنَّا نَأْكُلُ عَلَى عَهْدِ رَسُولِ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- وَنَحْنُ نَمْشِى وَنَشْرَبُ وَنَحْنُ قِيَامٌ

“Kami dahulu pernah makan di masa Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam- sambil berjalan dan kami minum sambil berdiri.” (HR. Tirmidzi no. 1880 dan Ibnu Majah no. 3301. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih). Dalil ini bahkan menyatakan makan sambil berjalan.

Dari ‘Amr bin Syu’aib, dari ayahnya, dari kakeknya, ia berkata,

رَأَيْتُ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- يَشْرَبُ قَائِمًا وَقَاعِدًا

“Aku pernah melihat Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam- minum sambil berdiri, begitu pula pernah dalam keadaan duduk.” (HR. Tirmidzi no. 1883 dan beliau mengatakan hadits ini hasan shahih)

Penulis tidak ingin masuk pada alasan atau illat kenapa Nabi sangat melarang tapi juga pernah melakukannya? Hanya saja, sekali lagi bahwa larangan dari Nabi tidak serta merta menunjukkan ketidak-bolehan secara mutlak, namun ada kondisi dan kasus-kasus tertentu yang menyertainya yang mesti diperhatikan secara seksama.

Wallahu a’lam bi al-Shawaab.
Share:

Kamis, 06 April 2017

Al-Ghazali; HIKMAH PERGAULAN

Siapa saja yang sering duduk (berkumpul) bersama 8 kelompok manusia, maka Allah akan memberinya 8 perkara :

١. من جلس مع الأغنياء زاده الله حب الدنيا والرغبة فيها

Barangsiapa yang sering duduk bersama orang-orang kaya, Allah akan menambahkan kepadanya cinta dunia & semangat untuk mendapatkan dunia.

٢. ومن جلس مع الفقراء زاده الله الشكر والرضا بقسمة الله تعالى

Barangsiapa yang sering duduk bersama orang-orang miskin, Allah akan menambahkan kepadanya perasaan syukur & ridha atas bembagian Allah.

٣. ومن جلس مع السلطان زاده الله الكبر وقساوة القلب

Barangsiapa yang sering duduk dengan para pemimpin/raja (Pejabat), Allah akan menambahkan kepadanya perasaan sombong & keras hati.

٤. ومن جلس مع النساء زاده الله الجهل والشهوة

Barangsiapa yang sering duduk dengan perempuan, Allah akan menambahkan kepadanya kebodohan & syahwat.

٥. ومن جلس مع الصبيان زاده الله اللهو والمزاح

Barangsiapa yang sering duduk dengan anak-anak kecil, Allah akan menambahkan kepadanya lalai &senda gurau.

٦. ومن جلس مع الفساق زاده الله الجرأة على الذنوب والمعاصي والإقدام عليها، والتسويف في التوبة

Barangsiapa yg sering duduk dengan orang-orang fasik (gemar bermaksiat), Allah akan menambahkan kepadanya keberanian berbuat dosa & kemaksiatan, serta semangat untuk berbuat maksiat, kemudian menunda-nunda akan taubat.

٧. ومن جلس مع الصالحين زاده الله الرغبة في الطاعات

Barangsiapa yang sering duduk dengan orang-orang yang soleh, Allah akan menambahkan kepadanya kegemaran dalam amalan-amalan ketaatan.

٨. ومن جلس مع العلماء زاده العلم والورع

Barangsiapa yang sering duduk dengan para ulama' , Allah akan menambahkan kepadanya ilmu & sikap waro (sangat berhati-hati dalam mengambil harta dunia)

(Dalam kitab; Tanbiihul Ghaafilin)
Share:

الثَّقَلانِ

Lafadz ini terdapat dalam ayat al-Qur’an surat al-Rahman:

سَنَفْرُغُ لَكُمْ أَيُّهَا الثَّقَلانِ

Kami akan memperhatikan sepenuhnya kepadamu, hai dua hal yang memberatkan. (Q.S Al-Rahman: 31)

Yang dimaksud dengan saqalani sebagaimana dijelaskan oleh Ibnu Katsir dalam kitab tafsirnya, ialah jin dan manusia, seperti pengertian yang disebutkan dalam hadis sahih (yang menceritakan jeritan orang yang mengalami siksa kubur):

"يَسْمَعُهَا كُلُّ شَيْءٍ إِلَّا الثَّقَلَيْنِ"

"terdengar oleh segala sesuatu kecuali oleh saqlain."

Menurut riwayat yang lain disebutkan, 

"إِلَّا الْجِنَّ وَالْإِنْسَ"

"Kecuali al-insu wal jinnu (manusia dan jin)."

 Dan di dalam riwayat yang lainnya lagi disebutkan,
 
الثَّقَلَانِ الْإِنْسُ وَالْجِنُّ"

"tsaqalani, yaitu manusia dan jin."
Share:

Selasa, 14 Maret 2017

KEBIJAKSANAAN SEORANG GURU SUFI

Seorang Guru Sufi ditanya tentang 2 keadaan manusia:

1. Manusia rajin sekali ibadahnya, namun sombong, angkuh dan selalu merasa suci.

2. Manusia yang sangat jarang ibadah, namun akhlaknya begitu mulia, rendah hati, santun, lembut dan cinta dengan sesama.

Lalu Sang Guru Sufi menjawab:

“Keduanya baik;”

Boleh jadi suatu saat si ahli ibadah yang sombong menemukan kesadaran tentang akhlaknya yang buruk dan dia bertaubat lalu ia akan menjadi pribadi yang baik lahir dan batinnya.

Dan yang kedua bisa jadi sebab kebaikan hati-nya, Allah akan menurunkan hidayah lalu ia menjadi ahli ibadah yang juga memiliki kebaikan lahir dan batin.

Kemudian orang tersebut bertanya lagi, “lalu siapa yang tidak baik kalau begitu…???”

Sang Guru Sufi menjawab:

“Yang tidak baik adalah kita, orang ketiga yang selalu mampu menilai orang lain, namun lalai dari menilai diri sendiri“.
Share:

JAHANNAMIYYUN


Dari ‘Imran bin Hushain radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

يَخْرُجُ قَوْمٌ مِنَ النَّارِ بِشَفَاعَةِ مُحَمَّدٍ – صلى الله عليه وسلم – فَيَدْخُلُونَ الْجَنَّةَ ، يُسَمَّوْنَ الْجَهَنَّمِيِّينَ

“Ada suatu kaum keluar dari neraka dengan Syafaat Muhammad -shallallahu ‘alaihi wa sallam-, lalu ia memasuki surga. Mereka disebut dengan Jahannamiyyin.” (HR. Bukhari, no. 6566)

Share:
TERIMA KASIH, DAN SELAMAT DATANG